Kadang apa yang dipikirkan manusia itu tidak terlalu mudah tuk dimaknai.
Lihat manusia di depan saya ini:
Terpongoh-pongoh ia menahan gumulan angin dalam tubuhnya.
Remuk redam tampangnya.
Hening ia sejenak meningkahi angin malam.
Sejurus kemudian.
Saya petuahkan sebuah obat masuk angin.
Simak kata-kata bersayap darinya:
“Tidak, terima kasih saya bukan dukun karena obat itu untuk dukun. Orang pintar minum tolak angin bukan…?”
Orang pintar = dukun!