Pemantik

Bukan saya

Hari pertama:

Ia datang dengan tergesa-gesa, menyapa lalu bertanya dengan mengejutkan,

“Apakah sekarang kau sedang menyukai dan mencintai seorang wanita?”

“Eh”

“Iya, aku sedang bertanya.”

“Sebentar, ini terlalu tiba-tiba.”

“Karena hanya dengan tiba-tiba kau bisa menjawabnya. Jika perlahan bertahap, kau akan bersiasat untuk berdusta.”

“Kurang ajar.”

“Ayo cepatlah!”

“Sangat memaksa.”

“Lima menit!”

Saya mulai gelisah jika harus menceritakan ini. Tuhan ampuni saya.

“Baik, jika pertanyaannya apakah sekarang saya sedang menyukai dan mencintai seorang wanita, jawabannya tidak ada.”

“Akan tetapi jika pertanyaan diganti dengan apakah saya sedang menyukai dan mencintai lebih dari seorang wanita atau apakah saya sedang menyukai dan mencintai sesuatu. Jawabannya bisa jadi iya 100 %!”

“Sinting…”

“Ha ha ha”

“Baiklah, pernyataan pertama aku simpan. Pernyataan kedua aku pura-pura tidak mendengarnya.”

“Itu pilihan.”

“Kenapa tidak ada?”

“Oh itu, karena hati saya sudah penuh.”

“Kenapa bisa, bukankah kau punya ruang tersendiri untuk hal itu?”

“Ruang itu sudah saya kemasi dengan sangat baik. Lalu saya kunci dengan rapat tanpa celah.”

“Tinggal membuka kuncinya bukan?”

“Kuncinya saya hilangkan.”

“Ceroboh.”

“Apa boleh buat, saya memang pelupa.”

“Pada saat saya benar-benar lupa bahwa ruang itu masih terkemas dengan baik entah mungkin saja pada saat itu akan datang seseorang yang baik hati memberikan kunci itu untuk membukanya.”

“Menyedihkan.”

“Tapi mengapa kau menanyakan hal ini?”

“Karena aku mencintaimu.”

“Eh.”

“Ah, ku kira jawaban barusan setimpal atas kelakar yang kau sampaikan penuh dengan metafora itu.”

“Cerdas. Kelakar dibalas kelakar.”

“Baiklah, aku harus pergi untuk mencari narasumber yang lain.”

“Untuk?”

“Penelitian.”

“Obsesif.”

Ia pergi dengan tergesa-gesa sambil berujar dengan sangat mengejutkan persis ketika ia datang:

“Kau terlalu keras mengemas kenyataan dengan kelakar yang buruk dengan metafora. Dan itu sungguh menyedihkan…”

——————————————-  belum berakhir ————————————————

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

14 thoughts on “Bukan saya

  1. Mantep dah boi…. ahahaha

    Posted by Januardi Imam Nugroho | 15 November 2010, 7:24 AM
  2. astaganaga lagi….lu lagi jatuh cinta yak pik…Allahu rahmaaan…

    Posted by syahrazadhumeira | 19 November 2010, 4:27 AM
  3. Kalo hati udah penuh dengan cinta untuk orang lain, biasanya memang begitu, pasti ada alasannya.:mrgreen:

    Posted by Asop | 25 November 2010, 7:37 PM
  4. bah😆

    Posted by rosalina, anita | 26 Desember 2010, 8:47 PM
  5. 😀

    Posted by upik | 29 Desember 2010, 12:51 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: