Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Tentu tidak asing lagi siapa empunya puisi ini. Ya siapa lagi kalau bukan si binatang jalang : Chairil Anwar.
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922 dari pasangan Toeles dan Saleha. Umur 20 tahun pindah ke Jakarta ikut ibunya setelah bercerai dengan ayahnya.
Chairil Anwar pernah hidup di Medan, tetapi di mana letak rumahnya masih belum diketahui secara pasti. Hal inilah yang menjadi pertanyaan saya dari dulu dan mungkin saja menjadi pertanyaan saudara-saudara. Hingga, minggu sore kemarin saya terperanjat ketika membaca Kompas minggu di kolom sastra yang di tulis oleh Damiri Mahmud.
Ya, saya menemukan sebuah pencerahan, dimana tempat tinggal Chairil Anwar.
Oke saya mulai saja…
Seperti yang jamak diketahui bahwa seorang pujangga (saya lebih senang menyebutnya begini) tidak melulu menulis puisi tentang kehidupan sosial, dunia, ataupun di luar dari kehidupan pribadinya. Terlebih dari itu pujangga juga menulis puisi tentang kehidupan pribadinya. Begitupula dengan Chairil Anwar. Nah, dari puisinyalah menjadi petujuk untuk menemukan dimana rumahnya.
***********************
Petunjuk-petunjuk
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
(Bait I dan II sajak rumahku dalam Chairil Anwar, “Aku Ini Binatang Jalang”, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003)
Larik Kulari dari gedong lebar halaman menunjukkan bahwa rumah dia memiliki halaman yang luas. Sebuah rumah gedung dengan halaman luas pada jaman itu di Medan tentu bukan sembarang rumah. Bisa dibilang hanya bangsawan dan pegawai tinggi belanda saja yang memiliki rumah yang bagus. Juga, Chairil menyebut rumahnya dengan istilah gedong bukan rumah batu bukan pula gedung sebagaimana lazim disebut pada zaman itu. Orang Medan tau bahwa pada masa itu rumah gedong merujuk pada kompleks perumahan Pamong Praja Belanda di Jalan Gajah Mada. Mari kita cermati puisi berikutnya.
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya.
Langit bersih-cerah dan purnama raya..
Sudah itu tempatku tak tentu dimana
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi..!?
(Perhitungan dalam Chairil Anwar, “Aku Ini Binatang Jalang”, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003)
Larik Satu rumah kecil putih dengan pastilah menunjukkan kebagusan rumahnya. Ditambah lagi lampu merah muda caya. Dapat dikatakan rumah chairil memakai penerangan listrik. Listrik pada zaman itu tentu suatu kemewahan dan hanya terdapat pada rumah-rumah orang tertentu saja. Hal ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan kebanyakan rumah orang Medan pada zaman itu: rumah papan atau tepas yang beratapkan nipah atau rumbia dengan penerangan lampu teplok ataupun lampu petromaks.
******************

Sebuah Kontradiksi
Semua petunjuk mengarahkan bahwa rumah Chairil di Medan dulu adalah rumah gedong pamong praja di jalan Gajah Mada. Selesai? Oh sayang sekali tidak. Suasana eksklusif itu bertolak belakang jika kita baca pengakuan Sjamsul Ridwan, seorang sahabat masa kecil Chairil:
“Pantang dikalahkan itulah kira-kira kesimpulan yang saya dapatkan dari kehidupan masa kanak-kanak chairil semenjak kecil hingga beranjak dewasa…
“Dan yang lebih menarik hati lagi, althans bagi kami yang mengenal kehidupan rumah tangga mereka, ialah cara hidup kedua suami istri yang penuh percideraan rumah tangga. Kadang-kadang dua orang suami istri dapat demikian lamanya, bertahun-tahun dengan permusuhan terus menerus..
…Di tengah-tengah api percederaan dan pertengkaran itulah Chairil dibesarkan”
“Kalau Chairil berkelahi, maka bapaknya selalu membenarkan Chairil. Kalau perlu bapaknya juga ikut berkelahi…”
(Arief Budiman, “ Chairil anwar sebuah pertemuan”, pustaka jaya, 1976)
Berbeda sekali Suasana yang dilukiskan oleh kawan dekatnya itu dengan suasana kompleks rumah gedongan. Terlebih lagi kurang masuk akal di “kompleks orang-orang berpangkat itu” setiap saat kedua orang tuanya perang mulut hingga teman Chairil samapai hapal. Pun yang paling muskil adalah ketika Chairil berbuat onar, bapaknnya ikut juga berkelahi. Alamak!! Pemandangan ini tentulah lebih tepat di perkampungan rakyat biasa.
Teman Damiri Mahmud (pakcik inilah yg menulis artikel di kolom sastra kompas), Aldian Aripin, mengatakan bahwa diawal-awal tahun enam puluhan selalu diadakan peringatan tentang Chairil. Panitia acara selalu menjemput ibu Charil yang tinggal di Jalan Singamaharaja di sekitar Masjid Raya.
Jika dugaan bahwa sekembali dari Jakarta ibun Chairil kembali menempati rumah lamanya benar. Tepatlah pernyataan Aldian Aripin dengan suasana yang digambarkankan oleh kawan dekat Chairil.
Hal ini juga diperkuat dengan puisi-puisi dan sajak Chairil menunjukkan bahwa ia akrab dengan orang-orang Melayu yang campur baur di perkampungan itu. Lihat saja puisinnya yang penuh dengan suasana diksi dan idiom khas melayu. Coba tengok larik Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi..!. Hambus itu kata kasar yang berarti pergi, minggat, biasanya kata ini sering diucapkan dengan nada membentak. Ya, sangat khas melayu.
******************
Konklusi?
Bah, cemana pula ini. Sebetulnya dimana rumah si binatang jalang ini?
Oke, perhatikan paragraf berikut dan inilah pencerahan dari pakcik Damiri Mahmud yang saya maksud :
“Chairil dibesarkan dan lahir di medan di sekitar masjid raya itu. Karena pasangan Toeles dan Saleha itu tak harmonis, mereka bercerai. Dan ayahnnya, Toeles, menikah lagi. Ibunya, Saleha, pindah ke Jakarta. Chairil ikut ayahnya menempati rumah pamong di “gedong lebar halaman” itu. Karena Toeles sangat mencintai Chairil, lagi pula ia adalah pegawai tinggi (di masa revolusi kemerdekaan dia menjadi bupati Indragiri), ayahnya memasukkan Chairil ke MULO di sekitar Jalan Abdullah Lubis.
Belakangan Chairil tidak cocok dengan ayahnya, lalu minggat ke Jakarta, menyusul ibunya, sebelum menamatkan MULO. Ayahnya menjemputnya, tapi Chairil menolak. Sehingga ayahnya yang temperamental itu berteriak, ‘Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi…!!”