Kau yang mulai, kau yang mengakhiri… (Cukup Sekali : Rhoma Irama)
Dua tahun yang lalu saya dan beberapa karib berwacana sebelum mengabadikan diri di selembar foto dengan orang tua sambil memegang toga: minimal sekali naik gunung untuk berkemah. Mewujudkan wacana berkemah menjadi semacam prihal mengasuh bayi tetangga, susah bukan kepalang. Hal ini disebabkan terlalu banyak pikiran, halangan dan kesibukan.
Hingga pada akhirnya sampai jua wacana itu di titik realisasi. Kami bersepakat pada hari senin untuk berangkat di hari jum’at berkemah di Cidahu, Kabupaten Sukabumi.
Setelah dialektika yang panjang dan seleksi alam yang ketat hanya tersisa 3 orang yang berangkat yang sebelumnya terdiri dari 11 orang kandidat.
Kandidat yang gugur dalam seleksi alam itu adalah:
Tinggal di tanah Jawa ini perlu adaptasi yang luar biasa. Menggunakan diksi Gua Elu butuh perenungan panjang, bertahun mencari akar kata, makna dan konteks ruang waktu yang tepat. Tak semudah menggunakan Aku Kau. Gila memang. Tapi ini memang terjadi untuk sebagian pendatang dari seberang pulau, menyesap ilmu di Negeri Jawa ini. Termasuk saya. Oh Tuhan.
Tapi yang lebih mengherankan semakin saya lama disini, kekacauan itu tak sebatas memaknai penggunaan Gua Elu. (Iya, sewaktu saya pertama kali mendengar seorang karib menggunakan term ini. Sungguh, dia seperti laiknya Raja jemawa memerintah pengawalnya mencari 1 liter susu kambing jantan 3 warna. Kurang ajar sekali) Terlebih dari itu, sekarang saya memaknai panggilan tertentu memiliki tendensi ke arah yang ganjil. Seperti: Continue reading