Raun-raun

Catatan seorang bujang

Kau tahu kawan, adalah sesuatu yang biasa dalam hidup ini prihal meninggalkan dan ditinggalkan. Sangat biasa. Akan tetapi kau harus sedikit mengerti bahwa semua yang biasa pada suatu momen perjalanan akan menjadi luar biasa. Bagi saya sebelum ini, ditinggalkan itu biasa sahaja, namun saat ini harus saya akui ditinggalkan adalah sangat menyakitkan, sedihnya bukan kepalang. Apalagi ditinggalkan karena mendengar petuah yang menyesatkan.

*************************

Selasa, 10 januari 2011 lewat tengah malam

Suasana di dalam gerbong kereta ini sangat sepi, sebagian penumpang sedang menikmati mimpinya masing-masing, sebagian sedang bermenung, sebagian memandang langit-langit, sebagian yang lain sedang mereka-reka menahan sesuatu, kapan sesuatu itu bisa dituntaskan. Yang terdengar hanya dengkuran orang di sebelah saya dan sesekali teriakan mas, mbak, ibu, bapak yang menjajakan dagangannya. Sesekali ditimpali dengan ucapan penuh tata krama penuh kesantunan ketika ia melangkahi kepala orang yang sedang tergeletak tak karuan, “Permisi mas, Permisi mbak…”


 

Baiklah, saya harus jujur sepanjang perjalanan ini saya sudah beberapa kali melangkahi kepala orang. Bukan apa-apa ketika bisikan gaib dari kantong kemih memuncak ia harus dituntaskan. Mau tak mau saya harus melangkahi kepala orang guna ke toilet. Pahitnya di kereta ekonomi ini, tak ada ruang yang dibiarkan kosong termasuk toilet. Jadilah saya harus meminta izin dengan orang yang tertidur di dalamnya untuk berbagi tempat. Anggap saja kami saudara kembar yang sudah terbiasa di kamar mandi bersama-sama. Melakukan kegiatan pribadi bersama-sama. Anggap saja.

Bisikan gaib itu kembali memanggil, namun dari tadi saya tahan-tahan sebabnya jelas: Pertama, botol minuman sudah kosong. Kedua, toilet di kereta ini tiada menyediakan air. Ketiga, sebuah pantangan ketika menunaikan bisikan gaib tak dibasuh dan disiram bekasnya dengan baik. Jadi menunggu pemberhentian stasiun selanjutnya lebih bijak.

Saya setidaknya mengerti bagaimana perasaan kaum hawa yang sedang disapa purnama. Sungguh perihnya bukan main. Keadaan emosi akan terganggu, wajah akan senantiasa cemberut. Saya mencoba menduga-duga hampir seluruh penumpang di kereta ini sedang menahan bisikan gaib dari kantong kemih yang telah penuh. Lihatlah wajah mereka. Tiada  senyum, yang ada  hanya cemberut, ditekuk sedemikian rupa.

Selang beberapa puluh menit kereta pun berhenti di stasiun, ehmmm saya lupa namanya. Baiklah, sebut saja nama stasiunnya bunga. Ya, kereta berhenti di stasiun sebut saja bunga. Saya bertanya berapa lama kereta ini akan berhenti, bapak-bapak  disebelah saya mengatakan kereta akan berhenti sekitar 30 menit. Kabar gembira! Saya bisa menuntaskan bisikan gaib di stasiun sebut saja bunga ini.

Sesampainya di pintu keluar gerbong, masih saya tanyakan lagi berapa lama kereta ini akan berhenti. Bapak-bapak yang berseragam kembali mengatakan hal yang sama bahwa kereta akan berhenti selama 30 menit. Hati saya bersorak, saya melenggang dangdut menuju toilet di Stasiun sebut saja bunga. Aduhai, hidup memang indah jika kita ikhlas menunggu.

************

Sesampainya di dalam toliet saya mencuci muka yang bentuknya tak karuan. Ini tentunya bisa dimaafkan karena setampan-tampannya seseorang ketika naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Jogja, keluarnya akan berubah menjadi kusut bak maling ayam yang diamuk massa.

Langkah selanjutnya adalah menuntaskan bisikan gaib ini. Namun ketika resleting celana baru terbuka setengah. Sayup-sayup terdengar sebuah pengumuman yang melemahkan jiwa. Begini bunyinya kira-kira,

“Kepada seluruh penumpang kereta api menuju Jogja segera bergegas karena kereta akan segera berangkat. Pasang sabuk pengaman anda…”:mrgreen:

Ini salah satu momen paling dramatis dalam hidup saya. Semua melintas bertahap dalam pikiran : dompet dan telepon genggam yang ditinggalkan di dalam kereta, wajah orang-orang yang saya langkahi kepalanya, gerak lambat kereta yang mulai bergerak meninggalkan saya. Tiba-tiba semunya terasa mengharu-biru, sedih berapi-api ditinggalkan kereta.

Saya langsung berlari tak karuan lupa resleting celana masih terbuka. Terus berlari, semua orang ingin saya tabrak, semuanya kepala orang ingin saya langkahi. Terus berlari, melankolis bak tokoh film india yang tak rela melepas sang kekasih pergi meninggalkannya naik kereta.

Tangan saya mengapai-gapai. Terus menggapai-gapai.

Sedikit lagi, sedikit lagi tangan saya mengapai pegangan.

Dan akhirnya, hup saya melompat ke dalam pintu masuk gerbong. Alhamdulillah.

Di dalam gerbong teman-teman saya di perjalanan ini tersenyum lebar lega sekaligus bahagia menikmati adegan dramatis mengejar kereta. Sungguh saya korban dusta bapak-bapak disebelah saya dan bapak-bapak berseragam yang sesungguhnya kereta tak berhenti 30 menita tetapi hanya berhenti 10 menit. Dan boleh jadi saya sudah kualat karena melangkahi kepala orang. Maafkan saya.

Akhir kata saya berkesimpulan bahwa:

Surga di kerata api ekonomi bukanlah mendapat tempat duduk tetapi bisa buang air kecil dengan tenang!

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “Catatan seorang bujang

  1. Anda berlebihan Bung,kami tidak tersenyum lebar lega sekaligus bahagia, mungkin lebih bahagia jika ada bahan yang bisa kami ceritakan ke anak cucu kami, “Teman saya pernah tertinggal di stasiun Cirebon”

    Hahahhaaa…

    Posted by Susi | 31 Januari 2011, 2:49 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: