Kontemplasi, Pemantik

Halusinasi Kala Jingga

“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Seperti tak berkesudahan, ritmik jarum jam tak pernah lelah saling berkejaran. Satu, sepuluh, lima belas, dua puluh hingga titik kultimasi enampuluh. Ia tetap meracau menuju garis 90 derajat dengan permukaan bumi, masih berkejaran hingga takdir menyudahinya: berkarat ataupun kehabisan energi.

Seolah tanpa kepayahan, mata tetap mengikuti gerakannya,  bergerak penasaran ditimpali kalkulasi di derajat mana ia ditakdirkan untuk berhenti. Tapi semua tentu punya alasan yang rasional menterjemankan takdir ini. Menunggu enam bulan atau mungkin satu tahun. Sayang sungguh disayang, tidak untuk hari ini.

Sudahlah, ribuan detik menelisik jarum jam tiada hasil. Hanya meninggalkan jejak-jejak detak di kepala. Merayap-rayap tanpa ampun hingga semburat putih menyeruak seketika. Lagi.

***********

Aku melangkah sempoyongan menuju jamban di kamar ini, kantung kemihku telah penuh. Menarik-narik untuk segera dikosongkan. Rutinitas malam buta.

Pekerjaan yang paling menyedihkan adalah bermenung di jamban setelah berkali-kali membasuh wajah. Hingga mata yang menyipit kembali terbuka memerah lalu menyipit kembali. Lebih menyedihkan lagi terkantuk-kantuk di jamban menunggu perhitungan terakhir hingga penampung air terisi penuh.

Hingga satu waktu terdengar suara petikan gitar. Kutoleh menyilang. Ah, dia masih tersenyum hangat dengan petikan gitar akustiknya. Aku pura-pura menyipit namun ia memanggilku untuk mendekat. Baiklah-baiklah.

“Apa yang kau lakukan di malam buta ini…?” Aku menguap acuh dengan pertanyaannya.

“Kau pasti terganggu dengan perkataan kemarin siang…” Mataku awas seketika.

“Tak perlu terburu-buru menjawab pertanyaan itu. Butuh waktu memang…” Ah, dia mencoba mengajak membicarakan hal yang tak ku mengerti.

“Apa?”

Ia petik pelan gitarnya lamat-lamat senada dengan derau angin malam hingga membentuk harmoni yang melankolis seketika itu juga.

“Aku tahu kau sedang menguat-nguatkan diri menghadapi hal yang selama ini kau inginkan namun memupusnya dalam-dalam…” Ia menatapku lembut seperti karib lama yang berabad tak bersua.

“Baiklah kawan, agaknya aku tak ingin mencemaskan hal yang sudah kupilih…” Kini aku yang buka suara.

“Ha ha ha” Dia mulai terkekeh, memancingku untuk berkata, “Heh?”

“Kau menganggapku hantu yang menggangu tidur malammu saja. Ayolah bukankah aku salah seorang yang mengenalmu dengan teramat baik. Tanpa celah sedikitpun…”


“Hidup amat mengerikan dengan menjalani pilihan yg keliru. Namun. hidup jauh lebih mengerikan tanpa memilih pilihan yang ada. Ya, walau kau tau akan menyesal pada akhirnya…”

Ia menepuk-nepuk pundak sambil menatap tajam di belakangku.  Seketika ia berlalu.

Cih, ia masih tetap melankolik tendensius dengan cara berlebihan. Kurang ajar sekali…

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: