Kontemplasi, Marwah Bangsa Melayu, Pemantik

Galau…

…Sepanjang perjalanan kulihat jamur gibba bersemi, namun tak cantik seperti biasanya karena mereka cemburu pada keladi-keladi induk semangnya sendiri.

Andraeanum tetangga-tetangga gibba itu, yang mestinya harum, merebakkan dengki pada simbiosis-simbiosisnya.

Trifolia cemburu pada bunga Desember. Capung cemburu pada kumbang. Danau ingin ditinggalkan sendiri. Awan bercerai-berai. Langit curiga pada angin dan angin membenci gunung. Alam penuh angkara murka.

Setelah dua jam bersepeda, aku sampai. Aku berbelok ke sebuah jalan di seberang bioskop lama. Nun di Ujung sana, di pojok, tampak sebuah toko. Seperti gambaran detektif M. Nur, itulah toko Zinar. Aku makin mengayuh. Emosi telah sampai ke ubun-ubun.

Menjelang toko itu, satu percakapan terbit di kepalaku:

“Na! Saya adalah Ikal, saudara sudah mengambil pacar saya! Kembalikan!”

“Oh, maaf, maaf sekali, saya tak sengaja. Saya sangka A Ling taka ada yang punya, maaf ya, Pak.!”

“Ciat! Bak! Buk! Bak! Buk!”

“Ampun, Pak, takkan saya ulangi lagi.”

“Awas!”


Atau begini bagusnya:

“Na! Saya adalah Ikal, saudara sudah mengambil pacar saya! Kembalikan!”

“Oh, ternyata Anda pendekar Ikal yang sering saya dengar di radio. Amboi, sudah saya duga kalau Anda tampan sekali. Jangan cemas. Saya dan Aling hanya bersahabat.”


Tapi, satu percakapan lain, mendesak percakapan tadi:

“Ha, kau rupanya. Mengapa kau kesini? Tak tahu diri. A Ling tak mau lagi denganmu! Ia mau kawin sama saya! Ia akan menjadi istri saya, segera! Berkaca sana! Wajar saja A Ling minggat darimu, pendek begitu!”

“Baiklah.”


Satu percakapan lain menyelinap.

“Wahai Zinar, mengapa engkau merebut A Ling dari tangan saya? Jangan mentang-mentang engkau ganteng dan tinggi, lalu engkau berbuat semena-mena seperti itu kepada saya. Engkau tak boleh melakukannya semua itu. Bukankah kita sama-sama makhluk Tuhan Yang Maha Esa? Sama-sama makan nasi?…”


Satu pernyataan yang bijak memotong:

“Zinar yang baik, kuharap, A Ling senang bersamamu. Kutitipkan ia padamu. Sungguh engkau laki-laki yang beruntung… (Aih, benci sekali aku mengucapkan kalimat terakhir yang sangat klise itu). Tolong jaga ia baik-baik. Aku akan pulang ke rumah ibuku dan aku akan hidup sendiri, tak kawin-kawin, apa pun yang akan terjadi, sampai akhir hayatku. Biarlah, oh, biarlah. Kudo’akan selalu, semoga mahligai rumah tangga kalian sentosa dan berbahagia, untuk selama-lamanya.”


Ditimpuki lagi oleh percakapan lain:

“Anda terlambat. Tiga hari yang lalu, Zinar tertelan biji durian, lalu mati,” kata seorang perempuan tua di toko itu.

“Terima kasih.”*

*Andrea Hirata: Padang bulan, mozaik ke-18 hal 98 s.d 100.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

10 thoughts on “Galau…

  1. Oh… ini dari buku Andrea Hirata? Saya ga mengikuti serial buatan dia…😀

    Posted by Asop | 13 Juli 2010, 4:23 PM
  2. huwaaa…. gue belum selesai baca bukunya….

    Posted by iif | 13 Juli 2010, 8:00 PM
  3. Wonderful site and theme, would really like to see a bit more content though!
    Great post all around, added your XML feed! Love this theme, too!

    Posted by the Success Ladder | 16 Juli 2010, 2:29 AM
  4. bang upik belum selesai baca?
    wah, saya kan terbitnya udah cukup lama, bang.

    saya bisa abis 4 hari, bagus banget novelnya😀

    Posted by mariam avi | 20 Juli 2010, 8:42 PM
  5. belum punya uang untuk beli buku itu… padahal sebenarnya sudah penasaran buanged…..😀

    Posted by krupukcair | 4 Agustus 2010, 11:05 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: