Masa Muda Adalah Masa Yang Berapi-api

#4. Dari ingatan seorang ayah (1)

Seandainya aku bisa mencabut hatiku dan kukubur didasar sungai ini. Tentu akan kulakukan. Ya tentu akan kulakaukan agar aku tiada merasakan sakit ini lagi.” (Paulo coulho)

Prolog

Sebetulnya aku tidak begitu tertarik untuk menceritakan kisah ini kepada kalian kawan. Apa gunanya aku menceritakan prihal kehidupan keluarga temanku . Alih-alih memahami kehidupannya, kutakutkan aku nantinya lancang menceritakan nestapa temanku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak, apa boleh buat. Aku harus menceritakan jua.

Hal ini terkait dengan pemintaan anakku. Dia bilang jika dia yang menceritakannya akan terasa mengada-ngada. Bagaimana bisa orang yang masih terbata-bata dalam memahami seluk-beluk tentang keluarga si botak –aih, julukan apa pula yang dia kasih kepadanya– begitu angkuh menceritakan semua kepada kalian. Mumpung aku masih mafhum terhadap kisah ini, mengapa tidak aku saja yang menceritakannya. Begitu kata anakku.

Aku angkat tangan. Menyerah tak bisa menolak. Agaknya dia begitu pintar membujuk dan mempengaruhi aku. Apakah ini ada hubungan dengan pelajaran yang didapatkan di jurusan studinya sekarang. Mungkin saja.

Akan tetapi aku mempunyai permintaan pada anakku. Aku akan menceritakan kisah ini. Dengan syarat semua nama pada keluarga temanku ini, hanya memakai julukan saja tanpa nama yang sebenarnya. Aku pikir tak perlulah aku menjelaskan alasannya, tentu kalian tahu maksudku melakukan ini.

*********************

Senin, 19 september 1988 ketika mentari mulai meredup di ufuk barat di suatu kampung Sumatra Utara.

pohon-mati1

Sesosok pria berumur 30 tahunan terlihat tergesa-gesa dan wajahnya dipenuhi peluh. Aku agak heran dengan tingkah polanya yang tidak seperti biasanya: santai.

Tanpa babibu, dia berteriak-teriak memanggilku dengan panik,

“Pak guru!!!Pak guru!!!”

Seperti biasa. Menunggu datangnya waktu sholat magrib berjamaah di langgar, aku biasanya mengobrol-ngobrol di warung kopi. Obrolan yang ringan-ringan sampai yang berat-berat biasanya berputar diwarung kopi ini. Dari kisah sandal jepit yang hilang sampai masalah politik negri ini.

Kudatangi dia, tanpa ikut-ikutan berteriak panik aku menyahut,

“Ada apa?”

Lagi-lagi dia berteriak panik,

“Buk agama mau melahirkan, udah pecah ketuban!!!”

Sekarang gantian, aku yang berteriak panik,

“apa???”

“Pak guru disuruh menjemput bidan” ujarnya bergetar hebat tambah panik.

Alamak jang, bagaimana pula ini. Setahuku, rumah bidan dari kampung ini jauh tempatnya. Apalagi tak ada kendaraan bermotor yang bisa dipinjam. Jika aku naik sepeda tak mungkin. Sebetulnya ada seorang dukun beranak di tempatku ini tapi 2 bulan yang lalu sudah meninggal karena sudah tua.

Walaupun panik, aku berpikir, berpikir sangat keras. Kepada siapa pula aku harus minta tolong. Tiba-tiba saja tercetus satu nama di kepalaku: wak IPAH.

Segera kukayuh sepedaku dengan kesetanan menuju rumah wak ipah. Sesampainya di depan rumahnya. Kugedor pintu rumahnya.

Dengan tampang terkaget-keget dia berujar,

“Apapula kau ini gelisah kali kutengok bak orang tua kebakaran jenggot”

“Biniku mau melahirkan wak, udah pecah ketuban. Aku minta tolong wak bantu dia melahirkan”

“Hah? Ayo cepat kita kesana.” Ujarnya mengambil selendang penutup kepala.

Adegan selanjutnya adalah seorang lelaki membonceng ibu-ibu umur 70 tahunan yang berteriak-teriak minta jangan terlalu kencang mengayuh sepeda. Tapi si lelaki sudah tidak peduli dengan teriakan si ibu-ibu itu. Panik sudah melandanya.

***********

“Tarik nafas…”

“Pelan-pelan..”

“Tahan…”

“Yaaa, dorong..”

Kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dari mulut wak Ipah. Saat-saat normal mungkin aku akan tertawa jika mendengar kalimat-kalimat itu. Akan tetapi tidak untuk saat ini disaat aku harus menenangkan dan menemani istriku. Walaupun aku tahu ini antara hidup dan mati dua nyawa manusia: istri dan anak keduaku.

Kasihan sekali istriku agaknya dia merasakan kesakitan yang amat sangat. Sambil meringis-ringis kesakitan dia remas-remas tanganku. Tapi apa dayaku aku hanya bisa berdo’a dalam hati agar semua ini baik-baik saja.

“Tarik nafas..”

“Pelan-pelan..”

“Tahan..”

“Yaaa, dorong..”

Istriku berteriak sejadi-jadinya. Dan sejurus kemudian terdengar suara tangisan bayi. Inilah momen yang ditunggu oleh orang tua. Saat anaknya lahir dengan selamat. Buru-buru wak ipah memberikan si bayi dalam dekapan ibunya.

Amboi, montok nian anak keduaku ini dan ia berjenis kelamin lelaki. Ya sekarang aku memiliki dua orang anak lelaki yang memiliki jarak umur 1 tahun. Dan juga nama perempuan yang sudah disiapkan oleh istriku selaiknya tidak bisa dilekatkan padanya.

Kulihat isriku, terlihat sangat lelah dan letih namun wajahnya sumringah, bahagia melihat anaknya selamat. Kubisikkan sesuatu ditelinganya,

“Agaknya nama Sri Rizki harus kita ganti..” Mendengar kelakarku yang tidak lucu, dia hanya tersenyum.

Allahuakbar…”

Alahuakbar…”

Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib seperti layaknya pengiring kelahiran anakku. Itulah salah satu alasan nama belakang anakku Akbar. Mengambil dari kalimat pertama kata kedua adzan. Karena ketika dia lahir suara adzan menggema di penjuru bumi.

masa-kecil-a

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

7 thoughts on “#4. Dari ingatan seorang ayah (1)

  1. aslm..sri rizki..he2..org medan ko namanya jawa?
    yah..critanya baguuusss..gw sneng ni sm crita kaya bgini..yang mlibatkan prasaan orang tua..huuu..syahdu..sring2 gali crita2 dari si bapak mu ya pik..klo prlu kisah cinta bpak dan emak mu..djwa sukaaaa!!he2

    Posted by berNing2 sari | 14 Mei 2009, 9:38 AM
    • wkslm.wr.wb.
      sri rizki?
      gak tau tuh si emak suka dengan unsur2 jawa gituh..
      ya maklumlah dalam darah emak terkandung sedikit darah jawa..
      dan sempat terdengar gosip saya akan dijodohkan dengan orang jawa..

      ahahahahaha..
      ganjil emang..

      alamak bisa digorok saya klo kisah cinta orang tua saya publikasikan..

      Posted by upik | 14 Mei 2009, 7:32 PM
  2. Bersabarlah kau nak, Emakmu sudah melahirkanmu dengan susah payah.

    Posted by Januardi Imam N | 20 Mei 2009, 5:44 PM
  3. wah..wah….
    like this! (satu jempol yak)
    -puspa-

    Posted by kura2memusingkanku | 9 Juni 2009, 2:45 PM

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Klan: Prihal hari jadi « buruk rupa cermin dibelah - 2 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: