Pemantik

Derau

“Bukan maksudku berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing…” (Chairil Anwar)

Hari pertama

Sambil terburu-buru, ia menata semua barang miliknya  untuk diselinapkan ke dalam tas, “Maaf, Aku tak bisa melanjutkan…” Ujarnya masih dengan bara di mata. Entah apa yang menyebabkan bara itu kembali menyala mirip seperti setahun sebelum ini. Ia berlalu, diam membisu tanpa mengucap sepatah kata pada saya. Derik pintu menutup, satu-satunya salam penutup. Yang tertinggal hanya nyeri di kepala.

Sungguh, nyeri ini bukan disebabkan karena dilempar benda tumpul semacam botol minuman plastik kosong, bukan pula karena dilempar secara ganda. Tepat di wajah ataupun hampir di wajah karena tertangkis dengan sempurna.

Nyeri ini hanya efek samping kehilangan logika deduktif: analisis situasi, analisis masalah, kesimpulan dan penyelesaian. Mudah saja, semua ini terjadi karena begitu tiba-tiba. Tak terduga.

*********************

Bagaimana perasaan saya malam ini? Oh jangan kau tanya kawan. Ini seperti makan tahu tanpa cabe rawit. Menyesapnya sangat lemah gemulai, pelan-pelan meyerap dengan sangat cepat. Lembut tak tertahankan. Tapi rasa apa ini. Mengapa ada rasa pedas yang bersembunyi di dalamnya. Pedas yang menggumul, memanipulasi semua sendi. Sial! tanpa sepengatahuan saya, tahu yang dicicipi telah dilumuri merica. Merica dalam porsi yang tak lumrah.

Hanya Tuhan yang Maha tahu, malaikat pun mungkin tahu, tinggal saya yang makan tahu…[1]

*********************

“Mungkin banyak yang mengatakan kaum Hawa itu lebih rumit dari kaum Adam. Sebetulnya tidak. Kaum Hawa dan Adam sama rumitnya…” Ia yang ada di depan saya seolah sedang menghibur seperangkat dengan menasehati.

“Kaum Hawa terlihat rumit karena kerumitan dirinya diungkapkan, tak ditahan-tahan sedang kaum Adam kerumitan dirinya disimpan, diselesaikan di dalam dan ditampilkan ke luar dalam kemasan yang sederhana…” Ia tersenyum simpul menatap sekeliling ruang ini.

Dengan ekspresi yang tak dibuat-buat ia berceloteh ringan, “Mengapa kita jadi membicarakan hal ini?”

Sontak dua pasang mata melirik ke arah saya. Mereka tersenyum lagi. Menuju ingatan beberepa puluh menit yang lalu.

Saya melongo dangdut, mencari celah untuk melarikan diri,

“Iya, akan saya selesaikan…”


Hari ketiga

Di kantin yang lumayan sepi, semacam dialektika tentang keruwetan sistem regenerasi kampus, politik kampus dan aktor-aktornya yang semakin banal. Yang akar masalahnya seterang mentari di tengah kemarau, mendewasakan diri untuk berdemokrasi, mengakui kesalahan. Hanya satu kata: Maaf. Subhanallah.

“Jadi gimana ini boi?” Saya mulai bertanya.

“Gimana yang mana ini?” Ia menjawab.

“Insiden sabtu malam itu, ada saran?” Saya bertanya lagi.

“Wah, saya juga bingung kalau ditanya saran…” Ia menjawab lagi.

“Saya ceritakan urutannya sahaja kalau begitu.” Mulailah mengumpulkan kepingan ingatan-ingatan yang berhubungan.

Hari petama

Sambil sesekali menatap bola daging yang bergelimpangan di dalam mangkuk bercorak merah putih. Jemari tangan paling digdaya, menekan abjad telepon genggam. Pikiran mulai mengukir makna. Senantiasa fokus untuk menekan derau[2] yang menggangu pemaknaan. Maaf menjadi penting untuk disampaikan malam ini. Saya salah, saya meminta maaf karena itu saya ada. Itu saja.

Hari kedua

Kau pernah mimpi aneh kawan? Sekadar mengingatkan, jika mimpi itu tak kau harapkan, tak ada hubungannya dengan ingatan sebelumnya. Buang jauh-jauh. Lupakan.

Jika mimpi itu berkaitan erat dengan hari-harimu. Cepat-cepat kau selesaikan, sebelum ia menguap dan berubah menjadi mimpi yang lebih mengerikan. Seperti mimpi malam ini: dilempar pisau, tepat di ulu hati.

**********************

Pesan pendek masuk, serentak saya mengernyitkan dahi membacanya,

“Aku tak suka mendengar gelak menertawakan posterku di suksesi fakultas…”

Sayapun membalas, “Saya bukan menertawan kau, tapi geli melihat poster teman kita yang ada jerawatnya…”

Saya mulai mereka-reka untuk besok. Harus ada penjelasan, pilihannya hanya bertemu. Dalam level komunikasi interpesonal, bersetatap akan menghasilkan makna pesan paling baik. Tak lain tak bukan. Pesan pendek tak cukup, tak ada bahasa non-verbal disini, termasuk emosi dalam wujud sebenarnya.

Hari ketiga

Kita mungkin tak bisa saling menerima. Ya, saya sadar itu. Kekakuan hari ini bolehkah saya lumpuhkan? Kaku berarti tak bergerak, tak bergerak tentunya kita akan mati perlahan. Mati takkan menghalangi untuk mengakhiri. Bisa saja namun semu. Adakalanya kita perlu bersetatap, duduk pelan-pelan, katakan semuanya. Hasilnya nanti kita pikirkan.

Kau lihat, ini saya duduk disini mengatakan dengan seluluhnya. Saya tak pernah menghina hanya sekadar merombak kembali kenangan tentang teman kita. Teman kita, bukan tentang kau apalagi tentang saya.

Saya mungkin pura-pura tak tahu kau sedang disapa purnama yang membuat goyah saat itu: antara saya dengan botol pelastik minuman yang kosong. Antara kebisingan gelak dimalam itu. Antara dentuman pintu dengan tatapan penuh nestapa. Tapi bolehkan saya mengatakan satu hal bahwa kita sudah cukup bijak untuk memilah tingkah.

Aduhai, saya tak mau berdebat tentang perasaan apalagi tentang harga diri. Ini tak masuk akal. Tapi maafkan saya jika harus terucap. Manusia tentunya punya sisi sentimentil dan lihatlah saya, hari ini ia menyeruak tak karuan.  Jangan biarkan sisi ini pecah berderai. Oh jangan…

Kita mungkin menyimpan kekesalan dalam jarak selusin luna. Sudah tumpahkan pada saya, akan saya terima lalu bolehlah saya berjanji akan menumpahkannya juga. Sama, tak ada yang tertahan. Sungguh ini nyata, tak dibuat-buat. Bukan untuk berbalasan, hanya ingin melegakan.

Dengan kerendahan hati, adakah yang bisa dilakukan untuk membalut semuanya? Jika ada, apakah maaf kita perlukan?

Tanpa berharap lebih, maafkan saya jika terlalu lalai mengatakan dan bertindak yang tidak tepat beberapa kali. Maafkan. Kau boleh belum rela untuk menyimpannya, saya menerimanya. Saya tahu bara itu belum padam, namun saya disini takkan memaksa  menyiramnya. Tiada asap hari ini.

Sebaliknya, saya ingin menyapih bara yang menggema di atas sisi sentimentil ini. Itu saja.  Percayalah.

Setelah ini, ujungnya tak perlu saya risaukan. Cukuplah hari ini kita bersetatap, mengungkapkan, melegakan tanpa tahu hasilnya. Kau bilang semuanya hanya perlu waktu maka saat ini saya cukupkan sudah.

Sudah…

Ijinkan saya mengemas sisi sentimentil ini. Sekali lagi.

**********************

Hari ketiga

Ia mulai berpikir-pikir dalam balutan wajah yang ditekuk-tekuk sedemikian rupa. Akhirnya ia buka suara,

“Kaum hawa kadang tak ingin dipaksa…”

“Butuh waktu dan ruang untuk berlahan…”

“Apakah saya hari ini terkesan memaksa?”

“Agaknya.”

“Salah?”

“Tidak juga, hanya ini seperti menguji sensitivitas mengenal watak…”

“Harus pandai-pandai menahan diri untuk terus membuka dan merasakan apa yang ia mau…”

“Kau sudah siap walau tanpa hasil?”

“Tentu, tujuan saya hanya ingin menjelaskan, mengungkapkan semuanya dan meminta maaf jika salah…”

“Diterima tak diterima itu memang haknya…”

“Kewajiban saya hanya meminta maaf, memaafkan adalah haknya…”

“Ya, memang seharusnya seperti itu. Apalagi yang mau dikata…”

“Ya, dan sebelum ini saya meminta maaf padamu boi, jika tak bisa menjaga keharmonisan di organisasi ini…”

Ia mulai mengatup-ngatupkan mata, mungkin sedikit kelelahan harus memikirkan semua.

“Kadang pernah berpikir untuk tak bermasalah dengan kaum hawa…”

“Kadang saya berpikiran seperti itu jua…”

“Tapi sayangnya ini dinamika untuk mengenal lebih dekat”

“Bukankah ini keindahannya, mengenal dan dikenal…”

**********************

Selang puluhan menit, sayup-sayup getaran kecil mulai merengek-rengek pertanda pesan pendek tanpa malu menyusup ke dalam kotak pesan.

Saya baca perlahan, ada haru entah darimana datangnya. Bara telah padam. Bendera putih dikibarkan.

Saat ini saya menghirup udara dalam-dalam lalu mencoba percaya, ini akan jadi keping ingatan, yang jika diingat mungkin akan tergelak lalu berdo’a,

“Semoga kita bisa memilih menjadi bijak seperti sedia kala. Itu saja.”



[1] Lawakan tentang filosofi makan tahu antara saya dengan seorang karib, dengan sedikit manipulasi.

[2] Derau adalah istilah dalam bahasa Indonesia untuk noise di Ilmu Komunikasi. Dalam beberapa model komunikasi, ambillah satu model komunikasi sederhana Shannon dan Weaver, seorang komunikator akan mengirim pesan melalui medium tertentu kepada penerima pesan. Kualitas pesan kadang kala akan terganggu bahkan mengubah pesan itu sendiri dengan adanya derau. Dalam model ini ditekankan perlunya pengulangan pesan untuk mengikis efek derau. Inilah sebab derau menjadi unsur penting dalam model Ilmu Komunikasi.

Dalam konteks yang lebih kompleks, derau sendiri bisa disebabkan karena budaya, sudut pandang serta pengkonstruksian realitas yang berbeda terhadap fakta yang sama ( Eriyanto: 2007)

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

16 thoughts on “Derau

  1. Upik, siapakah gerangan yang kau ceriterakan? Kenapa ngefek segininya sih..

    Posted by attraversiamo | 7 Januari 2011, 2:02 PM
  2. Btw, tulisanmu melayu sekali, Indah.

    Posted by attraversiamo | 7 Januari 2011, 2:03 PM
  3. hmm, boleh ketawa ga ya*berpikir sejenak..

    minta izin ketawa yak, hahahahahaha..
    tulisan yang sangat menarik, dibuat tergelitik bacanya,
    hahahahah.

    tapi semoga maknanya tetap sampai🙂

    Posted by muhamadarfandi | 7 Januari 2011, 2:43 PM
  4. gw pikir, dia gak pernah ngomong aku deh ke lo pik *sok tauk siapa orangnya*😛
    hati-hati pilih kata ganti pik

    Posted by rosalina, anita | 8 Januari 2011, 12:46 AM
    • sudah terduga pasti ada yang protes untuk hal beginian.:mrgreen:

      mudah saja, kata ganti orang pertama guwe itu tidak berima dan berkarakter kuat jika ditulis dalam rimba metafora. sorri.😆

      Posted by upik | 8 Januari 2011, 10:25 AM
  5. mau ikutan ketawa aja deh, sama kaya fandi..

    kira-kira sampai kiamat nih orang dua masih saling membalas ceracau nggak ya??

    Posted by yani | 8 Januari 2011, 12:57 PM
  6. blognya bagus…apalagi postingannya, dangdut banget

    btw salam kenal🙂

    Posted by Luthfi MH | 24 Januari 2011, 10:42 AM
  7. jika bukan orang spesial tentulah bang upik tak akan seperti ini😀
    semoga Allah memberi jalan ya bang, tetap semangat dan jangan pantang menyerah😀

    #siap2 ditimpuk sendal

    Posted by ninis | 19 Februari 2011, 10:35 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: