Kontemplasi

Serendipity

Air dalam gelas itu menguap, pertanda masih panas. Ia menyapih segumpal daun kering yang terkemas, mengaduk pelan bersama kristal kecil hingga melarut. Perlahan, warna menjadi pekat.

Selanjutnya beberapa bongkahan bening ikut serta bergabung, melayang-layang dalam semua yang telah melarut. Tiba-tiba saja setiap sisi gelas mengembun dengan sangat sentimentil. Embunnya mengalir memecah kebekuan permukaan gelas yang berlekuk tak bersahabat.

Ia menyodorkan dengan senyum mengembang mempersilahkan. Saya meraih merona, meresap pelan-pelan permukaan gelas yang berkabut. Lalu menyicipi. Tegukan pertama:

Di Negeri China, entah bagaimana ceritanya Kaisar Shen Nung akan minum air yang baru mendidih. Tiba-tiba saja beberapa lembar daun, tanpa permisi berenang di air mendidih itu. Sang kaisar tak mengumpat malah takjub, ingin mencoba air yang telah digoda daun tanpa tata krama ini. Ia menyeruput pelan, matanya terbelalak. Rasa air didihannya menjadi lain, menggetarkan lidah, memantik untuk mencoba lagi.

Bongkahan bening menari-nari dalam gelas. Tetap meningkahi, agar senantiasa sentimentil, mengembun. Tegukan kedua:

Bodhidharma, seorang biarawan mengakhiri pertapaannya selama 7 tahun. Merasa remuk-redam hingga dalam kelelahannya dia mengunyah beberapa daun yang tumbuh didekatnya. Ia kunyah perlahan daun itu. Ia rasakan sebuah sensasi dalam tubuhnya. Sensasi yang menyehatkan, menyegarkan. Beda kisah dari Negeri India.

Embun di gelas mulai menetes dengan vulome yang sama dengan kecepatan yang konstan. Basah, biarlah. Tegukan ketiga:

Hingga campuran air mendidih dan daun ganjil ini naik tahta menjadi kesayangan keluarga kerajaan. Pada tahun 1662 , ketika Raja Charles II dari Inggris menikah dengan Catherine dari Braganza, seorang putri berkebangsaan Portugis. Catherine mengawali tradisi minum campuran duan ganjil ini dalam istana.

Waktu berputar, prihal daun ganjil ini menyebar di keluarga bangsawan. Hingga pada abad ke delapanbelas meminum daun ganjil ini menjadi perayaan tersediri. Daun ini dianggap mempunyai nilai tinggi, disimpan dalam kotak khusus. Dikunci dengan pengamanan efektif. Satu kotak, satu kunci.

Isi gelas yang saya pegang tinggal seperempat, saya tatap iba bongkahan bening yang menyusut, megap-megap. Sudahlah. Tegukan keempat:

Sampai akhirnya daun ini di perkenalkan di daratan Eropa, Amerika, Asia dan Afrika. Menjadi komoditas yang menggiurkan. Penuh lika-liku. Hingga sampai jua di tanah Nusantara. Tahun 1684 tepatnya, dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer.

Alamak! Isi gelas menggenang seinci. Kini, sebentar lagi bongkahan bening akan mengalami pahitnya kesendirian. Tegukan terakhir:

Daun ganjil itu sampai jua ditangan saya, dalam gelas yang saya pegang. Memberi warna dan aroma tersendiri. Orang-orang jamak menyebutnya Teh.


Gelas telah kosong. Hubungan tendensional dengan teh kembali membuncah, membelit-belit. Sampai pada satu titik, diam-diam saya bergumam,

Es teh manis selalu menenangkan…

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

8 thoughts on “Serendipity

  1. bang..bang…😀
    kalo nanti bang upik sudah menyelesaikan skripsi, sebagai pengabdian terakhir, ingatkan saya tuk mentraktir bang upik minum es teh yak😀
    saya baru tau segitu terobsesinya bang upik ma minuman daun ganjil itu :D:D:D

    Posted by Choirunnisak Fauziati | 19 Oktober 2010, 3:06 PM
  2. Hati-hati esnya ya, gimana kalo dibuat dari air mentah?:mrgreen:

    Posted by Asop | 20 Oktober 2010, 1:43 PM
  3. upik…gw suka gaya lo nulis…ajarin gw!

    Posted by chika | 26 Oktober 2010, 4:41 PM
  4. setelah pakcik hirata, saya kira sahabat saya ini sudah patut disebut “seniman kata-kata”, kemampuan luar biasa anak melayu batubara hasil didikan alam..
    salut dah..🙂

    Posted by jefri | 27 April 2011, 3:35 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: