Cengengesan Banalisme

Dramatisasi fragmen rutinitas kembar #1

Sewaktu balita saya sering sekali mendengar kalimat bersayap:

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.

Kalimat ini sering menggaung di sekitar saya tanpa saya pahami betul apa maknanya. Sampai suatu fragmen rutinitas kembar mengantarkan saya pada pemaknaan yang sangat dalam terhadap kalimat ini. Baiklah, jika saya tulis fragmen itu akan seperti ini:

Dramatisasi fragmen I

Mata memerah, menguap, deg-degaan adalah rangkain gambaran yang tepat menjelaskan saya pagi ini tepat pukul 07.30 WIB. Apa pasal? Begini, pagi ini adalah kuliah perdana setelah libur hari raya. Mata memerah dan menguap pertanda belum tidur sama sekali. Deg-degan disebabkan perasaan senang yang mencapai ubun-ubun. Persis bocah yang mengalami gangguan tidur akibat tak kuasa menahan hasrat untuk plesir bersama keluarga keesokan paginya. Begitulah kira-kira.

Pagi ini pukul 07.30 WIB saya duduk-duduk ini menikmati adegan yang sangat teatrikal:

-Desauan angin pagi hari.

-Aroma embun pagi yang melambai-lambai.

-Daun yang jatuh perlahan dari ranting pohon.

-Derap langkah mahasiswa yang sangat komunal.

-Goyangan ekor anjing dengan kecepatan konstan.

– dan terakhir kodok yang naas terinjak mas-mas durjana penyapu jalan.

Tepat pukul 08.00 WIB saya bergerak ke kelas untuk mengikuti kuliah yang ditunggu-tunggu. Kalaupun saya gambarkan, seolah-olah dimana-mana terlihat taburan bunga mawar, gesekan biola yang sangat sentimentil dan kaki serasa melayang-melayang menuju kelas tempat kuliah itu diadakan. Indah bukan kepalang!

Dramatisasi fragmen II

Sampai di depan pintu kelas keanehan mulai menyeruak. Manusia-manusia yang ada di situ tak pernah saya kenal. Dari tingkat kepolosan struktur wajahnya, saya taksir mereka adalah mahasiswa baru. Adakah saya salah kelas? Saya mulai ragu.

Jadi kalau boleh bercerita sedikit, kuliah mata kuliah yang saya ikuti sekarang adalah pertemuan kali kedua. Pertemuan pertama saya tidak masuk dengan alasan ehmmm apa ya? Anggap saya saya sedang mengalami amnesia.:mrgreen:

Nah, saya meng-sms (sort message service) teman yang ikut pertemuan pertama. Saya mendapati kenyataan dari dia bahwa kelasnya adalah benar. Bah!

Tak kurang akal, saya mulai mencari petunjuk dengan cara menyelidiki kelas sebelahnya dan sebelahnya lagi. Hasilnya sebelas duabelas dengan sebelumnya: Dari tingkat kepolosan struktur wajah-wajah penguhi kelas itu, saya taksir mereka adalah mahasiswa baru.

Tepat pukul 08.15 WIB seorang teman  datang tergopoh-gopoh (terkadang saya agak pusing membedakan antara tergopoh-gopoh dengan terpongoh-pongoh 😦) menanyakan apakah kelas sudah dimulai. Saya jelaskan kondisi medannya kepada beliau.

//Dia terperangah// Dia terheran-heran// Dia kalut//Petir menyambar-nyambar//πŸ˜†

Secara tiba-tiba dia merogoh celana (celana dia bukan celana saya) dan mencoba menghubungi seseorang melalui telepon genggam jenis buah-buahan.

Sejurus kemudian kembali datang seseorang yang agak panik, wajahnya memerah tanda sehabis sprint 100 meter, keringat mengujur dimana-mana. Saya tingkahi ia dengan kalimat santun,

β€œSantai boi, tarik nafas. Omong-omong ente belum mandi yak?”

Selang beberapa menit datang seorang yang jika saya taksir dari struktur wajahnya jelas bukan mahasiswa. Dari wajahnya tergurat mantap asam manis pahit kehidupan. Tak lain, dia pasti seorang dosen.

Yang membuat kami terperangah adalah dosen ini masuk dengan gagahnya ke kelas yang kami sangka kelas mata kuliah yang kami ikuti. Kami tahu bahwa dosen yang mengajar mata kuliah yang kami ikuti bukan dia! Sekali lagi, bukan dia!

Oh iya, Saat ini kami bertiga masih di depan pintu kelas, sungkan untuk masuk dengan alasan yang agak irasional: malu-malu dengan mahasiswa baru.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

8 thoughts on “Dramatisasi fragmen rutinitas kembar #1

  1. lah ? gitu doang pik ?
    lu nulis nggantung gini…

    Posted by johan rio pamungkas | 17 September 2010, 6:32 AM
  2. balita lu bukannya dikampung terpencil nan jauh di ujung sana ya pik ? jadi kayanya nggak mungkin denger kata itu deh, orang lu baru belajar word waktu sma kan (tertawa senang:D)

    upik kepengaruh sinetron ih..!! nanti jadi makin lebay dan alay deh

    pik adegan temen lu merogoh saku celana mengingatkan gue saat lu bilang mau buka celana (nggak pake bohong loh)

    pengalaman yang sama pik, salah masuk kelas bersama maba, tapi bodohnya gue bersikeras kalau itu kelas gue walau dikasih tau si yuliniar lutfaida, kelas gue bareng dia.

    pasti gara-gara gue ketemu lu pik !(senangnya nyalahin orang)

    Posted by upik | 17 September 2010, 8:05 AM
  3. “dan terakhir kodok yang naas terinjak mas-mas durjana penyapu jalan.”
    –>*ngakak guling2* kasian mas2nya dibilang durjana (lebay) T_T
    lebaranan lagi sono ma mas2nye..

    bener2 dah dramaking…dramaking..

    Tapi standing applause buat tulisannya yang gokil, segokil ni anak: http://inozzer.wordpress.com/

    Dan saya tambah bersyukur, kirain orang dodol di dunia ini cuma saya doang, ternyata “TIDAK”πŸ˜€

    Posted by ayyeshakn | 17 September 2010, 12:26 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: