Pemantik

Klan: Prihal hari jadi

Setiap insan yang bernyawa tentunya punya pandangan yang berbeda dalam memaknai hari jadi. Sebagian berpendapat hari jadi adalah hari yang mengerikan: kulit mulai keriput, rematik mulai menyerang tulang belakang, pandangan mulai mengabur, gerogi tiap saat (gemetaran :mrgreen:). Jika ini dilanjutkan, titik klimaksnya adalah bertambah dekatnya dengan kematian. Titik.

Dilain pihak, sebagian berpendapat bahwa hari jadi adalah momentum pendewasaan diri: di satu loncatan ketika manusia semakin matang dalam menjalani hidup. Amboi! Alangkan indahnya hidup ini.

Siapa saja boleh memiliki kecondongan pada 2 pandangan ini tetapi tentunya kita, ya kita harus bersepakat bahwa fokus utama yang kiranya dicermati dari hari jadi adalah syukur dan refleksi diri.

Nah, boleh jadi hari jadi di keluarga inti saya merupakan bentuk syukur dan bisa menjadi refleksi diri. Baiklah, saatnya bicara tentang keluarga:

Mak:

Ia dilahirkan dengan hari jadi yang tercatat di akte kelahiran pada tanggal 15 Mei tahun sembilanbelas sekian-sekian. Tiada masalah disini.

Saya:

Di KTP saya sekarang dan kartu keluarga tercatat dengan sangat jelas saya dilahirkan pada 20 september tahun dirahasiakan.😆 Padahal, sejatinya setelah menyelidiki dan mengobservasi bagaimana saya lahir, hari jadi saya adalah 19 september. Nah, cerita dimulai dari salah kamprah Mak saya ketika mencatat hari jadi saya.

Begini, disuatu Senin magrib 19 oktober saya dilahirkan. Mak saya adalah wanita yang sangat terbiasa dengan penanggalan Qomariah[1] bukan Samsiyah/Masehi yang banyak digunakan orang. Harus dicermati disini, pertukaran hari di penanggalan Qomariah terhitung sejak matahari terbenam tak seperti penanggalan Masehi perubahan hari dimulai ketika jam menunjukkan pkl 00.00.

Pada saat pencatatan di kantor kepala desa, mak saya hanya mengingat saya lahir pada tgl 19 september waktu magrib ketika hari dan tanggal telah berganti, berhubung terpengaruh dengan penanggalan Qomariyah maka ia mengatakan pada juru ketik akte kelahiran bahwa saya lahir pada tanggal 20 september.  Habis cerita. Tinggal saya yang geleng-geleng kepala.

(Catatan kelahiran saya sudah saya tulis disini :D)

Sulung:

Ia dilahirkan pada 6 oktober tahun 1945 (jangan percaya pada tahunnya😆 ) Menurut cerita yang saya dengar,  hari lahir ini adalah bentuk kesemena-menaan juru ketik kantor kepala desa. Dalam pencatatan hari lahir sulung, pengingatan orang tua saya terhadap hari jadi sulung tiada masalah bahwa sulung lahir pada tanggal 6 agustus.

Masalah ini terletak ketika untuk membuat kartu keluarga harus menunggu waktu seminggu, sebulan bahkan setahun! Alasan mereka biasanya berkutat di masalah, “Belum ada cop suratnya pakcik”, “Sedang banyak yang beranak…” atau “Mesin tik sedang rusak pakcik jadi harus diperbaiki di Belanda.”

Nah, ketika kartu keluarga selesai, hari lahir sulung yang tercatat bukan tanggal 6 Agustus melainkan tanggal 6 Oktober. Bah!

Ada alasan rasional mengapa ini terjadi:

  • Sistem birokrasi yang buruk.
  • Gaji pegawai juru ketik dibawah UMR yang menyebabkan kurangnya gairah kerja.
  • Harga kopi sedang naik, sehingga konsumsi kopi pegawai kantor kepala desa harus dikurangi. Hal ini menyebabkan asupan kopi juru ketik berkurang. Konsekuensi logis yang terjadi adalah juru ketik mengantuk saat mengetik akte kelahiran. Akhirnya tanggal lahir sulung jadi korban kesemena-menaan kantuknya juru ketik.
  • Takdir Ilahi

Pa:

Sampai saat ini hari jadi Beliau menjadi misteri yang tak terpecahkan. Mengapa? Karena nenak saya buta hurup dan tak bisa membaca apalagi menulis. Sampai keluar keputusan pemerintah pada beberapa belas tahun setelah Beliau lahir bahwa orang yang tidak tercatat tanggal lahirnya di ditulis tanggal 31 Desember saja di KTP.

Dalam hati saya bertanya mengapa tidak sekalian tanggal 29 februari agar bisa diperingati setiap 4 tahun sekali[2] layaknya pesta olahraga semisal piala dunia. Mengerikan memang di zaman itu ketika rakyat Indonesia masih berlimpah buta huruf dan baca. Jika ingin menyalahkan, ini semua salah menteri pendidikan!:mrgreen:

akhir kata, Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh…


[1] Penanggalan ini memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).

Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun penghitungan ini lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun dengan penghitungan Masehi.

Nama-nama bulannya adalah Muharram,  Safar,  Rabiul awal,  Rabiul akhir, Jumadil awal,  Jumadil akhir,  Rajab, Sya’ban,  Ramadhan,  Syawal,  Dzulkaidah dan Dzulhijjah

[2] 1 tahun dalam kalender Masehi terdiri dari 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 45,1814 detik. Jadi, 1 tahun dalam kalender Syamsiyah tidaklah secara tepat 365 hari.

Jika diasumsikan 1 tahun sebagai 365 hari dan membuang kelebihan jam, menit, dan detik sisanya, maka setiap empat tahun akan mengalami kekurangan hampir satu hari ( 23 jam, 15 menit, 0,7256 detik).

Untuk menutupi hal ini, setiap empat tahun sekali diberi satu hari ekstra yakni pada 29 Februari. Penambahan satu hari setiap 4 tahun sekali itulah jamakdisebut sebagai tahun kabisat.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: