Ibu, bolehkan aku bercerita banyak padamu. Seperti waktu dahulu, ketika aku masih senang berlarian di halaman depan rumah ini.
Ibu, bolehkah aku menumpahkan segala padamu. Seperti waktu yang terasa makin jauh, saat dahulu tanganku masih kuat memeluk erat tubuhmu.
Ibu, bolehkan aku memintamu mendengarkanku. Seperti waktu itu, ketika kucingku melahirkan tiga anaknya yang belang, ayamku beranak delapan dan bunga-bungaku mulai bermekaran.
Ibu, bolehkan aku memulainya tanpa menggunakan kalimat yang berulang-ulang selalu. Continue reading
Lagu sedih itu terus merintih tak berkesudahan. Nada minornya menyelinap di tumbukan buku-buku yang mulai jenuh dijamah terus menerus. Cengkoknya tak berhenti mengikuti irama degub jantung yang merana sedari tadi. Desauan violin yang melankolik meningkahi titik sentuh garis tenggat waktu. Continue reading
“I close my eyes and I can see a better day//I close my eyes and PRAY…”
(Justin Beiber: Pray)
Tuhan, aku menyangka tahu bahwa Engkau itu Maha Humoris.
Ehhmm, (karena) semua rencana hidupku yang telah kusampaikan sudah-sudah pasti Kau tertawakan.
Namun aku masih tetap meminta pada-Mu:
Jikalau skripsi ini tak memberikan kebermanfaatan banyak jika diselesaikan di paruh tahun pertama ini maka persulitlah ia, perpanjang hingga setahun penuh.
Jika tidak maka izinkanlah saya menunaikannya. Amin.
Ah sudahlah, Kau pasti menertawakannya jua…