Pemantik

Dialektika

Ia teraduk-aduk, gemetar meningkahi riuh rendah air mata. Mudah, usap dengan sapu tangan kecil itu yang memberi kehangatan. Mudah saja.

Seraknya suara,  jingga yang merekah, saat yg tepat semilir angin membelai, menelisikkan kata-kata,

“Kesendirian di alam rahim adalah persiapan untuk kebersamaan di dunia. Kebersamaan di dunia merupakan modal menghadapi getirnya kesendirian di akhirat sana…”

Lawakan hidup yang mengerikan, ia mulai mereka-reka. Menggumam singkat, patah-patah,

“Ritme berulang terkadang membutakan…

Oleh karena itu sempatkanlah ia sejenak untuk mengevaluasi…

berkontemplasi…

dan mengigat-ingat dari awal apakah semua berjalan semestinya…

Jika tidak, perbanyak minum air mineral…”

Bagaimana bisa? Ia yang lain datang tiba-tiba. Enggan untuk meneruskan. Baiklah, sambil berlalu ia berhenti sejenak menegak-negakkan kepala,

“Jika kata tak lagi bermakna, kata seorang karib, biarkan punggung yang bicara.”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: