Cengengesan Banalisme

Dramatisasi fragmen rutinitas kembar #2

Dramatisasi fragmen III

Akhirnya teman saya yang memiliki telepon genggam jenis buah-buahan, menjelaskan dia mendapat kabar bahwa ada kemungkinan kelasnya dipindahkan karena tidak sanggup menampung lebih dari 50 orang. Ia memperoleh informasi berharga ini dari temannya.

Analisis situasinya seperti ini:

Mata kuliah ini diikuti oleh 3 angkatan di jurusan saya. Angkatan saya hanya 3 orang yang mengambil: saya, V dan A. Pertemuan pertama hanya V yang datang, saya dan A tidak. Celakanya sekarang V tidak datang. Informasi terputus sampai disini.

Dilain pihak angkatan kedua teman saya ini, siapa-siapa saja yang mengambil mereka tak tahu bayak. Hal disebabkan mereka juga tiada hadir pada kuliah perdana. Kedua teman saya ini hanya mengetahui satu nama yaitu E. E-lah yang membocorkan informasi bahwa ada kemungkinan kelas dipindah. Lagi-lagi informasi terputus sampai disini karena dia tidak hadir hari ini. Alamak!

Analisis masalah:

Tak ada satupun dari kami bertiga yang tahu siapa lagi yang harus dihubungi untuk mengetahui kemana kelas mata kuliah ini dipindahkan. Informasi terputus.

Penyelesaian:

Merenung.

Benar kata orang bijak bahwa kita perlu menjernihkan pikiran dengan cara bermenung untuk mendapatkan pencerahan. Voila! Setelah bermenung beberapa saat, kami mendapat pencerahan bahwa solusi paling realistis untuk menyelesaikan hal ini adalah bertanya kepada departemen jurusan tempat kami kuliah. Tak lain tak bukan.

Bergerombol kita kesana dengan optimisme darah muda, penjunjung tinggi kalimat agung: harapan itu masih ada.

Dramatisasi fragmen IV

Sesampainya di departemen jurusan, keadaan masih lengang. Selengang hati kami pagi ini😆 . Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB. Kami mencari-cari pegawai depertemen yang bertugas melayani mahasiswa dan dikenal serba tahu untuk urusan tempat-tempat kuliah. Mas G namanya. Orangnya ramah, santun, cepat, tangkas, lentur, belum tercatat namanya di Kantor Urusan Agama dan bisa diandalkan. Apresiasi setinggi-tingginya untuk mas G.

Tapi kami agaknya kami sedikit lupa bahwa departemen kami ini rutinitas kerjanya dimulai pukul 09.00 WIB. Begitu aturannya. Mengingat fakta yang buruk ini. Kita bertiga hanya bersitatap kosong. Kemana lagi kaki ini akan melangkah.

Kita terduduk diam, bisu, khusuk mengheningkan cipta. Hingga disuatu waktu keluar pernyataan yg mengiris hati, bak mendengar halilintar di siang bolong. Pekak telinga bukan main.

“Sadar gak bahwa kuliah yang kita diikuti hari ini dimulai pukul 11.00 WIB?”

Saya mulai mengingat-ingat. Aduhai! Kuliah perdana ini saya tak hadir karena ketiduran di indekost sampai pukul 11.10 WIB. Saat itu maag sedang melanda. Hah!

Benar saja kami langsung terbahak kencang, melihat betapa konyolnya hari ini mengigat 3 manusia berjenis kelamin pria yang datang pagi-pagi dengan semangat ‘45 ke kampus. Gagu mencari kelas yang berubah. Paling dramatis, ketiganya memiliki ingatan yang buruk soal jam kuliah. Sama-sama semangat dan sama-sama lupa. Super sekali.😆😆😆

Dramatisasi fragmen V

Cerita belum berakhir kawan. Kami bersepakat untuk menunggu sampai pukul 09.00 WIB untuk menanyakan kabar tentang pemindahan kelas ini. Selang beberapa menit telepon genggam berjenis buah-buahan teman saya ini menjerit histeris. Hati saya berdesir.:mrgreen:

Dia mulai bercakap-cakap, saya was-was.

Keningnya berkedut, saya menelan ludah.

Ia menegang, saya mulai tersedak.

Matanya terbelalak, saya muntah-muntah.

Bibirnya bergerak, mulai ingin mengatakan sesuatu. Sungguh dalam hati saya menolak mendengar apa prihal yang ingin dia sampaikan. Ia mulai berkaca-kaca, hati saya pecah berkeping-keping, berserak seketika mendengar fakta apa yang akan saya dengar selanjutnya.

Ia dengan lusuh setengah berbisik berujar,

“Hari ini tiada kelas. Diliburkan..”

Tiba-tiba saja dunia mendadak sepi. Kosong melompong. Tak ada kata, tak ada suara. Semua sendu bukan kepalang.

Akhirnya saya membayangkan fragmen ini ditutup dengan:

Kami saling berpelukan, air mata kami mengalir deras tak terkira. Masing-masing kami saling menguatkan, berjanji menjalani nestapa hidup ini bersama-sama.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Dramatisasi fragmen rutinitas kembar #2

  1. kunjungan pertama nich……………..salam kenal ya

    Posted by MENONE | 18 September 2010, 10:06 AM
  2. Lucu Pik.. Lebih lucu lagi gaya lo nyeritainnya lebai….
    haha

    Posted by iif | 19 September 2010, 10:09 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: