Mendekati akhir semester ganjil di tahun 2009
Semilir angin lamban-lamban menyapu setiap wajah yang kelelahan. Wajah-wajah kelelahan penerus bangsa ini. Harus diakui butuh energi untuk menghisap ilmu-ilmu yang berterbangan keluar dari buku ataupun mulut dewa-dewa itu. Jika tidak cekatan mengambilnya niscaya hanya tinggal simbol-simbol kosong yang melayang-layang tak berarti. Malas singgah di telinga manusia-manusia bebal.
Sore ini, saya hanya duduk terdiam, menikmati hilir-mudik manusia. Ehhhmm, melihat hilir mudik maunusia ini, tentu akan sempurna jika di diiringan lagu dari sang maestro, Rhoma Irama:
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
Aduhai begitulah para pujangga
Taman suram tanpa bunga
Ada yang dicinta giat bekerja
Entah apa entah siapa
Karena cinta jiwa gairah
Tanpa cinta hidup pun hampa
Ternyata amat utama adanya cinta
Hai begitulah kata para pujangga
Aduhai begitulah para pujangga
Tapi jangan cinta buta
Soal cinta soal kita
Cinta kebutuhan manusia
Siapa saja memerlukannya
Karena cinta punya daya
Ternyata amat utama adanya cinta
Hai begitulah kata para pujangga
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
Aduhai begitulah para pujangga*
Wow! Sungguh sensasi yang ditimbulkannya sangat pas, elok didengar. Eksotis dengan keadaan sekitar. Gela..gela..gela.
“Kau tau wanita itu?”
Sebuah suara menyapa begitu tiba-tiba.
“Heh?”
“Coba kau lihat tingkah lakunya. Sungguh rupawan bak tarian peri di malam hari..”
“Maksudnya?”
“Ah, susah dijelaskan. Karena ini bukan berbicara mengenai nalar bung tapi rasa..”
“Oke saya menyerah..”
Coba dengarkan:
- Ia masih menggamit tanganku, lembut dan mesra seperti kawan lama. Kami berjalan berlambat-lambat seperti tak pernah terburu dengan nafasku yang tinggal sepenggal. Aku tak begitu memperhatikan ceracaunya. Mungkin ia masih mencoba meyakinkanku seperti biasa. Aku tak bisa cukup mendengar dengan sakit yang menghujami punggungku. Ia menoleh sebentar ke arahku dan mulai mengusap pundakku dengan lembut. Ia tahu aku mulai tercekat demi melihat mukaku yang pucat. Sesak mulai berkuasa di rongga dadaku. Semua pemandangan terlihat kabur dan semakin kabur hingga memutih. Aku menggeram keras dengan tangan meremas dada kiri. Terlalu perih di sana. Kalaupun bisa, aku akan benamkan tanganku ke dalam dan sekalian merobek jantung. Bahkan aku yang sekarang terlalu lemah untuk sekedar berpikir hiperbol. Ini terlalu dekat. Terlalu kelam.**
“Ahahahahahahaha, dia lagi yang ingin kau ceritakan bung?”
Kau tau anak muda, vertebrata yang sedang berceracau di samping saya ini. Ya, lelaki yang tendensius ini, bisa menjadi seseorang yang luar biasa tendensius jika harus berhadapan dengan kaum hawa. Tak percaya lihat saja tingkahnya.
“Cinta tidak melulu harus murni, kadang harus terselip seni berpolitik..”
Nah, mengerti maksud ucapannya?
Sungguh mati saya tidak mengerti.
“Ah, kelelaki-lakian anda diragukan, sebelum mencintai seorang wanita..”
Ucapnya terkekeh tak tertahankan.
Cuih, tendensius sekali bukan.
“Boi. Jikalau mencintai wanita bisa kulakukan. Itu sudah lama kulakukan akan tetapi bukan urusan mencintai wanita yang saat ini penting tapi terlebih pada pertanggungjawabannya…”
Kena kau.
“Jika kau tau, ada seorang wanita yang boleh jadi wanita yang sangat aku cintai.. itupun jika menurut kau ini cinta boi..”
Fiuhh, cerita akan panjang. Semua memori masa lalu tentang wanita ini kembali meronta-ronta ingin ditumpahkan: Sebuah memori yang meingkar-lingkar, jalin-menjalin menjadi sebuah cerita yang utuh.
Ah, jarak dan waktu ternyata membuat ingatan akan hal ini makin pekat.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
*(http://www.4shared.com/file/74338819/c52457b3/Rhoma_Irama_-_Kata_Pujangga_.html?s=1)
**(http://aryasandy.wordpress.com/2009/08/30/skeptisis-agnostisis/)