Masa Muda Adalah Masa Yang Berapi-api

#2: Latar belakang

Telah kuterima suratmu nan lalu..
Penuh sanjungan kata merayu..
Syair dan pantun tersusun indah sayang..
Bagaikan sabda fatwa pujangga..

Kan kusimpan suratmu nan itu..
bak pusaka yang sangat bermutu..
walau kita tak pernah bersua sayang..
Cukup sudah tandamu sedia..

Tapi sayang..
Sayang..
Sayang..
seribu kali sayang..
Kemanakah risau ini kualamatkan..

Terimalah jawabanku ini..
hanyalah doa restu ilahi..
mogalah dikau tak putus asa sayang..
Pastikanlah kita kan berjumpa..

( fatwa pujangga)

******************************************************************

pohon-kelapa

Jika ada sesuatu yang aku inginkan saat ini adalah sebuah sumpalan mulut atau apapun yang bisa membuat si botak yang ada di sebelahku ini diam. Dari tadi dia terus berkicau menyanyikan lagu fatwa pujangga. Lagu yang menurutku amat bagus namun menjadi amat berantakan ketika keluar dari mulutnya. Jikalau lagu itu dia nyanyikan sekali saja, aku cukup sabar untuk mendengarnya. Tapi sepertinya dia kurang akal, seingatku sudah hampir sepuluh kali ia terus menerus menyanyikannya.

“Oi, pakcik. Tukarlah lagunyo?” pintaku memelas.

“Kau tau kemenakan (keponakan), lagu ini punya sejarah yang panjang denganku,” ujarnya mencoba-coba meminta simpatiku.

“Tentu saja aku tau, kau sudah berkali-kali menceritakannya kepadaku”

Aku melanjutkan, “Akan tetapi jika diulang-ulang, pokak (budeg) telinga ini pakcik”

“Lalu, lagu apalah yang harus kulantunkan?” tanyanya tak mau mengalah.

“Naik-naik ke puncak gunung saja, hahahaha..” jawabku tergelak.

Serentak kami tertawa bersama-sama. Termasuk si irwansyah yang tadi khusuk mendengar celotehan kami berdua .

Mungkin saudara-saudar heran mengapa kami tertawa.
Aku jelaskan. Bagi kami bangsa melayu yang tinggal di pesisir pantai, aneh rasanya jika harus menyanyikan lagu yang isinya hampir tidak bisa kami bayangkan. Lihat saja lirik lagu naik-naik kepuncak gunung secara keseluruhan.

Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara

Bisa kupastikan belun pernah dilihat dan dirasakan bagaimana bentuk puncak gunung dan pohon cemara oleh bocah-bocah melayu seperti kami. Mungkin kami akan senang bila liriknya diganti menjadi:

Naik-naik ke pohon kelapa
Ngeri-ngeri sekali
Kiri-kanan kulihat saja
nenek-nenek yang sedang mandi

Lagu bagi kami bukan sekedar bunyi-bunyian ganjil yang dihasilkan oleh getaran udara. Lebih dari itu, lagu bagi kami adalah salah satu (selain puisi, dongeng, barjanzi, pantun, dll) sarana sosialisasi falsafah kehidupan yang berisi ungkapan perasaan, harapan, cita-cita, sampai ajaran agama kepada generasi-generasi yang terus dilahirkan dari rahim ibu-ibu melayu. Jadi lagu naik-naik ke puncak gunung bagi kami tak lebih dari lagu orang-orang mabuk, ganjil, aneh, dan kapiran.

Yah, Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Menyedihkan, di sekolah kami lagu itu pula yang di ajarkan dan di agung-agungkan.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Sehari sebelumnya. Sabtu sore di tahun 1990-an

surga-si-botak

Jika dilihat rumah panggung ini biasa-biasa saja, memprihatinkan malah. Lihat saja atapnya. Bolong disana-sini. Jika hujan turun pasti banyak ember yang tersebar disini guna menampung air yang mengucur dari atas. Atau lihat saja kondisi lantainya yang apabila diinjak terlalu kuat akan berbunyi ‘krek’ berderet-deret bak orang yang buang angin berjama’ah. Tapi bagi si botak inilah surganya, surga dimana ia dilahirkan oleh ibunya dan dibesarkan oleh ayahnya. Tempat ia berlindung dari panas dan dinginnya dunia. Dan di tempat inilah kami bersembunyi dari amukan nek ipah dan parangnya.

Sekarang, di rumah ini kami sekarang sedang berkumpul merencanakan sesuatu.

“Jadi cemana enaknya ini besok?” sesesorang buka suara

“Main layang-layang saja. Masih penasaran aku,” ucapku mantap

“Permintaan dianulir,” jawab orang-orang yang ada di sini serentak.

“Ah, jangan membuat ulah lagi lah pik. Kemarin-kemarin itu aku di marahi sama bapakku dia bilang ‘janganlah kau ganggu orang yang sudah tua tak baik. Melanggar ajaran agama itu, ” lanjut si dekil melankolis.

“Terus kita mau apa besok?” tanyaku tak terima dipojokkan.

“Kalian tau ikan pelaga (ikan cupang)?” sebuah pertanyaan pembuka dari si botak.

Semua mengangguk

“Kalian pernah menangkapnya?”

Semua menggeleng.

“Kalian tau dimana menangkapnya?

Lagi-lagi semua menggelang saudara-saudara. Si botak semakin bersemangat dengan pertanyaan yang penuh intimidasi terhadap ketidaktahuan kami.

“Kalian tau bagaimana menangkapnya?”

Hening cipta dimulai, agaknya semua capek dengan menggeleng yang melegitimasi kepintaran si botak yang tak seberapa itu. Diam agaknya lebih baik.

“Nah, kuputuskan besok kita menangkap ikan pelaga,” sabdanya bak seorang raja.
Kami tidak bisa menolak. Apa boleh buat idenya sangat menarik, kami pikir jarang-jarang bisa membuat kejahatan seperti ini.

Dia mulai menjelaskan peralatan yang harus dibawa yaitu saringan santan dan plastik asoi (kresek) untuk tempat ikan pelaganya. Serta tempat yang harus kami tuju yaitu ladang yang harus melalui hutan. Menurutnya tempat tujuan kami cukup jauh dan dia berjanji jika sempat kami akan bermain-main ke pantai. Karena itu kami harus berangkat pagi-pagi.
Hal terpenting orang tua kami jangan sampai tau. Hal ini disebabkan tempat yang kami tuju bukanlah tempat yang aman bagi bocah-bocah seperti kami. Banyak makhluk buas yang berkeliaran disana. Seperti kucing hutan, harimau akar, ular sawah, babi hutan. Dan tempat seperti itu cukup angker. Banyak kejadian-kejadian ganjil pernah terjadi disana.

Agak melorot juga semangat kami mendengar penjelasannya tentang tempat itu.
Tapi bukan si botak namanya jika ia tidak memberikan petuah-petuahnya guna meyakinkan kami.

“Pada dasarnya binatang-binatang itu takut pada manusia. Jikalau kalian takut bisa kupastikan binatang itu akan semakin berani menyerang kalian. Sebaliknya jika kalian berani percayalah meraka tidak akan berani menyerang kalian.”

“Mengenai makhluk halus. Jika kita tidak menganggunya tentu saja dia tidak akan mengganggu kita. Mereka sebetulnya tidak mau membuat masalah dengan manusia jika menusia sendiri yang pertama kali membuat masalah.”

Dan sejak itulah kami mengangkat dia menjadi ketua dalam rencana ini. Bukan karena dia pintar tapi dia lebih tau medan yang kan kami hadapi. Dan sebagai teman kami ingin menghibur kesedihannya akan kehidupannya yang meremukan hati.
Agaknya harus kubuat cerita tersendiri tentang si botak ini.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

One thought on “#2: Latar belakang

  1. upik cerita lo bagus-bagus. enak dibaca. hehehe😀
    tapi yang cerita #1 kok nggak ada lanjutannya pik?
    ada yg mengawasi dari semak2, terus?

    Nya*

    Posted by the mighty bangs | 27 Maret 2009, 5:41 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: