Masa Muda Adalah Masa Yang Berapi-api

#3 Hewan dalam narasi

Mulai basmallah disusun kalam

Dengan nama Allah khaliqul alam

Alhamdulillah tersusun didalam diiringi salawat serta salam

Kepada nabi Muhammad syahidul an’am

Mahkota dunia junjungan alam

Syafa’atnya kita harapkan siang maupun malam


Mukul orang pakai daun pepaya

Akan lebih mantap kalau pakai batu

Sambutlah salam hangat dari saya

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatu(h)

(‘syair’ pembuka yang biasa kupakai jika ditumbalkan menjadi pembawa acara)

****************************************************

bagus-yaSeekor ikan pelaga berenang lincah ditengah rerumputan jarang dan pendek-pendek. ia meliuk-meliuk bak naga yang sedang terbang. Tubuhnya gagah nian, hitam pekat ditotoli warna-warna menyala dan tentu saja dasinya, dengan warna kebanggaan bangsa ini: merah putih.

Jangan kau bayangkan dia ikan pelaga yang sering dijual-jual. Bukan kawan. Ini jenis ikan pelaga yang murni untuk di lagakan bukan dipertontonkan dalam aquarium ataupun dalam toples kaca. Dia sedang mencari-cari tempat yang nyaman untuk kawin. Heloha, dia telah menemukannya.

Lihat saja dia telah mulai menghasilkan buih-buih putih diatas permukaan air untuk memancing sang betina. Baginya tempat yang nyaman untuk kawin adalah terlindung dari sengatan matahari. Disini tempat yang terlindung dari sengatan matahari adalah dalam buah kelapa kering yang berlobang bagian atasnya. Bagaimana proses berlobangnya bagian atas buah kelapa yang sedang ditempati si ikan pelaga. Begini kawan. Cerita ini terjadi 1 bulan sebelumnya dan akan terus-menerus terjadi selama keseimbangan alam itu masih terjaga.

*************************************************

Tempat yang sama satu bulan sebelumnya ditahun 1990-an

Dua orang manusia sedang berjalan dengan tergesa-gesa setengah berlari sedang memburu sesuatu.

Yang satu memiliki perawakan kurus. Wajahnya flamboyan ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian dagu belahnya. Serasi sangat dengan hidungnya yang tidak bisa dikatakan mancung tidakpula bisa dikatakan mancung kedalam, pesek kata orang-orang, mungkin sedang definisi yang tepat. Matanya teduh yang membuat orang ingin menumpahkan keluh-kesah padanya. Jika deskripsi ini dilanjutkan kesimpulan akan bermuara pada satu kata yaitu: tampan.

Satu orang yang lain memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan orang pertama hanya postur tubuhnya saja yang berbeda serta minus bulu-bulu diwajah. Dan ciri khasnya yaitu kepalanya yang botak. Baiklah kawan.

Dialah si botak beserta ayahnya.

“Ayo cepat, sebelum mereka pergi” Ujar si tampan.

Si botak mempercepat langkahnya mengimbangi langkah kaki si tampan.

Si tampan sepertinya sangat tergesa-gesa walaupun anaknya sudah kelelehan.

“Biar ayah gendong” Pinta si tampan masih sambil berjalan tergesa-gesa.

“Tidak, aku masih kuat” Tolak si botak merasa diremehkan kekuatannya.

eastern-gray-squirrel1Dilain pihak. ‘Mereka’ yang disebutkan si tampan sedang berlarian diatas pohon kelapa. Mencari buah kelapa yang bisa dijarah. Yap. Mereka berhenti pada pohon kelapa yang sedang berbuah lebat. Sekelompok hewan ini mulai membuat keributan. Berebut buah mana yang akan dilobangi guna mengambil daging kelapa untuk dikonsumsi. Hewan ini memiliki gigi depan yang kuat. Kau pikir dia melobangi sabut kelapa lalu melobangi batok kelapa pakai apa? Tentu saja dengan gigi depannya. Hebat sangat ini binatang.

Riuh rendah suara mereka saat berpesta menikmati buah kelapa. Namun tanpa mereka sadari 2 orang manusia sedang mengintai dalam jarak beberapa belasan meter di bawahnya.

“Dor!!!” suara tembakan mengagetkan sekelompok hewan ini. Satu ekor jatuh bersimbah darah terkena tembakan.

“Dor!!!” satu tembakan lagi menyapu udara. Nihil.

Sekelompok hewan ini bubar dalam pestanya. Takut menjadi korban berikutnya.

“Dor!!!” satu tembakan lagi.

Kali ini sukses membuat jatuh sebuah buah kelapa yang telah berlobang dan tandas isinya.

“Gedebuk” Buah kelapa itu jatuh diatas tanah dan bergulir pelan menuju genangan air disekitar pohon tersebut.

Sebulan lagi buah kepala yang jatuh itu akan kering dan jika musim hujan tiba disekitar pohon itu akan digenangi oleh air yang banyak. Disitulah biasanya ikan pelaga membuat sarang. Buah kelapa inilah yang sedang ditempati oleh ikan pelaga yang kita bicarakan.

***********************************************

Didalam buah kelapa ikan pelaga sudah hampir selesai membuat buih-buih, tinggal menunggu si betina datang. Biasanya setelah kawin si betina akan buru-buru pergi ketempat yang berbeda untuk bertelur dan beranak-pinak. Jika tidak si betina akan dipatuk dan dibunuh oleh pejantan. Kasihan si betina habis manis sepah dibuang.

Si ikan pelaga mondar-mandir didalam kediamannya. Gelisah menunggu si betina datang. Alamak, seperti manusia saja gelisah karena menunggu seseorang.

Tiba-tiba buah kelapa itu bergoncang dan terangkat keatas. Serta merta buah kelapa itu dibalik. Tumpah ruah isinya diatas sebuah saringan santan jumbo. Mengelepar-gelepar si ikan pelaga di atas saringan santan jumbo tanda pemberontakan. Namun apa daya sebetar lagi dia akan kehilangan kebebasannya dan hanya menjadi kesenangan seorang bocah melayu. Nelangsa memang.

“Woii… aku dapat satu!!!” pekik seorang bocah berambut ikal tak seberapa. Ia ambil ikan tersebut dan dimasukkan kedalam plastik asoi yang sudah diisi air.

“Wah, besar dan elok pik.” Bocah dekil dan bocah botak mendatangi si bocah ikal tak seberapa.

Si ikal tak seberapa tersenyum sumringah. Senang luar biasa bisa menangkap seekor pelaga. Hilang sudah letihnya untuk sampai ke tempat ini. Hilang juga perih dikakinya karena terkena goresan ilalang. Lupa semua kesalnya pada si dekil karena tidak mau cebok.

Teringat dia pada perkataan si dekil dalam perjalanan menuju tempat ini setelah buang hajat dibalik semak-semak.

“Aku sedang menikmati sebuah pelajaran kehidupan kawan.” Berkata ia dengan mimik wajah diserius-seriuskan. “Kau tahu rasanya nikmatnya melakukan suatu pekerjaan dengan iklas?” Ia menarik nafas. Mengumpulkan sebuah kekuatan.

“Dengarkan aku. Pekerjaan paling ikhlas didunia ini adalah be’ol (buang air besar). Tak ada manusia di dunia ini yang tidak iklas mengeluarkan kotoran dari tubuhnya. Kualiatas iklasnya dapat diukur dari kerasnya kotoran yang kau keluarkan. Semakin keras kotoran yang kau keluarkan semakin ikhlas kau melakukannya.” Ia berceramah sambil mengepalkan tinju ke udara. Berlebihan.

“Untuk itulah aku tidak mau cebok karena aku sedang menikmati sisa-sisa pekerjaan ikhlas itu.” Sebuah konklusi yang sangat kontroversial dan semakin mengukuhkan bahwa sekte sesat yang dia ikuti selama ini telah merasuk dalam aliran darahnya.

Kesadarannya kembali ke tempat semula.

Dikirinya si botak menatap kagum pada ikan pelaga. Didepannya si dekil mengaruk-garuk bagian belakang bawah tubuhnya sambil menatap ikan pelaga sambil bertanya, “Dikasih makan apa ikan pelaga?”

“Ikan pelaga makannya cacing kecil-kecil, jentik nyamuk, nyamuk atau nasi” jawab si botak. Si botak menepuk-menepuk pundak si ikal tak seberapa dan mentap wajah seakan-akan berkata, “kau pelihara ikan pelaga ini dengan baik”.

Akhirnya mereka kembali mencari ikan pelaga lagi dalam buah kelapa yang telah berlobang.

Si botak di sayap kanan. Si ikal tak seberapa di sayap kiri. Si dekil hanya memperhatikan si botak. Sepertinya ia tidak tertarik untuk mencari ikan pelaga menurutnya mengagaruk-garuk bagian tubuh belakang bawah lebih nikmat.

Suasana kembali hening. Yang terdengar hanya suara angin yang menyelusup daris sela-sela daun pohon kelapa diiringi simfoni garukan dari si dekil. Sebuah orkestra alam yang menakjubkan.

Bocah-bocah melayu ini tekun dan khusuk dengan kegiatannya. Tapi kekhusukan itu tidak bertahan lama. Sebuah teriakan memecah keheningan

“Lari semuanya!!!!!!!!!”

Seorang bocah dengan rambut belah tengah lari terpongoh-pongoh. Dibelakangnya terlihat kumpulan babi sebesar manusia dengan taringnya berlari mengejar si bocah tersebut. Kontan si dekil, si botak serta si ikal tak seberapa lari juga melihat kumpulan babi yang berlari ganas menuju mereka.

Mereka berpencar. Si botak dan dekil kekiri sedangkan si ikal tak seberapa kearah kanan. Si belah tengah selamat karena memanjat pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi.

Terjadilah kejar-kejaran atau lomba lari antara babi melawan bocah melayu.

wild_boar_frontalYa kita lihat di sayap kiri saudara-saudara. Seekor babi siap menyeruduk pantat si dekil namun si dekil menaikkan tempo larinya. Si babi telihat kesal saudara-saudara ia juga menaikkan tempo larinya. Kali ini ia mencoba menyeruduk si botak, tapi sayang sekali saudara-saudara sodokan si babi melebar. Nah, kita lihat si dekil mengambil sesuatu dari balik bajunya. Ohh.. sebuah batu saudara-saudara. Dia oper saja kepada si botak saudara-saudara. Si botak langsung saja memberikan lemparan yang indah dan ‘plok’ tepat mengenai kepala si babi. Namun terlalu lemah saudara-saudara dengan mudah lemparan itu di antisipasi oleh si babi.

Si botak berteriak kepada si dekil saudara-saudara.

“Larinya berbelok. Zig-zag. Babi tak bisa lari zig-zag cuman bisa lurus!!!”

Namun sayang sekali saudara-saudara dalam tempo lari secepat ini sebuah suara tidak akan terdengar lengkap di telinga, yang terdengar “lazigzag babai buarus”.

Malahan yang ada hanya air liur yang menyembur dan bertebrangan ke udara dan mendarat dengan manis di wajah si dekil.

“Hahahahahaha, air liur kau bau botak!!!!” tak lupa ia menggaruk-garuk tubuh bagian belakang bawah.

Kesal diacuhkan, si botak menangkap tangan si dekil tanpa jijik sedikitpun walaupun tangannya kaya akan cacing remi karena si dekil rajin menggaruk tubuh bagian belakang bawah atau pantatnya. Ia dan dekil berlari zig-zag.

Yayayayaya.. mereka selamat saudara-saudara lihat saja mereka kini memeluk erat pohon kelapa yang mereka panjat.

Mari tepuk tangan yang meriah kepada mereka saudara-saudara.

Ya. Kita lihat di sayap kanan saudara-saudara. Sedang terjadi aksi kejar-kejaran antara babi 2 dengan ikal tak seberapa. Si ikal terlihat lelah saudara-saudara. Nafasnya megap-megap menahan sakit karena asmanya kambuh. Paru-parunya seperti terbakar dan ingin meledak.

Dari jauh terdengar teriakan histeris.

“Pik!!!! Lari berbelok. Zig-zag!!!”

Namun sayang sekali saudara-saudara si ikal sudah terkepung. Kawanan babi itu sedang memburu habis-habisan dari arah yang berbeda. Dari arah utara 1 ekor sedang berlari menujunya. Dari barat 2 ekor. Dari timur 1 ekor dan juga 1 ekor di belakang tak kalah ganasnya sedang memburunya. Startegi lari zig-zag tak akan berhasil. Si ikal terlihat putus asa namun sebuah teriakan memberinya sebuah pencerahan saudara-saudara.

“Masuk ke parit pik!!!!!”

Si ikal tancap gas dan menuju parit terdekat dan “byurr” masuk ia ke parit buatan yang memiliki kedalaman 2 meter. Apakah dia selamat? Ya tentu saja dia selamat dari babi tapi sejatinya dia belum selamat. Si ikal tak seberapa lupa bahwa ia tidak bisa berenang. Kini ia termegap-megap mencoba mengais-ngais permukaan air. Ia sekuat tenaga mencoba mengeluarkan kepalanya agar tetap di atas permukaan air. Namun kaisan tanganya semakin melemah pertanda tenaganya sudah terkuras habis setelah berjibaku dengan babi dan sekarang di telinganya terdengar lagu kasidah yang sering dinyanyikan ibunya:

“Bila izrail datang memanggil seluruh tubuh ikut mengigil”

Dalam bayangannya terlihat wajah orang tuanya, abangnya serta slide-slide perjalanan hidupnya. Semua bergerak cepat menuju klimak yaitu kegelapan. Kini ia sangat tidak berdaya lagi sekedar mengepak-kepakan tangannya, kegelapan telah menguasainya. dari bibirnya terdengar kata-kata sedu sedan

“Ampuni aku emak….”

…………………..

…………

……

..

.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “#3 Hewan dalam narasi

  1. upik hehe yang ini seru banget..

    Posted by the mighty bangs | 7 April 2009, 2:30 PM
  2. pik, mataku pusing baca di kompi (uda kebanyakan ntn di komputer)
    sekali2 kau print lah hasil karyamu yang bersambung ini lalu sebarkan ke kawan2mu~ terutama aku kawan sekelompokmu!
    biar seru sih ada jangka waktu tertentu lo nyebarin ni cerita. kan kaya baca cerbung di majalah femina😄

    Posted by nanien | 2 Mei 2009, 6:55 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: