Cengengesan Banalisme

Anak muda dan kepolosannya.

“Perception: The act of perceiving; cognizance by the senses or
intellect; apperhension by the bodily organs, or by the
mind, of what is presented to them; discernment;
apperhension; cognition.

[ Webster: 1913]

Sebuah catatan yang belum sempat di tampilkan disini: semester satu kuliah di salah satu universitas yang ada di depok. Sebetulnya tak ingin dipublikasikan tapi tak apalah saya tampilan saja, tuk sekedar mengingat masa muda dulu.

TAHUN 2008

Bagi mahasiswa yang memiliki banyak waktu kosong, sangat merugi badan jika kekosongan itu tidak diisi, laksana akuarium yang tidak diisi ikan. Kosong, sepi, suram dan hampa tanpa ruh kehidupan.

Untuk itulah mahasiswa sebagai agent of change harus bisa memanfaatkan waktu yang singkat ini. Seperti perkataan teman saya yang mencoba-coba menjadi orang bijak,

“Waktu tidak akan pernah kembali seperti sediakala.” zuper sekali~

Mahasiswa pada umumnya memiliki beberapa pilihan untuk mengisi kekosongan itu, yakni:
1. Belajar dengan sungguh-sungguh
2. Berbuat maksiat
3. Tidur
4. Berorganisasi
5. Menghambur-hamburkan uang orang tua
6. Mencari nafkah
7. Dan lain-lain

Jadi tipe mahasiswa yang mengisi kekosongannya seperti apa anda?
Jika pertanyaan itu di ajukan pada saya sekarang dengan sombong akan keluar sebuah ceracau:

“wooo, maaf saja saya orangnya sibuk, tidak ada waktu kosong bung!!!”
Benar sekali saya orangnya sekarang sibuk sekali,

~sibuk belajar (dengan tidak) bersungguh- sungguh,

~sibuk berbuat maksiat,

~sibuk tidur,

~sibuk berorganisasi yang mengarah pada maksiat

~atau sibuk menghambur-hamburkan uang orang tua (teman)

~dan tentu saja sibuk mencari lahir maupun batin,😀

Nah, jika pertanyaan itu di ajukan pada saya semester satu dahulu?
Wahh, wahh, wahh, saya harus tersenyum dahulu mengenang masa-masa dahulu yang sangat menyenangkan itu sebelum menjawabnya dahulu. Tunggu sebentar saya ingin mengenangnya dahulu (wahahahaha, mabok kata dahulu saya).

Well, sampai mana tadi? Oia, masa-masa menyenangkan, dimana saya mengenal kampus ini lebih dekat, lebih dalam dan lebih romantis.

Kembali ke pertanyaan awal, saya akan memilih opsi yang mana. Dengan lapang dada saya pilih opsi no.7: dan lain-lain.

Yahh~

Apa boleh buat pada semester satu dulu saya mengisi kekosongan dengan mengelilingin kampus ini. Mencermati bangunan dan jalan setapak yang artistik pun mengunjungi perpustakaan pusatnya.

Begitulah, mencoba-coba merasakan dan menikamati sensasi berburu sesuatu yang belum diketahui. Termasuk menikmati makanan di kantin yang ada dikampus ini. Kegiatan tersebut bagi tingkat kecerdasan saya yang tidak seberapa ini, tidak bisa diklasifikasikan pada opsi 1 s.d 6.
Okehh..,
Berikut adalah laporan beberapa kantin yang ada di kampus ini.

A. Takor

Takor salah satu tempat makan yang ada di FISIP , yah kantin yang selalu ramai dikunjungi oleh makhluk-makhluk FISIP atau maba psikologi yang menjalani petuah seniornya yang melarang makan di kantin yang ada di psikologi selama 1 semester. Sepertinya di beberapa jurusan yang ada di FISIP masih menjunjung tinggi norma-norma itu.

Entahlah. Tidak ada yang istimewa dari kantin ini, dari rasa makanannya biasa-biasa saja namum yang menarik dicermati adalah suasana dan kekhasannya yaitu berisik dan selalu ramai. Mungkin bagi sebagian mahasiswa FISIP kantin ini adalah pusat kehidupannya hal ini. Saya berasumsi seperti itu karena mereka betah disini tidak hanya untuk makan tapi juga untuk tidur.

Jika anda ingin tertawa sambil jungkir balik atau ingin teriak-teriak atau ingin diam seraya khusuk “memperhatikan” kaum hawa. Disinilah tempatnya.

B. Kancil

Sama seperti FISIP, Psikologi memiliki banyak kantin salah satu kantin yang membuat saya jatuh hati adalah kancil-yang merupakan plesetan dari akronim kantin Pcikologi-. Makanan yang ditawarkan disini beragam dan penghuninya lebih manusiawi. Makanan yang paling enak menurut saya adalah ayam bumbu rujak.

Rasanya subhanallah enak. Ditambah nasi yang juga tidak kalah enaknya bagaimana tidak enak, nasinya beraroma pandan dan lembut di lidah. Satu hal yang pasti  mbaknya kenal dan hapal dengan menu saya. Weits, si embak bukan hapal karena saya sering makan disini. Melainkan terjadi karena insiden itu. Yah insiden yang memalukan itu.

Begini ceritanya kalau saya tulis dengan kata ganti orang pertama aku, khas anak muda yang polos,😀😀 :D:
Waktu itu semester satu, tak ada yang bisa kuajak makan di kafe (kantin FEUI), yasutralah karena aku mempunyai sakit mag dan sesuai pesan orang tua selain berdoa sebelum tidur adalah makan jangan telat.

Aku bergerak dari gedung G menuju takor. Tapi sayang sekali pada saat itu aku masih berstatus korban petuah nan bijak itu. Jadi kuteruskan saja melangkah menuju kancil, kuperhatikan sekeliling. Yeah, aku menemukan bangku kosong dan langsung saja kududuki.

Mulailah aku berpikir mau makan apa. Mulailah aku berputar-putar mencari makanan, dan akhirnya kutemukanlah makanan yang kelak menjadi kesukaanku: ayam bumbu rujak. Tanpa basa-basi langsung kupesan,

”Mbak, ayam bumbu rujak.”

Setelah memesan aku duduk kembali. Minumnya? Tenang semester satu dahulu aku selalu membawa air putih dari kamar. Iklan teh botol sosro tidak berlaku bagiku. Hal ini kulakukan karena air putih baik untuk tubuh, jiwa dan dompet.

Selang beberapa menit aku dihampiri seorang wanita, dia bertanya,

“Mas, milih dada atau paha?”

Hah..? aku kaget setengah mati, ada apa ini di kancil. Aku disini bukan mau macam-macam aku mau makan. akupun berdo’a:

“Yah, Allah jangan kau berikan aku cobaan yang tidak bisa aku lalui. Amin”

Sepertinya wanita tersebut sadar apa yang aku pikirkan karena aku hanya terbengong dan terdiam. Dia berkata lagi,

“Maksud saya ayam rujaknya pilih yang paha atau yang dada.”

Kembali aku kaget setengah mati dan malu luar biasa. Astaga ingin rasanya aku lari meningalkan kantin ini. Tetapi kurang ajar sekali jika harus kubatalakan dan juga aku sudah kelaparan. Yah sudahlah sambil menahan malu yang sudah sampai keubun-ubun aku menjawab dengan lemah,”Paha aja mbak.”

Pada saat itu aku bertekad untuk selalu memperhtikan wajah penjaga kantin jika memesan makanan agar hal yang sama tidak terjadi lagi. Yang terpenting adalah tidak datang ke kantin ini untuk mengubur rasa maluku.

Yahhh.., mungkin si mbak mengnganggapku pelanggannya yang cabul karena itu dia selalu ingat padaku.

Boleh jadi ketika melihat mukaku dia senyum-senyum sendiri. apa karena aku tergambar dimatanya seperti ini ƪ(‾ε‾“)ʃ :

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “Anak muda dan kepolosannya.

  1. Jangan sampe begitu lulus nanti kita menyesal dengan banyaknya hal yang gak kita lakukan selama masih kuliah.😀

    Posted by Asop | 4 April 2010, 8:46 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: