Kontemplasi

Bukan saya: Penutup

“… dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”

(QS An Nur : 26)

Kau tahu, makan tahu sendiri itu sangat menyenangkan. Tahu-tahu semua terlihat luluh, lupa dan lena bahwa dunia telah berubah. Namun sayangnya makan tahu bersama lebih melegakan. (karena) Dan kau pun harus tahu, tahu yang baik adalah diketahui dan mengetahui. Saling tahu.

Oh tidak, kau belum mengerti? Baiklah untuk itu saya menuliskan catatan terakhir ini. Ya, terakhir. Semua harus disudahi bukan. Kau takut tahu? Ya, saya juga takut untuk tahu. Mari menjalani ketakutan ini bersama. Mari makan tahu!

********************

Dua bulan yang lalu saya pernah berkata bahwa terkadang kita harus berjauh-jauhan untuk saling mengerti indahnya kedamaian. Kau pun dengan dinginnya berfatwa bahwa jarak yang ada hanya kamuflase untuk saling menyapa, menanyakan kabar, sambil sesekali mencari alasan untuk bercerita tentang keseharian yang terlewatkan. Sampai disini saya hanya mengunci mulut. Tak kuasa untuk membela diri. Kau memang mengerikan.

Masih di bulan yang sama. Kau dengan senyum jemawa berkata dengan cairnya,

“Ah, kau agaknya kebingungan mencari alasan untuk berdamai denganku bukan?”

Nah, ini pertanyaan mengerikan yang pernah saya dengar setelah,

“Kau ingin membersamai hidupku?”

Aduhai, hidup tanpa pendahuluan itu mengerikan. Alih-alih ingin mengahaluskan makna, menyampaikan alur saja butuh penekanan khusus di tiap titik-titik kata. Itulah kau, mengerikan oh sungguh mengerikan.

Nah, biarkan sejenak saya menjabarkan pledoi ini tanpa protes darimu. Dan tentunya kau takkan bisa protes bukan? ha ha ha

Butuh satu bulan untuk mengurutkan kejadian tentang ruang dan waktu dalam rekam memori ini. Kau dengan kengerianmu dan saya dengan kebisuan yang fatal.

Oh, saya menyangsikan diri sendiri seperti apa kau menganggap saya dan seperti apa saya menganggapmu. Bagi saya kau sudah seperti tetesan hujan yang selalu mengetuk-ngetuk  jendela kamar saat saya hampir terlelap. Selalu sama tiap saat bumi sedang nestapa.

Sayangnya saya selalu diam, pura-pura tak mendengar, takut untuk terjerembab percikan rinaimu. Takut untuk menyapa, terjerumus untuk memintal mimpi, itulah pilihan saya saat itu sampai kini.

Alamak, bukan maksud saya untuk berpura-pura lupa. Tapi kau tentunya sesadarnya mengerti hati saya sedang penuh. Penuh dengan likunya sendiri, penuh yang dipenuh-penuhkan namun sejatinya masih ada sisi kosong.

Ah, ini mungkin pernah saya ceritakan, sisi kosong itu sudah saya kemasi dan dikunci dengan sangat rapat. Celaka, kuncinya saya hilangkan entah kemana. Alibi yang sempurna bukan.

Ehmmmm, kalaupun boleh bertanya, saya ingin menanyakan satu hal.

“Apakah mungkin kau yang sengaja menyembunyikannya?”

Ah, tidak mungkin. Mana mungkin kau bisa merampasnya. Seingat saya hanya ada satu kunci duplikat yang bisa membukanya. Kunci itu saya serahkan pada bidadari yang selalu menaungi rapuhnya asa, yang selalu memeluk langkah, yang selalu ada untuk menyapih kesunyian ini. Ya dialah Ibu saya.

Dusta kalau kau bersekongkol dengan ibu saya. Dan dusta pula jika saya tak percaya bahwa kau punya kunci itu. Oh tuhan, kembali saya harus berkata bahwa kau memang mengerikan.

Tapi tenanglah, saya takkan pernah berniat untuk menjamah dan menyesap kembali kunci yang mungkin ada di tanganmu. Mengajak dan memintamu untuk membukanya dengan persetujuan. Tidak, tidak akan saya lakukan.

Untuk itulah saya tulis catatan ini. Ketika kau baca saya sudah di suatu tempat dan membuat jarak yang sebenar-benarnya. Tak ada kamuflase, tak ada pertanyaan, tak ada cerita yang mungkin membuat luluh.

Inilah saya yang memilih melarikan diri, mencoba bertanya pada Tuhan,

Bisakah saya menjadi lelaki baik-baik?

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

6 thoughts on “Bukan saya: Penutup

  1. nice post…
    kunjungi ini
    thanks

    Posted by santi | 17 Februari 2011, 8:44 AM
  2. pak cik jatuh cinta cinta, eh? ha ha ha (duplikat gaya ketwa)

    menjadi baik atau buruk itu pilihan atau persepsi pak cik?
    tapi adang2 orang perlu tersesat untuk menghargai jalan yg benar. hahahaha #ngawur
    semoga tetep di jalan yang lurus dan makan tahu! hidup tahu!😀

    Posted by ninis | 17 Februari 2011, 2:14 PM
  3. setelah dibaca lagi baru nyambung.. hahaha
    tapi kali ini sepertinya lebih mengharukan wktu dibaca…
    dilema, oh dilema, bujang di tahun terakhir memang penuh dilema…
    semoga “bukan pakcik” itu bisa tetap jd lelaki baik2 ya…

    (sambil bertanya dlm hati sy masuk kategori yg mana) ha ha ha..
    …ada lembaran yang terlewatkan, yg dibuka seperti rinai hujan…

    apapun minumannya, makannya makan tahu! hidup tahu😀

    Posted by ninis | 18 Februari 2011, 12:38 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: