Pemantik

I. Mengolah rasa adalah keniscayaan: Reuni

“Hidup adalah keterjalinan yang tak terpilahkan. Jika kita adalah kenyataan yang lebur dengan manusia lain dalam dunia, maka kebersamaan adalah modus hidup yang tak terelakkan.” (Bagus Takwin: 2006)

Hari kesembilanbelas mendekati penghujung tahun.

Suara kebisingan ini sangat mengganggu. Aduhai, besi-besi mengamuk, memaksa diberi keistimewaan untuk melaju pertama. Dimana-mana senantiasa tumpah ruah bak seperiuk kelereng yang ditumpahkan anak bengal. Acak saling mendahului.

Ayolah, tiada perlu berteriak begitu. Kasihan pepohonan yang senantiasa selalu lembut mencerna buangan kalian. Beri ia ketenangan guna membujuk mentari agar tak malu lagi mengaliri panasnya. Simbiosis yang indah bukan ketika wewangian semerbak mengisi pernafasan hari ini. Karena itu, cukup gunakan bahasa nonverbal. Toh, kalian sama-sama tahu.

Ah, kubilang apa! Mentari sekarang terlanjur malu dan kini bersembunyi dibalik awan. Awan? Ya awan mendung. Aha, jangan remehkan dia. Laiknya teman setia sepanjang musim. Ia akan habis-habisan membecandai. Gurauan adalah keistimewaannya ketika ia mendominasi. Seperti hari ini, aku cukup terkekeh saja ketika hendak keluar dari besi renta ini. Dengan sangat tiba-tiba ia tumpahkan gemercik tawanya.

Baiklah, Ia tahu aku tidak suka membawa pelindung tubuh. Aku layani gurauannya hari ini. Sedikit berbasahan tak akan membuatku jera. Bukankah dulu aku sering mengakrabkan diri denganya walaupun diakhiri dengan letupan-letupan kecil yang berujung terkapar leleh. Ha ha ha.

Oh, tidak. Aku lupa dikantong yang sedang kujinjing ada sebuah buah tangan untuk seseorang. Maaf, saat ini kau tidak bisa melihat caraku bergurau dengan gemerincing tawanya, aku tidak bisa hari ini. Sebuah keajaiban yang buruk, jika buah tangan ini hendak dilayangkan begitu saja padanya. Ia butuh sesuatu yang murni. Belum saatnya ikut dalam gumulan gurauan si awan mendung. Menyedihkan, jika aku harus terpaksa datang dengan tangan hampa. Satu, tua, tiga! Saatnya melarikan diri.

Hari kesepuluh di tahun yang sama.

Tengah malam sebuah getaran ganjil berkali-kali terasa di sebelah kepala. Ada apa gerangan malam-malam begini. Ingin tidak mengindahkan namun ia terus-terusan menggelitik. Baik, baik, baik. Kuraih alat komunikasi genggam ini

“Coi, lu udah bangun blon?”

“Belum, ada apa?” Di ujung terbahak.

“Hahahaha, mana ada orang tidur bisa menjawab pertanyaan…” Ehhmmm, kalimat yang bisa diperdebatkan. Dia lupa bahwa sekarang ada metode menghipnotis orang ketika yang bersangkutan sedang tidur. Orang yang dihipnotis akan menjawab pertanyaan yang diajukan. Bahkan sekarang, ini cara yang efektif bagi orang tua yang gagal membujuk anaknya agar suka sayuran. Ah, kebisaanku mendebat sedang kambuh. Lupakan.

“Oke, intinya. Dimatiin ini…”

“Yaelah, serius amat dah.”

“Dimatiin yahh, ngantuk~”

“Entar-entar, jadi begini…” Ia mulai bercerita panjang lebar. Tentang sebuah rencana yang cukup menggairahkan. Menarik sangat menarik.

“Jadi siapa aja yang ikut?”

“Ya, berdua aja…”

“Oke, hari keduapuluh ya.”

“Yeah, dan jangan bilang dengan yang bersangkutan.”

“Baik. Kekekekeke…” Pembicaraan disudahi. Kembali dalam remang-remang bersitegang dengan kasur bapuk yang mulai susah diatur. Cukup malam kita begini, siang hari kita akan berdamai kembali. Erangku sebelum lelap kembali.

Pagi hari keduapuluh di tahun yang masih sama.

Nahkan, begini penyakit si Pangeran ini dari zaman kuliahan dulu. Hebat, tiada berubah barang secuilpun. Dia yang merencanakan ia pula yang batal ikut serta. Astaga. Tipikal yang hebat dalam berwacana namun payah dalam eksekusi. Uniknya, alasan yang dilontarkan kadang perlu tenaga ekstra untuk merasionalisasikannya alih-alih untuk menenangkan jiwa dan raga.

“Harus nemenin ayah mencari sekolah adik…” satu.

“Kudu ke kota kembang, ada yang melahirkan…” dua.

“Rumah kosong, tak ada orang yang menjaga…” tiga.

Dan hari ini alasannya, “Sori, ban mobil bokap gua lepas tiba-tiba jadi harus ke bengkel dulu.”

Hidup memang penuh lawakan jadi tertawa sajalah, ha ha ha.

Menjelang tengah hari.

Kini kutelusuri jalan setapak menuju tempat kunjungan yang direncanakan sang pangeran. Mengapa dia dipanggil pangeran? Sudahlah, kali lain akan kuceritakan.

Setelah ratusan langkah akhirnya sampai juga. Disini. Di Kota keci inil. Dihadapannku terlihat sebuah rumah yang sekelilingnya ditumbuhi oleh rumput liar. Hah? Apa yang dikerjakan oleh sang empunya sampai ia lupa menyianginya. Oke, oke, lupakan rumput liarnya. Rumput liar mirip-mirip dengan bunga yang ditanam dengan perawatan maksimal.

Kuketok pintu rumah ini perlahan sambil memberikan salam.

“Askm.Wr.Wb.” Tiba-tiba muncul sesosok gadis kecil seraya membuka pintu. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang yang sampai saat ini belum pernah kulihat di dunia nyata. Hanya sekadar bertutur sapa di dunia maya. Nona kecil ini mengerjap-ngerjap sambil menguap, agaknya dia kurang tidur.

“Halo…, ayahnya ada?” Gadis kecil ini kebingungan, mungkin lupa denganku. Ah, wajahku memang mudah untuk dilupakan padahal dulu aku pernah secara kebetulan bertemu dengannya*. Jangan-jangan ia alpa karena aku sudah memangkas habis rambut gondrong tak karuan itu? Boleh jadi.

“Ini buah tangan…” Ujarku menyerahkan buah tangan yang nyaris dibecandai oleh hujan kemarin siang. Selanjutnya ia berlari kecil memanggil ayahnya. Selang beberapa detik kemudian terlihat sosok yang kini tampangnya tak karuan. Wajah kusut tanda tak mandi, bercelana panjang belel dan yang jelas bau badan semerbak menyengat. Halo-halo ini sudah siang bung. Benar dugaanku selama ini, lelaki ini terlihat kacau sekali jika bermasalah dengan wanita. Dan anehnya ia mengerjap-ngerjap sambil menguap. Deja Vu.

“Maaf mas tidak menerima sumbangan…” Hei,hei. Apa tampangku terlihat memelas. Kesadarannya belum pulih ternyata. Ini perlu pembuktian.

“Satu tambah satu berapa boi?” Untuk mengukur tingkat kesadaran seseorang sekaligus memancing otak kembali bekerja orang yang baru bangun tidur, diperlukan pertanyaan yang sederhana. Itu rumusnya. Jika ia dengan cepat menjawabnya maka bisa dipastikan otaknya sudah kembali bekerja dengan normal.

“Hah? Kau~”

“Hei Casanova, ini aku bujang melayu…”

*http://aryasandy.wordpress.com/category/perempuan-jingga/

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “I. Mengolah rasa adalah keniscayaan: Reuni

  1. pura-pura ngerti:mrgreen:

    Posted by rosalina, anita | 17 Juni 2010, 8:36 PM
  2. 😀😀😀

    Posted by upik | 19 Juni 2010, 12:04 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: