Secangkir teh hangat darimu cukup mengawali hari terindah dalam hidupku…”
(Kau kini ada: S07)
2 bulan lalu ditahun 2010 masehi.
Sebuah suara, “Saat ini sedang duduk di depan pintu, sendiri…”
Kutingkahi,“Ada apa?”
Ia menyahut, “Sudah lama tak berbincang…”
Sunyi, hanya bisa menguat-nguatkan diri agar tak gulita di siang hari.
Sambal
Tak mengada-ada, ini sungguh memikat. Sebuah rutinitas dalam keseharian mengagumi lumeran bawang merah, bawang putih, tomat cabe merah dan dibumbui sedikit garam beradu memamerkan serat-seratnya tapi harus rela bercamur karena gilasan batu ulekan. Terlebih lagi tangan yang begitu telaten memonopoli gerakan: berirama dalam tempo yang konstan. Terus menerus hingga ditutup dengan gerakan memutar. Tak ada yang berubah, yang berubah hanya batu gilasan yang semakin cekung kedalam, selebihnya aku tetap tertegun setia menikmati setiap detil proses ini.
Memandang tak akan sesempurna mencoba bukan? Baiklah. Sesaat tanpa sadar sebuah pekikan singkat, “Pedas!” sengatan aneh terasa di ujung-ujung lidah.
Tak pernah kusangka sesuatu yang kuanggap memikat terasa berbahaya jika terlalu gegabah memutuskan untuk selalu mencoba. Indah di mata belum tentu di lidah. Entahlah, itu yang kupikirkan saat ini.
Namun suara teduh itu seolah-olah menyejukkanku, “Tak ada yang salah dengan rasa pedas, boleh jadi hanya karena lidah kita saja yang belum siap untuk mencicipi…”
Sambil berujar ia menuangkan cairan unik, “Ini mungkin bisa mengurangi rasa pedas”
“Apa ini?” tak bisa disembunyikan mataku yang berbinar-binar menikmati tetesan cairan unik itu.
“Kecap”
Detik itulah aku mulai menyukai cairan itu, dimanapun, kapanpun hingga saat ini. Semua kesukaanku boleh berubah tapi tidak untuk cairan unik itu.
Hingga sampai hari ini tak ada yang biasa darinya, bahkan sambal dan kecap pun menjadi hal yang luar biasa bagiku. Apapun itu, hal yang bisa mengingatku terhadap dirinya begitu mengaharu-biru. Boleh jadi ini tentangku, dan tak bisa kudustai ini pun tentangnya. Kau tahu mengapa? Satu yang bisa kukatakan: