Kontemplasi

Percayalah, Ia tak akan menjanda lagi.

…Dengarlah wahai jandaku,
carilah jodoh yang lain.
Usah kau merana selalu,
berdosa jikalau tak kawin…

(jandakuImam S Arifin)*

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Akhir Desember 2009

Entahlah, jikalaupun dilihat dari atas, tak ada yang istimewa dalam ruangan ini. Setumpuk kertas-kertas yang baru dirapikan, berserak kembali disudut kanan. Disebelahnya berdiri almari reok, yang jika ditutup akan terbuka kembali, pemaksaan dan penjegalan adalah cara terbaik untuk menutupnya. Tak jauh darinya berjejer 3 kotak berbeda ukuran, yang bila kau coba melongok, didalamnya akan berjubel potongan-potongan kertas bergambar dengan tanda centang (√).
Disudut kiri, ada sebuah rangkaian besi yang terdiri dari 4 tempat yang bisa didorong masuk dan keluar. Disinilah sumber-sumber semua kertas-kertas yang berserak tadi. Tapi sebentar, Kau tau ada barang yang cukup antik diruangan ini? Yayaya, barang itu ada disebalah rangkaian besi: sebuah kotak yang memiliki layar yang terbuat dari kaca tebal, sebuah papan yang bertuliskan huruf-huruf, kotak panjang yang berdiri serta benda yang mempunyai bercak-bercak hitam dan beraroma tinta pekat. Bayangkan saja tidak ada yang berani menyentuhnya karena saking antiknya. Ini serius! Tidak main-main.

Walaupun 2 buah jendela di sebelah kiri amat sangat jarang terbuka. Ruangan ini jarang pengap. Kau tau rahasianya? Hal ini dikarenakan sebuah kotak yg diapit dua buah jendela tadi. Sebuah kotak yang mengeluarkan udara yang dingin. Benda yang tidak terlalu besar ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi ruangan ini.

Nah, sebuah ruangan yang normal harus mempunyai pintu bukan. Pun sebuah pintu harusnya juga mempunyai kunci juga. Mesipun begitu, Sebuah kunci saja tidak cukup karena itu dibutuhkan beberapa kunci cadangan jika kunci pintu ini hilang. Inilah hal yang cukup unik dari ruangan ini: Hanya kunci asli yang bisa membuka pintu dengan sangat mudah, kunci cadangan tidak. Butuh waktu, tenaga, dan keringat yang berlebih untuk membukanya. Agaknya pepatah lama cukup benar bahwa kepalsuan tidak akan bisa mengganti yang asli semirip apapun sebagus apapun.

Akhir Desember 2008

Sunyi dan sepi telah menjangkiti ruang ini.
Tak ada apa-apa yang bisa dipertahankan
Kecuali sedikit dan secercah asa
Asa yang diraba-raba, diselimuti, dikemas dengan sangat baik mencegah ia kusam.

Ah, Semacam kamuflase untuk merenungi takdir
Takdir yang mempertemukan jiwa, melebur lalu meleraikan lagi
Antara yang telah pergi dan yang tetap bertahan.
Lagi, mungkin inilah hidup tak ada keabadian yang ada hanya ketidakabadian.

Akhir Desember 2007
. . . . . . . . ……. . . . . . .
Hening~

*************************************

Entahlah, tak ada yang istimewa dalam ruangan ini. Hanya berisi beragam kertas, sebongkah almari, 3 kotak berisi potongan kertas bergambar, sepasang jendela, seperangkat barang antik, serangkain besi maju-mundur, dan kotak angin dingin. Namun bagiku yang menjadi istimewa bukanlah isi dari ruangan ini. Sekali-kali bukan. Akan tetapi penghuninnya. Tanpa mereka aku hanya ruangan yang minus kehidupan.

Bagiku akan sangat berarti jika bisa menjadi wadah untuk menyatukan mereka dalam satu ikatan yang disebut keluarga. Keluarga yang mengikat jiwa-jiwa yang hidup lagi menghidupkan. Itulah arti keberadaanku. Tanpa itu aku hanya kekosongan, tak lain dan tak bukan. Namun, disatu titik aku harus siap ditinggalkan karena hidup berubah dan harus berlanjut.

Ini konsekuensi hidup: menjadi ruangan yang menjanda.

Depok, tepat pukul 00.00 WIB ditahun 2010 masehi.
Ketika ia mulai menjanda…
Akankah kita yang tersisa membuat ia menjadi janda lagi?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

* Sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan penyanyi dangdut kondang, Iman S arifin yang bercerita tentang sepasang suami istri yang bercerai dan masing-masing membawa anak. Semua karena jarak dan ketidaksepahaman. Ingin mendengar betapa syahdunya lagu ini. Silahkan unduh di:http://www.4shared.com/file/120917494/d7a52463/Imam_S_Arifin_-_Jandaku.html?s=1

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Percayalah, Ia tak akan menjanda lagi.

  1. Kenapa harus menjanda? Kenapa nggak menduda?❓

    Posted by Asop | 10 April 2010, 3:51 PM
  2. wah karena menjanda saya tak bisa menolongnya bang…ahahahahahahhaha

    baiknya buat bang upik sajalah😀
    sayabantuin dari belakang😀

    Posted by Niniz | 11 April 2010, 10:04 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: