Marwah Bangsa Melayu

Ketika dulu: Aku, Kau dan Dia masih muda

I

Terlalu banyak yang kita lewatkan
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..

Merangkak, berdiri, berlari, lalu jatuh
merangkak, berdiri, berlari lalu jatuh lagi,
semua berjalan dinamis hingga pada satu titik bertolak statis .
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..

Aku bukan kertas putih yg kalis terhadap warna-warna asing
bukan jua untaian kata yg tertata dalam lirik-lirik indah, taksil ku
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda ..

kau bilang jangan mati, pun dia mengisayaratkan hal yg sama
tapi lancung kemudian semuanya kuacuhkan..
ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..

II

Bukan, bukan, bukannya
mengelak hanya saja
aku tak ingin berlama-lama hidup didunia.
apalah, hanya bertambah usia tanpa makna..

Aku bukanlah seorang pelancong yg lupa asalnya
bukan pula pencundang yg hanya bisa menatap nanar nasibnya,
ketahuilah bukan, bukanlah seperti itu..

Tapi kau dan dia boleh menuduh hal yang sama.
boleh, tak perlu berbantahan untuk hal itu.

Cukup sebuah dialektika: silahkan, kan kutelan dengan nyaman…


III

Sebuah langkah-langkah kecil menjemput detik-detik kehidupan (atawa kematian?)
Seiring menafsirakan segala:  Ketika dulu, aku, kau dan dia masih muda..

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: