Pemantik

#2 Bukan saya

“Obsesif? Bukan, hanya penasaran.”

Ssssttt… ketika membaca catatan ini. Saya harap dia tak tahu bahwa kau telah membacanya. Agak ganjil memang menjelaskan hal ini tapi saya yakin engkau kan mengerti jika telah mengkhatamkannya. Semudah itu.

Baiklah, jika selesai membaca catatan yang saya manipulasi ini. Mari kita duduk, minum es teh manis bersama. Tentunya bersetatap, mengingat-ingat, menimbang-nimbang, dan memutuskan dalam kelegaan yang tak biasa.

 

Bulan keduabelas

Dari balik dedaunan, matahari mulai kehilangan sinarnya, mungkin kebingungan karena awan sedang merajuk. Angin mulai jadi penengah yang tak bijak, mencoba mendamaikannya dengan cara mendekatkan. Tak tepat memang, kini redup sudah sinarnya, tinggal awan yang makin kelam. Ah sudahlah mungkin mereka akan berdamai lagi nanti. Pekik dedauanan yang kini digoda oleh angin.

Aku mendongak, mencoba menguping pembicaraan mereka. Gagal, yang ada hanya langkah kaki yang semakin dipercepat,

“Hujan, jangan marah…” aku berbisik lirih.

Aku pun tak kuasa untuk terus mempercepat langkah, sadar hari ini tidak membawa pelindung tubuh. Satu menit berselang. Hujan.

Disekitarku kini semua tampak berlari mencari tempat berteduh, menenangkan diri. Tak terkecuali aku. Mencari tempat kosong yang belum bertuan.

Tak ada yang kosong, sirna sudah. Pilihannya hanya berbasah-basahan. Membiarkan hujan meremas-remas kepala, mengalir melalui lekukan hidung yang turun perlahan ke dagu berulang-ulang. Hingga melebar tak karuan. Aku tersadar, menggumam tak tentu, “Sebaiknya kuterima saja pemberian payung kecil dari hujan…”

Entah mengapa saat ini terngiang-ngiang sebuah kalimat yang menusuk-nusuk tulang belakang bercampur dengan bayang-bayang ketenangan,

Hujan hari ini akan menghapus jejak hujan sebelumnya.

Semoga…

*****************************

Sesungguhnya aku tak bisa mencintai hujan seutuhnya. Ada hal yang bertolak belakang, tak bisa disatukan dalam sisi yang sama. Sejatinya bagai hutan dan hujan yang saling membutuhkan namun harus dipisahkan. Hutan membutuhkan hujan untuk membuatnya senantiasa hijau, berfotosintesis dengan nyaman sedang hujan terikat dengan hutan agar siklus penguapan dan pembentukan titik-titik hujan tetap sempurna.

Namun hutan akan tetap bertahan walau tiada hujan yang menyapa, sedang hujan akan selalu terbiasa walau tiada hutan yang mengadah , memberi bingkisan untuk langit.

Mereka harus dipisah karena jika saling bergantung kan tiada. Layak disematkan pada keduanya, kemandirian.

Ah, inklusi yang terekslusi.

Disatu sisi aku sangat menunggu kedatangan hujan. Merasakan semilir angin membawa rinainya, mendayu-dayu membasahi wajah bak peri kecil yang sedang membelai dengan sangat lembut buah hatinya. Terlebih, suasana lembab ketika ia membasuh bumi, menyerbakkan aroma tanah basah, menghipnotis untuk berlama-lama menghirup memenuhi rongga dada, terus menerus hingga melenakan jiwa.

Disisi yang lain, aku akan menghindari hujan, tak mau berlama-lama dengannya. Menyapa hujan membuatku gagal mencintai diri sendiri.

Sudahlah…

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: