Raun-raun

Preambule: Sebuah Pulau Dalam Gugus Kepulauan Seribu

100_2884

Hampir dua tahun lebih saya meninggalkan pulau sebelah. Yah, hampir dua tahun. Rindu rumah beserta isinya serta lingkungannya mungkin akan begitu menyiksa jika tidak ditangani dengan khusus. Apa boleh buat bukannya sok jago ataupun angkuh, tapi ini karena masalah finansial serta hal-hal yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja. Karena saya tidak pernah bercita-cita jadi penghianat hanya sekedar terobsesi jadi penjahat yang menguasai dunia. Menyebalkan.

Sebagai seorang anak yang hidup dilingkungan pesisir pantai tentu sangat fasih dengan yg bernama laut, walapun belum tentu berbanding lurus dengan kefasihan dalam berenang, tentu saja akan sangat senang jika melihat laut. Dan itu yang ingin saya katakana dari tadi bahwa melihat laut dan pantai serasa berada di kampung halaman.

Yah, cukup sedikit buah melonkolis dari saya. Karena tulisan ini bukan untuk hal sepele seperti itu. Sekali-kali tidak kawan. Tulisan ini sekedar catatan ingatan saya ketika berkunjung ke pulau pramuka, sebuah pulau dalam gugus kepulauan seribu. Jika saya tulis akan seperti ini.

*************

ombakKapal boat itu melaju kencang seolah tak begitu peduli dengan penumpang yang terhuyung-huyung karena mabuk laut. Bagi penduduk yang ingin ke pulau pramuka ataupun ingin ke muara angke dari pulau pramuka. Angkutan laut umum inilah satu-satunya alat transportasi. Tentu saja untuk masyarakat kebanyakan.

Kapal ini merupakan kapal ke dua yang berangkat dari pulau pramuka ke muara angke. Jarak antara keberangkatan pertama dan keberangkatan kedua terpaut cukup jauh. Keberangkatan pertama pukul 07.30 Wib sedangkan keberangkatan ke dua pukul 13.30 wib. Jika terlambat naik ke kapal kau harus bersabar menunggu esok tiba karena hanya ada 2 kali keberangkatan. Tak lebih tak kurang.

Kapal terus bergerak menuju tujuan seluruh penumpang kapal ini. Penumpang kapal ini sebagian adalah penduduk pulau pramuka yang bekerja di Jakarta, sebagian penduduk Jakarta yang “iseng” main ke pulau tersebut. Dan sebagian lagi, ini jarang-jarang terjadi, sekumpulan mahasiswa sebuah universitas negri di depok. Mereka baru selasai rapat kerja sebuah organisasi legislative kampus. Badan perwakilan mahasiswa namanya.

Sebagian mahasiswa ini terpecah menjadi 4 kumpulan.

Kumpulan pertama: ini kumpulan yang paling serius, setidaknya jika dilihat dari jauh. Mereka membentuk semi lingkaran diatas kapal dan sedang melanjutkan rapat koordinasi lanjutan proker-proker serta anggaran dana. Yah, dalam struktur mereka memiliki posisi penting dalam organisasi ini. Setidaknya jika kapal ini tenggelam atau dibom tamatlah organisasi ini. Mereka terdiri dari ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris, serta ketua komisi. Badan pengurus harian jamak digunakan untuk menyebut mereka.

Kumpulan kedua: ini kumpulan paling tenang. Mengapa tenang karena kumpulan ini sedang tidur atau padanan kata yang tepat adalah terkapar tak berdaya karena kelelahan.

Kumpulan ketiga: sama seperti kumpulan kedua, hanya saja posisi mereka bukan diatas kapal melainkan didalam kapal.

Kumpulan keempat: kumpulan ini yang terlihat sehat. Wajah mereka tak menunjukan tanda-tanda kelelahan. Mereka sedang asyik-asyiknya main kartu uno dan tepuk tujuh diburitan kapal boat ini. Ah, permainan yang kekanak-kanakan.

“Pik, ikutan main dong!!” Sebuah suara mengagetkan seorang pria gondrong dari kumpulan ini yag sedang khusuk melamun.

“lo dari tadi meratiin aja”

“Ah, kurang elegan permainan kalian ini..” Ujarnya menolak.

“Halah sombong, bilang aja lo gak bisa main uno”

Sebuah pernyataan yang menusuk.

“Wkwkwkwkwk.., gaklah” Ia mencoba-coba berkelit.

Selanjutnya ia menghindar dan duduk di tepi boat ini seraya memandang laut yg menenangkannya.

ia mengingat-ingat perjalanannya ke pulau pramuka yg kini ia tinggalkan.

Perjalan itu dimulai dari depok ke muara angke. Berlanjut naek Kapal boat kurang lebih 2 jam 30 menit untuk sampai di pulau pramuka.

Sesampainya di pulau pramuka ia dan rombongannya menempati 2 rumah yang cukup nyaman. Lelaki dan prempuan di tempat yang terpisah. Setelah beres-beres rombongan itu menuju pantai guna melihat matahari terbenam. Diselingi sesi foto-foto.

100_2743

Copy of 100_2760

Copy of 100_2849

Malam harinya setelah isoma dimulai rapat kerja yang membahas proker setahun kedepan. Kegiatan ini berlangsung sampai tengah malam.

Bagi para badan pengurus harian rapat terus berlangsung sampai jam menunjukkan pukul 02.00 wib. Sedangkan yang lainnya bergegas tidur, nonton tivi ataupun main kartu jadi kegiatan selanjutnya.

Subuhnya setelah melapor kepada penguasa dunia dan sarapan, mereka bergerak kepantai menyaksikan fenomena langka bagi mahasiswa yang malas bangun pagi: melihat matahari terbit.

Selanjutnya sampai sebelum tengah hari mereka mengadakan sedikit permainan untuk mempekuat hubuhngan lahir dan batin sesama penguruh organisasi ini.

Ketika matahari tegak lurus diatas kepala, mereka kembali ketempat peraduan. Tentu saja setelah beres-beres dan tak lupa melapor terlebih dahulu pada Bos yang menguasai alam raya ini.

*****************

“Oii..”

Lagi-lagi ia kaget.

“Ya..”

“Kak upikk.., ikut maen uno yukkk..” sebuah suara manja yang dibuat-buat dari seorang wanita disampingnya.

My goat, ia bergidik seram.

“Enggak..”

“Ayo dong kak upikkkk..”

“Hoi, kalian apakan ini bocah heh?”

“Ehhmm.., ini kak. Saya kalah main uno jadi hukumannya harus merayu kakak tuk ikutan main juga..”

“Hahahahahahahaha.., sarap!!”

Ia terbahak.

“Kurang oke rayuannya, ayo coba lebih bagus lagi biar saya lihat..”

“Tapi jangan terlalu berharap saya ikutan main yei..”

“Ahahahahahahaha”

Semua yang ada disitu tertawa terbahak melihat  wajah wanita yang memerah tomat seraya tersenyum malu-malu karena dikerjain.

Ia, yang dipanggil upik memandang pulau yang ditinggalkannya.

“Tak akan kubiarkan perjalan ini hanya berbekas diingatanku saja..”

“Jika nyawa masih dikandung badan. Pasti kan kubuat tulisan tentang pulau itu. Pasti…” ia membatin.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

8 thoughts on “Preambule: Sebuah Pulau Dalam Gugus Kepulauan Seribu

  1. aslm,foto mu bagus yah..yg siluet itu..sbelahnya pasti anggon yah?

    Posted by djawa | 10 Juli 2009, 11:04 PM
  2. wkslm.wr.wb.
    yoleh..

    Posted by upik | 12 Juli 2009, 7:33 PM
  3. waaaaaaaaaaaaahhhhh………. puanjang sekali tulisannya…
    sampe pala saya tuing-tuing nih bacanya…😆

    Posted by Saka | 15 Juli 2009, 10:01 PM
  4. ehehehehehe…

    lumayan juga om..

    Posted by upik | 16 Juli 2009, 5:20 PM
  5. Nyesel, gak ikutan masuk BPM…
    hehe (nggak deng, cuma mo ke pulau seribunya doang…)

    Posted by Rifa | 26 Juli 2009, 12:56 PM
  6. ahahahaha..

    Posted by upik | 28 Juli 2009, 5:49 PM
  7. assalamualaikum…

    kak upiikkk….itu dimana??? apalagi foto yang ungu violet.. keren banget siluetnya…
    mau..mau…
    dari depok ke sana berapa jam kak???
    hehehehe….

    mampir iah ke blogku…

    http://pelangiituaku.wordpress.com

    hmm…. sepertinya menyenangkan sekali di BPM… =)

    Posted by pelangiituaku | 30 Oktober 2009, 3:09 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: