Masa Muda Adalah Masa Yang Berapi-api

#1 Sebuah cerita tentang kejahatan bocah melayu

Kadang kala kita harus menjadi dewasa
untuk memahami sebuah ingatan tentang masa lalu.
(fatwaku dulu kepadanya yang menangis tersedu-sedu)
*****************************************************

Krek, kubuka pintu kamar indekost ini. Astaga ternyata bentuk kamar ini belum berubah: bantal tidak pada posisinya, sprei tergulung-gulung, buku berserakan, koran bertebaran dimana-mana dan bau kamar ini seperti biasa pengap . Yayaya.., tapi pagi aku lupa membereskannya karena terburu-terburu berangkat kuliah. Akan tetapi tidak mengapa, kamar berantakan menandakan penghuninya aktif dan masih hidup. Lagipula hari ini aku tidak sedang ingin berpusing-pusing dengan bentuk kamar karena aku sedang berbahagia. Liat saja wajahku yang merona merah disertai lengkungan senyum di wajah. Ganteng minta ampun seandainya saudara-saudara lihat tampangku saat ini, hahaha…

Apa pasal?

Bagaimana tidak, hari ini aku mempunyai buku baru. Layaknya bocah yang mendapat mainan baru, hal itulah yang sedang kurasakan sekarang. Ingin rasanya kucium dan kubelai buku ini.

Buku baru yang kumaksud adalah buku yang berjudul Media Effects: Advances In Theory And Research. Walaupun hasil fotokopian dari buku aslinya, namun tetap saja tampilan luar maupun dalam buku ini hampir 100% mendekati aslinya.

Kurogoh tas belel yang kini ada di sampingku dan kuambil buku itu. Mulailah kubolak-balik guna untuk berkenalan lebih jauh dengan buku ini.

Bagiku, buku adalah istri ke-3 setelah telepon genggam dan usb flasdisk. Jangan kaget, saat ini definisi istri bagiku adalah sesuatu yang bisa kupegang, kujamah dan kubawa kemana-mana dalam suka maupun duka serta bisa memberikan kepuasan lahir maupun batin tanpa protes darinya.

Yah mungkin saja beberapa waktu lagi definisi ini bisa berubah. Semoga saja. Amin.

Setelah lama membolak-balik istri ke-3 ku ini, mataku terfokus pada bab 9 yang berjudul the impact of sexually explicit media.

“Menarik” pekik hatiku.

Mulailah aku membaca, perlahan namun pasti. Belum genap kubaca 2 halaman, kurasakan kesemutan di perutku.

Alamak, penyakit kaum proletar ini belum minggat juga ternyata.

Cepat-cepat ku sambar handuk dan terbirit-birit jua aku menuju jamban dalam kamar ini.

Ya ampun, sudah 2 hari penyakit ini hinggap ditubuhku. Penyakit ini yang membuat rencanaku dalam 2 hari ini berantakan. Penyakit ini pula yang membuatku sempat menjadi seorang pembalas dendam selama setahun. Yah, kapan2 aku akan cerita.

Harus kuakui penyakit ini hinggap disebabkan akan kecerobohanku dan kerakusanku.

Ya, kerakusanku memakan tahu dengan cabe rawit.

tenang-tenang yang jadi masalah bukan tahunya tapi cabe rawitnya.

ingatanku berputar pada 2 hari yang lalu.

Saat itu pagi-pagi sebelum kuliah, aku belum sarapan dan kebetulan pula ada seorang teman yang berjualan di kelas. Langsung saja kubeli 2 tahu dan 15 cabe rawit. Gila, waktu itu aku sangat kalap untuk menghabiskan 15 biji cabe rawit.

Sampai-sampai seorang karib protes padaku, “Oi tong, lo beli tahu atau cebe rawit sih? Gila lo, gak kebagian gue nih!!!”

Ya, agaknya aku telah kualat pada temanku yang berjualan itu.

“Maafkan aku teman, lain kali aku tidak menjarah cabe rawit dari jualanmu, kupastikan lain kali aku akan membawa cabe rawit dari kost-an” kataku lirih pada dinding jamban.

Setelah puas melaksanakan pembersihan usus di jamban tercinta dan membersihkan tubuh. Kubuka laci guna mencari obat diare yang kubeli 2 hari yang lalu. Kuobrak- abrik laci rongsokan bertingkat ini dan akhirnya kutemukan obat itu disebelah amplop.

“eh, amplop apa ini?”

Karena penasaran kuambil amplop itu.

Kubuka amplop itu dan astaga.

copy-of-copy-of-masa-kecil4
Isinya ternyata foto-fotoku saat abangku dan aku ketika masa kecil dulu. Kunikmati betul foto itu dan tanpa kusadari aku melupakan obat diare yang ingin kuminum. Kini aku berenang dalam ingatan-ingatan pada masa kecil dulu. Dan aku teringat akan kisah itu. Yah, kisah itu. Kisah yang hampir merenggut nyawaku.

Baik. Jika cerita itu kutulis akan seperti ini:

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Minggu Pagi di tahun 1990-an.

rumputanDi lapangan rumput disalah satu kampung yang ada di Sumatra Utara, terlihat seorang bocah sedang berdiri sendirian. Jika dulihat dari dekat, wajahnya bulat, tubuhnya agak tambun, dengan rambut ikal seadanya. Dari tadi matanya awas dengan sekelilingnya. Menanti-nanti seseorang agaknya.

Namanya upik. Dia berjenis kelamin wanita? Tidak. Mungkin dari nama, orang akan menyangka dia wanita tapi percayalah dia bejenis kelamin lelaki. Nama itu adalah panggilan yang diberikan oleh ibunya. Dahulu ketika mengandung, ibunya berharap anak yang sedang dikandungnya adalah wanita karena anak pertamanya berjenis kelamin lelaki. Apa hendak dikata takdir berkata lain.

Sebagai bentuk pengharapan betapa ia menginginkan anak perempuan didaulatlah nama panggilan itu. Upik, dalam kosa kata bahasa bangsa melayu berarti si bungsu yang berjenis kelamin wanita. Sebetulnya ada satu nama lagi yang bersinonim dengan upik yaitu anggi.

Mengapa ibunya memilih memanggilnya dengan nama upik daripada anggi? Ya. Karena nama lengkap bocah itu adalah taufik akbar.

Taufik: ufik: upik.

Cukup cerdas ibunya menghubungkan antara nama taufik akbar dengan keinginan untuk mempunyai anak perempuan. Namun sepertinya ibunya harus berbahagia, bocah tersebut tidak pernah protes dengan panggilan itu karena menurutnya nama upik terkesan imut dan lucu.

Taufik akbar? Siapa dia? Yayaya, siapa lagi kalau bukan aku.

Oke, kembali ke awal cerita.

Aku masih berdiri ditempat ini. Menunggu beberapa karib untuk melaksanakan rencana yang belum pernah kulakukan. Tapi sialnya belum ada satu orangpun yang menunjukkan batang hidungnya. Lelah menunggu, kuperhatikan dengan seksama saringan santan jumbo si emak yang ‘kuamankan’ secara diam-diam.

Cukup menakutkan juga jika ketahuan olehnya. Dia jarang memukul jika marah, hanya mencubit. Satu hal yang membuatku angkat tangan padanya adalah merepet (omelan) yang membuat gendang telinga serasa mau pecah. Sudah beberapa kali dia murka kepadaku. Terakhir kali ia murka karena aku menghilangkan robot-robotan yang baru dibelikannya untukku. Biasanya eksekusi yang harus kuterima setelah mendapat omelannya yang sangat panjang adalah kurungan rumah. Menakutkan bagi anak yang aktif sepertiku jika mobilitasnya dibatasi.

Oleh karena itu dia jangan tau saringan santanya sedang kupakai, juga rencana hari ini bersama beberapa karib akan kulakukan tanpa izinnya. Tentu saja dia tidak boleh tahu, seandainya dia tahu bisa gagal rencana ini.

******************************************************************

Dari kejauhan terlihat seorang bocah kurus tinggi dan dekil semuringah memamerkan giginya yang jarang disikatnya itu.

Sambil melambaikan tangan ia bertanya, “Yang lain mano pik?”

“Bolum datang”, ujarku dengan tangan kulambaikan juga seolah tak mau kalah.

Dia salah seorang komplotanku, namanya irwansyah. Ia biasa dipanggil belacan. Belacan adalah terasi dalam bahasa melayu. Menurut suara-suara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ia mendapat gelar itu karena bau badannya yang mirip belacan. Berlebihan memang mereka. Namun harus kuakaui ia memang bau karena yang kutahu ia jarang mandi. Seandainya pun ia mandi aku bisa menjamin ia tidak menggunakan sabun. Entahlah aku kurang faham mengapa dia begitu. Mungkin ia salah satu pengikut sekte sesat yang ingin bersaing dengan kambing. kalu tidak salah sekte ini mempunyai falsafah “kambing saja yang tidak mandi mahal dijual, apalagi aku manusia”.

Setelah mengorek informasi dari saudara-saudaranya,aku mengerti ternyata bahwa badannya ternyata alergi terhadap sabun. ganjil memang ini bocah.

“ondul tak datang?” kejarku

“dio kelaut, esok baru balek” lagi-lagi ia memamerkan giginya yang sudah layak menandingi emas 24 karat .

Bocah dekil ini berasal dari keluarga melayu yang mencari nafkah dengan melaut. Walaupun masih kecil ia sudah sering ke laut bersama abangnya. Hal ini dilakukannya bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk membiayai sekolahnya dan membantu kebutuhan keluarganya juga.

dan Ondul yang sedang kami bicarakan adalah abangnya yang juga temanku. ondul adalah salah satu bocah melayu yang harus menghadapi kenyataan bahwa sekolah bukanlah tempat yang indah. Mungkin bagiku sekolah itu begitu indah dan luar biasa. Tetapi tidak baginya. mengapa?

karena dia sudah 3 tahun tidak naik kelas. sebetulnya dia adalah kakak kelasku. dan kini dia harus sabar karena adiknya yang lebih muda 3 tahun harus sekelasnya.

ondul ini memang agak lambat dalam belajar. tapi aku percaya dia jenius dalam bidang yang lain. seperti berkelahi ataupun memukul anak orang.

hidup memang kejam kawan.

“brarti kito tinggal ber-3 lah?” tanyaku was-was

“dan satu orang lagi kok bolum datang ya?”

“tak tahulah aku” jawabnya membela diri

yah aku sedikit was-was jika seorang lagi tak datang alamat rencana kami ini akan dibatalkan. Bukan karena dia paling hebat ataupun dia yang paling kuat tapi yang mengetahui jalan hanya dia seorang.

“klo dio tak datang, kito main layang-layang ajo yuk?” aku memberikan inisiatif.

“ah.., tak mau aku di kejar-kejar nek ipah lagi pakai parang”, ujarnya berpura-pura berlutut dikakiku memohon ampun.

“ah, pengecut kau..” ujarku sedikit kesal

“oi… udah lamo ya??” ujar seorang botak yang tiba-tiba keluar dari semak-semak.

cih, datang juga dia.

ya Allah, aku lupa bahwa dia punya penyakit sok misterius. sepertinya dia sudah tiba di sini sebelum aku datang dan bersembunyi di semak-semak.

Dia akan merasa bangga apabila menjadi orang yang ditunggu-tunggu.

tapi tidak mengapa yang penting rencana ini bisa berjalan dengan baik.

“ayo kita berangkat!!!” ujar si botak sok berkuasa.

hahahaha..,

petualangan, aku datang!!!!

ujarku berteriak dalam hati.

namun tanpa kami sadari seseorang sedang mengawasi kami dari balik semak-semak.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

One thought on “#1 Sebuah cerita tentang kejahatan bocah melayu

  1. haha… upik…
    udah d link tuh..

    Posted by zeanettee | 10 Mei 2009, 11:24 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: