I
Terlalu banyak yang kita lewatkan
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..
Merangkak, berdiri, berlari, lalu jatuh
merangkak, berdiri, berlari lalu jatuh lagi,
semua berjalan dinamis hingga pada satu titik bertolak statis .
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..
Aku bukan kertas putih yg kalis terhadap warna-warna asing
bukan jua untaian kata yg tertata dalam lirik-lirik indah, taksil ku
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda ..
kau bilang jangan mati, pun dia mengisayaratkan hal yg sama
tapi lancung kemudian semuanya kuacuhkan..
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..
II
Bukan, bukan, bukannya
mengelak hanya saja
aku tak ingin berlama-lama hidup didunia.
apalah, hanya bertambah usia tanpa makna..
Aku bukanlah seorang pelancong yg lupa asalnya
bukan pula pencundang yg hanya bisa menatap nanar nasibnya,
ketahuilah bukan, bukanlah seperti itu..
Tapi kau dan dia boleh menuduh hal yang sama.
boleh, tak perlu berbantahan untuk hal itu.
Cukup sebuah dialektika: silahkan, kan kutelan dengan nyaman…
III
Sebuah langkah-langkah kecil menjemput detik-detik kehidupan (atawa kematian?)
Seiring menafsirakan segala: Ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..