Pemantik

Wacana kekacauan makna

Tinggal di tanah Jawa ini perlu adaptasi yang luar biasa. Menggunakan diksi Gua Elu butuh perenungan panjang, bertahun mencari akar kata, makna dan konteks ruang waktu yang tepat. Tak semudah menggunakan Aku Kau. Gila memang. Tapi ini memang terjadi untuk sebagian pendatang dari seberang pulau, menyesap ilmu di Negeri Jawa ini. Termasuk saya. Oh Tuhan.

Tapi yang lebih mengherankan semakin saya lama disini, kekacauan itu tak sebatas memaknai penggunaan Gua Elu. (Iya, sewaktu saya pertama kali mendengar seorang karib menggunakan term ini. Sungguh, dia seperti laiknya Raja jemawa memerintah pengawalnya mencari 1 liter susu kambing jantan 3 warna. Kurang ajar sekali) Terlebih dari itu, sekarang saya memaknai panggilan tertentu memiliki tendensi ke arah yang ganjil. Seperti:

Abang. Dahulu di pulau seberang jika dipanggil dengan ini bolehlah berbangga hati karena abang adalah penghormatan anak muda kepada seseorang yang lebih tua. Sekarang jika ada yang berkata,

“Bang, bang. Lagi kosong gak?”

Otak saya langsung bergerak ke beberapa referensi kata abang didalam sel-sel memori, mencari padanan yang tepat selama tinggal di Negeri Jawa ini:

Mula-mula menampilkan gambar supir angkot yang menyelendangkan haduk kecilnya di leher, bersiul-siul ceria menghitung uang yang didapat hari ini. Lalu gambar bergerak ke tukang ojek yang memakai jaket kulit hitam, menenteng helm, melambai-lambai, mencoba meyakinkan pejalan kaki naik ojek adalah pilihan bijak.

Nah jika dipanggil abang, otak saya biasanya bersiasat untuk menjawab dengan getir,

“Iya, mau diantar kemana???”

Mas. Jika saya dipanggil dengan ini. Lagi-lagi otak saya membongkar memori yang tepat untuk memaknai:

Tiba-tiba saja di kepala tergambar kisah beberapa tahun silam, seorang bujang melayu yang muntah-muntah karena menelan ikan mas yang dipanggang bersama-sama temannya. Belum matang. Amis bukan kepalang.

Nah itu dia jika dipanggil dengan mas, saya merasakan aroma amis luar biasa. Masih terasa di lidah. Alamak!

Akang. Entah mengapa kata ini menjelma menjadi seorang lelaki pemilik warung di sebelah indekost saya. Warung ini tempat saya biasanya membeli es teh manis dan mi rebus, goreng atau mirip-mirip dengan itu. Ya, saya biasanya memanggilnya akang, tanpa tahu nama dia siapa. Ada semacam kesepakatan kolektif dalam jarak radius 500 meter bahwa tak perlu tahu nama aslinya. Cukup panggil akang sahaja. Hingga ia menetapkan hati menasbihkan warungnya dengan nama: WARUNG AKANG.

Bagaimana bisa? Mungkin sebagian dari makhluk bertulang belakang kecewa dengan dunia yang semakin tak ramah memaknai kata. Hingga pilihan hanyalah menepuk kening dan menggeleng takzim. Tapi, Jika kata panggilan dianggap objek maka ijinkanlah datuk Foucault mendaulatkan perenungannya bahwa:

Objek didefinisikan melalui wacana. Melalui tahapan pemetaan permulaan kemunculannya, otoritas delimitasi, dan sistem yang mengikatnya hingga membentuk suatu kesatuan.

Hingga akhirnya satu kata penutup dari saya: Aduhai!

About these ads

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

6 thoughts on “Wacana kekacauan makna

  1. ada satu lagi yang belom kau tulis pik. bro..

    Posted by inal | 20 Oktober 2010, 5:28 AM
  2. kalo ‘kak’ netral pik?

    Posted by paticuuu | 30 Oktober 2010, 3:11 AM
  3. kalau boi? apa serasa anak kecil yang mendapat hadiah mobil-mobilan dari seorang bule? he

    Posted by rian | 16 Januari 2011, 1:41 AM

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: