Kontemplasi, Pemantik

Halusinasi Kala Jingga #2

Kutatap cermin yang kini mulai berkabut. Tak terlihat apa-apa hanya seberkas wajah yang tinggal sepenggal. Aku mulai mematut-matut mata yang menggelembung tak wajar, ada rintik kelam disitu. Menjadi aneh ketika aku mulai meraba-rabanya. Bukan-bukan, ini bukan kelam tapi lebam terlebih ada rasa nyeri yang melambat.

Tanganku kini mencari-cari sapu tangan yang sudah makin lembab untuk sekadar menyapu lebam itu. Nihil. Mata dan tangan kini sudah mulai bermusuhan, otak gagal mendamaikan keduanya. Mata ingin mengatup sedang tangan tetap tak peduli, tiada henti mencari-cari.

Kau tau sapu tangan itu kawan? Tentu saja tidak karena aku belum pernah bercerita tentang sapu tangan ini. Mungkin kau akan lebih mengerti jika ditulis seperti ini:

//Sapu tangan itu adalah pemberian ibuku//ketika aku menuju tanah ini//tiga tahun yang lalu.

//Bukan untuk disimpan, sekali-kali bukan//namun kugunakan untuk mengelus perlahan mata yang mulai enggan diam//bercerita tiap malam akan metafor perjalanan.

//Sapu tangan itu mungkin tak lagi sama//tapi tetap mengantarkan pada suasana yang kucegah untuk dilupakan//seakan melupakan kenangan bersinonim dengan bunuh diri bersama.

//Ya, bunuh diri bersama//membunuh diri sendiri yang dibentuk kenangan//membunuh yang lain yang kan tiada jika tak dikenang jua.

//Sapu tangan itu adalah pemberian ibuku//ketika aku menuju tanah ini//tiga tahun yang lalu.


“Kau mencari ini?” ia tersenyum sinis sambil menenteng sapu tangan itu. Berlalunya sipemetik gitar, kini yang lain menghampiriku.

“Oh, ternyata kau yang menyembunyikannya?”

“Menyimpan!” Baiklah ia sudah mulai ternyata.

********************

Aku: Menyimpan?

Ia: Ya, akulah yang menyimpan sapu tangan ini. Dan kaulah yang mencampakkan sapu tangan ini. Melupakan dari siapa ia berasal dan untuk apa diberikan kepadamu.

Aku: Hei! Jangan kau buat aku seakan-akan jadi pesakitan yang melupakan kenangan.

Ia: Cih, masih bisa kau berkata seperti itu? Kau pikir sebuah kenangan hanya cukup ketika diingat?

Aku: Sebuah kenangan ada karena ia selalu diingat. Ini jamak dipahami manusia yang pernah hidup.

Ia: Jangan berlagak, kau berkata seolah-seolah kenangan itu hanya untuk orang-orang yang telah mati. Buka kembali ingatanmu. Tiga tahun yang lalu di tempat terakhir kau bertemu dengannya. Ia berharap kau kembali lagi bukan sebagai kenangan. Kaupun begitu. Kau ingat?!

Aku: Ya…

Ia: Kau tau, ia bukan sebuah kenangan layaknya untuk orang-orang yang telah mati. Ia masih setia tiap seminggu sekali menunggu kabar darimu, tiap malam mendo’akanmu, jika kesepian selalu mengucur lelehan di matanya. Kau tau!?

Aku: Tapi kau tidak bisa berkata…

Ia: Dan dengarkan aku. Tak ada ibu di dunia ini yang berencana melahirkan anak durhaka.

Aku: Kau sebut aku durhaka?

Ia: Kau seharusnya sadar diri akan prilakumu selama ini terhadapnya. Ia punya hak untuk tak selalu diingat tapi dikunjungi, bertemu, bersetatap, berbincang yang selama tiga tahun ini tak pernah kau lakukan.

Aku: Jangan memperlakukanku seperti ini! Kau berkata seolah-olah aku adalah anak yang keras hati. Tak mau memikirkan perasaan orang yang melahirkanku. Menganggapnya telah tiada, tinggal kenangan.

Ia: Yayaya, Aku tau ada luka menganga ketika kau mengenangnya. Akupun amat sangat merasakan getirnya ketika berkali-kali menutup luka itu dengan sapu tangan ini. Aku mafhum dengan ini. Tapi kau harus faham bahwa kau kini kembali cengeng jika hanya menutup luka itu tanpa mau memyembuhkannya.

Aku: Apa maumu?

Ia: Pulang dan temui dia.

Aku: Tak bisa! Ini keputusanku. Jika aku pulang aku akan tetap tak tenang disana. Ini takkan menyelesaikan perkara. Aku disini sudah tiga kali. Akupun harus menggenapkan separuh perjalan dengan karib-karinku di lembaga legislatif mahasiswa ini. Aku tak sudi mengkandaskan perjalanan ini karena keegoisanku. Tidak! Cukup dua tahun terakhir aku hanya bisa berkaca-kaca tanpa melakukan apa-apa untuk sebuah perbaikan. Aku tak ingin menyesal karena pulang menginggalkan semuanya. Cukup! Ini tak bisa digugat.

Ia: masih saja kau berkelakar dengan hal itu. Apa kau pikir mereka semua memikirkanmu, memikirkan perasaanmu, memikirkan sebuah perbaikan berkelanjutan seperti yang kau idam-idamkan.

Aku: Aku tak peduli mereka memikirkan perasaanku ataupun perasaan sesamanya. Untuk yang satu ini aku tak banyak berharap, sungguh.

Ia: Tega kau memperlakukan ibumu seperti ini hanya demi orang-orang yang tak pernah memikirkan perasaan sesamanya.

Aku: Hentikan olokan tak berguna itu. Mereka sedang berusaha memahami bagaimana merasakan perasaan orang lain. Mencoba menginjakkan kaki disepatu orang lain. Menyemai rasa, menggugah hati untuk kata yang agung yaitu kebersamaan. Bersama-sama untuk sebuah perbaikan. Dan kau tentu tau itu jadi tanggung jawabku kini. Bagiku hanya seorang pecundang yang tidak menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik serta menghormati kepercayaan yang telah diberikan padanya. Dan aku lelah untuk jadi pecundang.

Ia: Kau tak lebih dari pembual yang seolah-olah tak pernah punya keluarga. Sungguh tega nian tetap membiarkan ibumu menangis tiap malam. Anak tak tahu adat!

Aku: Ini bukan masalah tega tak tega, tapi bagimana menjalani sebuah pilihan. Dan sejatinya aku bertanggung jawab penuh atas pilihan ini.

Selanjutnya ada sesunggukan tangis yang diam-diam meledak. Pelan namun terdengar jelas.

****************

Tangis itu makin terdengar kencang ditelingaku. Si penyimpan sapu tangan terperanjat dengan seseorang yang mulai menangis keras. Dia kini disebelah kami yang berhadap-hadapan angkuh. Kami mematung. Aku memberi isyarat meminta sapu tangan yang dipegangnya.

“Hei,hei jangan menangis disini…” ujarku sambil mengelap pipinya yang mulai basah tak karuan dengan sapu tangan itu.

“Pembicaraan yang menyedihkan. Kalian yang sama-sama terluka mengapa harus saling cerca? Apakah ini cara kalian untuk saling memahami?Tolong hentikan. Aku tak kuasa mendengarnya. Aku merasakan apa yag kalian yang rasakan. Karena aku, kau dan kau adalah kita dan aku adalah kau dan kau..” ujarnya sambil menahan sesunggukan yang mulai mereda.

Untuk beberapa lama suasana menjadi hening. Sapu tangan itu tetap lembab, cermin tetap berkabut, ia tetap tertunduk sesunggukan, ia yang lain tetap mematung.  Aku memandingi satu-satu dari mereka, seseorang yang sangat kukenal sekaligus yang tak pernah kukenal. Hingga pada akhirnya jingga menyeruak disetiap sudut pandanganku.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: