archives

dwilogi padang bulan

This tag is associated with 2 posts

Ejawantah ayah

Saya pikir setiap lelaki di dunia yang masih berniat menjadi lelaki, sedurjana-durjananya punya keinginan menjadi seorang ayah. Ya, ayah. Termasuk saya, walaupun saya berencana untuk tetap membujang. Continue reading »

Galau…

…Sepanjang perjalanan kulihat jamur gibba bersemi, namun tak cantik seperti biasanya karena mereka cemburu pada keladi-keladi induk semangnya sendiri.

Andraeanum tetangga-tetangga gibba itu, yang mestinya harum, merebakkan dengki pada simbiosis-simbiosisnya.

Trifolia cemburu pada bunga Desember. Capung cemburu pada kumbang. Danau ingin ditinggalkan sendiri. Awan bercerai-berai. Langit curiga pada angin dan angin membenci gunung. Alam penuh angkara murka.

Setelah dua jam bersepeda, aku sampai. Aku berbelok ke sebuah jalan di seberang bioskop lama. Nun di Ujung sana, di pojok, tampak sebuah toko. Seperti gambaran detektif M. Nur, itulah toko Zinar. Aku makin mengayuh. Emosi telah sampai ke ubun-ubun.

Menjelang toko itu, satu percakapan terbit di kepalaku:

“Na! Saya adalah Ikal, saudara sudah mengambil pacar saya! Kembalikan!”

“Oh, maaf, maaf sekali, saya tak sengaja. Saya sangka A Ling taka ada yang punya, maaf ya, Pak.!”

“Ciat! Bak! Buk! Bak! Buk!”

“Ampun, Pak, takkan saya ulangi lagi.”

“Awas!”


Atau begini bagusnya:

Continue reading »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 397 pengikut lainnya.