Masa Muda Adalah Masa Yang Berapi-api

#3.5 Simfoni sisipan: untuk mereka yang ada disana

polonia

Seorang lelaki paruh baya mendekati dan menyentuh pundakku kuat,

“Kau sudah besar nak, ada tanggung jawab yang kau pikul di pundakmu. Kau takkan bisa lari dari tanggung jawab itu. Lihatlah berapa banyak orang yang berharap saat kau kembali nanti. Mereka berharap kau bisa merubah tanah ini. Tanah yang memberimu makan, tanah yang memberikanmu minum dan tanah yang memberikan segala yang kau inginkan agar terlihat menjadi lebih baik. Setidaknya untuk generasi-generasi yang akan datang.” Nafasnya tertahan seolah dadanya diimpit batu besar dengan tersengal-sengal ia melanjutkan.

“Jangan pernah kau berpikir untuk membalas hutang budi padaku. Jika kau ingin membalasnya jangan kau berikan padaku tapi berilah pada anakmu kelak.” Ia menghembuskan nafas panjang yang berat. Selanjutnya memelukku erat seolah tak ingin dia lepas. Setelah beberapa saat ia lepas pelan. Sambil tersenyum dia memandangku teduh.

Disebelahnya seorang wanita mendekati paruh baya menghampiriku juga,

“Dek, walaupun kau pergi ke kota yang modern jangan pernah kau tinggalkan agama. Sehebat apapun manusia, sepintar apapun manusia tanpa agama tak ada gunanya. Jangan kau pakai narkoba, jangan kau main wanita. Sholat jangan kau tinggalkan. Al-qur’an setidaknya kau baca 1 lembar sehari minimal 1 ayat sehari.” Dengan linangan air mata, ia cium kedua pipiku. Kurasakan aku menjadi anak-anak kembali, saat dulu dia menciumku setelah selesai memandikan dan membedaki seluruh tubuhku.

Jam keberangkatan hampir tiba, aku mulai melangkahkan kaki menuju pintu masuk bandara di ruang tunggu. Ahh.. mengapa keberangkatanku ini menjadi seperti mengebumikan mayat. Sedih. Keceriaan menjadi sesuatu yang pantang.

Ya, takkan kubiarkan sepenggal kisah ini menjadi haru-biru bak kisah telenovela. Jika mereka memberikan petuah-petuah terakhir. Apa salahnya aku membecandainya sebelum aku meninggalkan tempat ini . Ketika akan masuk ke pintu ruang tunggu. Kubalikkan badan dan berteriak aku sejadi-jadinya.

“Mak, pa. Selamat jadi pengantin baru lagi yaaaa!!!!!”

(Bandar Udara Polonia, 6 Agustus 2007. Sebelum aku meninggalkan tanah itu dan sampai sekarang aku belum pernah kembali ke tanah itu)

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “#3.5 Simfoni sisipan: untuk mereka yang ada disana

  1. blom pernah pulang kampung sekali pun bang ?

    Posted by eros | 17 April 2009, 3:05 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: