Dramatisasi fragmen III
Akhirnya teman saya yang memiliki telepon genggam jenis buah-buahan, menjelaskan dia mendapat kabar bahwa ada kemungkinan kelasnya dipindahkan karena tidak sanggup menampung lebih dari 50 orang. Ia memperoleh informasi berharga ini dari temannya.
Analisis situasinya seperti ini:
Mata kuliah ini diikuti oleh 3 angkatan di jurusan saya. Angkatan saya hanya 3 orang yang mengambil: saya, V dan A. Pertemuan pertama hanya V yang datang, saya dan A tidak. Celakanya sekarang V tidak datang. Informasi terputus sampai disini.
Dilain pihak angkatan kedua teman saya ini, siapa-siapa saja yang mengambil mereka tak tahu bayak. Hal disebabkan mereka juga tiada hadir pada kuliah perdana. Kedua teman saya ini hanya mengetahui satu nama yaitu E. E-lah yang membocorkan informasi bahwa ada kemungkinan kelas dipindah. Lagi-lagi informasi terputus sampai disini karena dia tidak hadir hari ini. Alamak!
Analisis masalah:
Tak ada satupun dari kami bertiga yang tahu siapa lagi yang harus dihubungi untuk mengetahui kemana kelas mata kuliah ini dipindahkan. Informasi terputus.
Penyelesaian:
Merenung.
Benar kata orang bijak bahwa kita perlu menjernihkan pikiran dengan cara bermenung untuk mendapatkan pencerahan. Voila! Setelah bermenung beberapa saat, kami mendapat pencerahan bahwa solusi paling realistis untuk menyelesaikan hal ini adalah bertanya kepada departemen jurusan tempat kami kuliah. Tak lain tak bukan.
Bergerombol kita kesana dengan optimisme darah muda, penjunjung tinggi kalimat agung: harapan itu masih ada.
Sewaktu balita saya sering sekali mendengar kalimat bersayap:
Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.
Kalimat ini sering menggaung di sekitar saya tanpa saya pahami betul apa maknanya. Sampai suatu fragmen rutinitas kembar mengantarkan saya pada pemaknaan yang sangat dalam terhadap kalimat ini. Baiklah, jika saya tulis fragmen itu akan seperti ini:
Dramatisasi fragmen I
Mata memerah, menguap, deg-degaan adalah rangkain gambaran yang tepat menjelaskan saya pagi ini tepat pukul 07.30 WIB. Apa pasal? Begini, pagi ini adalah kuliah perdana setelah libur hari raya. Mata memerah dan menguap pertanda belum tidur sama sekali. Deg-degan disebabkan perasaan senang yang mencapai ubun-ubun. Persis bocah yang mengalami gangguan tidur akibat tak kuasa menahan hasrat untuk plesir bersama keluarga keesokan paginya. Begitulah kira-kira.
Pagi ini pukul 07.30 WIB saya duduk-duduk ini menikmati adegan yang sangat teatrikal:
-Desauan angin pagi hari.
-Aroma embun pagi yang melambai-lambai.
-Daun yang jatuh perlahan dari ranting pohon.
-Derap langkah mahasiswa yang sangat komunal.
-Goyangan ekor anjing dengan kecepatan konstan.
- dan terakhir kodok yang naas terinjak mas-mas durjana penyapu jalan.