Kutatap cermin yang kini mulai berkabut. Tak terlihat apa-apa hanya seberkas wajah yang tinggal sepenggal. Aku mulai mematut-matut mata yang menggelembung tak wajar, ada rintik kelam disitu. Menjadi aneh ketika aku mulai meraba-rabanya. Bukan-bukan, ini bukan kelam tapi lebam terlebih ada rasa nyeri yang melambat.
Tanganku kini mencari-cari sapu tangan yang sudah makin lembab untuk sekadar menyapu lebam itu. Nihil. Mata dan tangan kini sudah mulai bermusuhan, otak gagal mendamaikan keduanya. Mata ingin mengatup sedang tangan tetap tak peduli, tiada henti mencari-cari.
Kau tau sapu tangan itu kawan? Tentu saja tidak karena aku belum pernah bercerita tentang sapu tangan ini. Mungkin kau akan lebih mengerti jika ditulis seperti ini:
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Seperti tak berkesudahan, ritmik jarum jam tak pernah lelah saling berkejaran. Satu, sepuluh, lima belas, dua puluh hingga titik kultimasi enampuluh. Ia tetap meracau menuju garis 90 derajat dengan permukaan bumi, masih berkejaran hingga takdir menyudahinya: berkarat ataupun kehabisan energi.
Seolah tanpa kepayahan, mata tetap mengikuti gerakannya, bergerak penasaran ditimpali kalkulasi di derajat mana ia ditakdirkan untuk berhenti. Tapi semua tentu punya alasan yang rasional menterjemankan takdir ini. Menunggu enam bulan atau mungkin satu tahun. Sayang sungguh disayang, tidak untuk hari ini.
Sudahlah, ribuan detik menelisik jarum jam tiada hasil. Hanya meninggalkan jejak-jejak detak di kepala. Merayap-rayap tanpa ampun hingga semburat putih menyeruak seketika. Lagi.
***********
Aku melangkah sempoyongan menuju jamban di kamar ini, kantung kemihku telah penuh. Menarik-narik untuk segera dikosongkan. Rutinitas malam buta.
Pekerjaan yang paling menyedihkan adalah bermenung di jamban setelah berkali-kali membasuh wajah. Hingga mata yang menyipit kembali terbuka memerah lalu menyipit kembali. Lebih menyedihkan lagi terkantuk-kantuk di jamban menunggu perhitungan terakhir hingga penampung air terisi penuh.
Hingga satu waktu terdengar suara petikan gitar. Kutoleh menyilang. Ah, dia masih tersenyum hangat dengan petikan gitar akustiknya. Aku pura-pura menyipit namun ia memanggilku untuk mendekat. Baiklah-baiklah.