Pemantik

Limbung

“Love walks on two feet just like a human being, It stands up on tiptoes of insanity and misery.”

(Andrea Hirata: Padang Bulan)



“Kau pasti bercanda boi!”

“Bagaimana bisa selimbung itu?”

“Bah, kau pikir sekarang kau tidak limbung! Heh?”

“Tapi tak selimbung itukan?”

Nah dia mulai menyangkal generalisasi cerita yang saya sampaikan. Defensif tak tentu arah manusia satu di depan saya ini. Masih mabuk, melambai-lambai tak karuan seperti kombinasi benang basah dan ayam berkokok di malam buta.

Ketahuilah kawan, cinta dengan lawan jenis  itu kadang mengerikan. Bisa kau bayangkan, ia dimulai dengan jatuh dan diakhiri dengan putus pula. Hingga berujung dengan patah, dipatahkan atau mematahkan. Bukan main menakutkannya.

Alamak, jangan kau coba-coba untuk menanyakan hal ini kepada saya. Satu kalimat yang bisa saya katakan: Bagi pelakunya Cinta adalah gabungan unsur kegilaan dan kesengsaraan yang tak terbayangkan (Andrea Hirata: 2010). Cukup.

Kalimat ini sangat melekat di kehidupan saya, dahulu sewaktu kecil. Kisah lapuk nan usang tentang orang yang hilang tertelan zaman. Tapi tidak bagi saya.

**************

Saya tak tahu menahu entah apa yang sedang disesalkannya malam ini, saat orang-orang berkerumun ramai di tempat yang jarang disentuh kehidupan sosial bermasyarakat, di rumahnya ini. Bangunan goyah, tumbuhan liar dimana-mana. Sesungguhnya tak layak disebut rumah kecuali kelambu yang terpasang dengan antik. Kau lihat dia, sungguh tatapannya membuat pedih. Ia tersengal-sengal, ingin mengatakan sesuatu. Ah, mari saya jelaskan.

Ia bernama Abdul Salam. Disebabkan tipikal lidah melayu pesisir pantai dan fenomena salah ucap, Abdul Salam bermetamorfosis menjadi Bidul Solam.

Sepengetahuan saya Bidul Solam adalah seorang bujang yang hidup menyendiri dan mengalami degradasi akal sehat. Gila, begitu orang-orang menyebutnya.

Ia memang sering menggerutu tak karuan, emosional, kriting kumal, baju lusuh bolong dan membawa parang kemana-mana. Nah, parang ini sudah beberapa kali hampir membacok orang jika orang tersebut tak melarikan diri. Yang melarikan diri ini adalah orang-orang yang kerap mengolok-oloknya ataupun yang kurang amal hingga melempari rumahnya dengan batu krikil.

Di satu sisi ia sediam batu, tatapannya selalu sedu sedan seperti ingin dunia kiamat secepatnya. Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya. Berlalu bagai angin malam. Itu syaratnya jelas, ia tak diusik dan diperolok-olok.

Hal yang paling membuat saya ragu pada kegilaannya adalah ia (terkadang) membeli beras di warung, membeli ikan di pasar ikan dan mandi di langgar. Bahkan ia memasak dan mencuci bajunya sendiri. Seumur-umur hidup di dunia tak pernah saya liat orang gila berlaku seperti ini.

Namun satu hal yang mungkin membuat orang-orang mentakzimkan ia gila: ia seumur-umur tak pernah terlihat sholat dan mengaji di langgar[1]. Jadi kesimpulan saya saat itu, orang (muslim) yang tak sholat dan mengaji adalah orang gila.:mrgreen:

Maafkan kawan, lupakan ceracau saya yang satu ini. Ini sudah terpeleset ke perkara hidayah Tuhan yang dicari dan didapat.

**********

Baiklah, kau ingin tahu bukan mengapa ia bisa seperti itu? Ah, janganlah menyangkal. Mari saya katakan bahwa setiap orang punya hasrat keingintahuan yang menggebu-gebu terhadap perkara orang lain. Ini kebenaran umum dalam masyarakat yang komunal[2].

Jangan malu, karena kita segolongan. Golongan orang-orang yang ingin tahu perkara orang. Obsesif dengan hikayat orang lain, lupa dengan tanggungan sendiri.😆

Ada tiga gelombang hikayat yang bisa dirujuk untuk asal-usul Bidul Solam ini.

Gelombang pertama:

Ia adalah anak seorang saudagar kaya. Hidup dalam gelimangan kenikmatan dunia, namun satu ketika terpikat dengan gadis kampung sebelah. Ingin menjalin kasih. Ia tak mau diketahui ayahnya. Bukan sekufu mungkin menurut silsilah keluarganya. Lalu ia mencuri harta orang tuanya secara bertahap agar tak ketahuan, diam-diam untuk modal awal mengajak si gadis kampung sebelah kawin lari.

Istilah ini mungkin perlu dikaji ulang dan dicari padanan istilah yang tepat guna. Coba bayangkan bagaimana bisa orang kawin sambil lari?

Satu waktu, orang tuanya sadar ia mengambil uang orang tuanya diam-diam. Ia tak mengaku. Orang tuanya murka, ia disumpahi hilang akal jika tak mengaku. Ia tetap tak mengaku. ia diusir dari rumah.

Akhirnya jua, entah karena sumpah orang tuanya, entah karena gagal menjalin kasih dengan gadis kampung sebelah, kini ia menjadi linglung, senang menyendiri dan mengalami gagal kejiwaan secara serius.

Gelombang kedua:

Ia ditinggal pergi kekasih. Ia patah arang. Ia putus harapan lalu kehilangan tampilan akal sehatnya. Ia mengalami degradasi cinta secara fudamental. Titik.

Gelombang ketiga:

Ia pergi dari rumah karena tak direstui untuk menikah. Menikah dengan pilihan hatinya. Ia menyendiri, sedih berkepanjangan hingga sampai sekarang. Kau tahu kawan siapa pilihan hatinya yang tak mendapat restu orang tuanya: Mahkluk halus perempuan penghuni pohon beringin paling besar di kampung ini!

Nah itu hikayatnya. Kau tinggal memilih gelombang yang keberapa. Itu hak yang bersifat personal. Tak ada paksaan. Tak ada tekanan. Pelan-pelan sahaja.

**********

Ia masih terlentang di tempat peraduannya, menatap kosong, masih ingin berkata namun nafasnya patah-patah. Tersengal-sengal tak karuan. Ia mulai tak tenang. Mengais-ngais barang-barang di sekitarnya.

Entah siapa yang mengusulkan. Tubuhnya mulai digotong orang-orang yang mengerumininya. Ia mulai berontak, namun inilah akhir kekuatannya. Ia tak mampu melawan tangan-tangan orang yang menggotongnya ke dalam bak sebuah mobil pengangkut pasir. Entah dibawa ke dukun entah dibawa ke rumah sakit. Terus terang saya tak tahu pada saat itu.

Tanpa saya tahu, ini adalah akhir saya melihat mata sendu, mata kesepian, mata yang seperti tak menerima kehilangan itu.

Orang-orang berlalu, tempat ini kembali sepi seperti sedia kala. Seperti malam-malam sebelumnya. Hanya ada derau angin yang pelan-pelan masuk menelisik melalui celah bangunan yang goyah ini.

Besok harinya tersiar kabar di sudut-sudut warung kopi, pengumuman di speaker besar langgar, perkumpulan tukang gosip. Temanya adalah kematian Bidul Solam. Kematian seorang bujang tertuduh gila yang memilih untuk menyendiri, kesepian seumur hidup dan patah arang karena gagal untuk mencinta.

Semoga ia tenang disana. Wahai pakcik penelusur jalan sepi nan perih yang bernama kesendirian bin kesepian.

Ah, kematiannya yang membuat saya bertanya-tanya. Terkadang membuat ulu hati terasa nyeri. Nyeri berkepanjangan. Maafkan tak usahlah saya tulis disini pertanyaan itu baiknya.

**********

“Jangan terlalu percaya dengan asmara boi[3], jatuh cinta itu biasa sahaja[4] tapi kau siap menanggung konsekuensi logisnya?”

“Kunyanyikanlah dululah lagu paling cerkas yang tepat untuk saat ini: ‘Percuma berlayar jika takut tenggelam, percuma bercinta jika takut sengsara~[5]

“Tak kuat? Nikahi atau puasa sana[6]! ha ha ha”

Entah bagimana ceritanya ia tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang mengajak saya untuk ikut limbung juga,

“Jikalau jodoh itu diperjuangkan. Bagaimana dengan kita ini yang tak pernah mengenal wanita dalam jarak dekat?”

Alamak, hanya satu hal yang ingin saya katakan padanya:

Limbung karena perkara cinta

adalah penyakit gila nomer 2! [7]


[1] Langgar adalah diksi lain dari mushollah atau disebut jua masjid kecil.

[2] Menurut penelitian selama 20 tahun seorang profesor sosiologi di Kanada: Bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa (selain Pemerintah Amerika Serikat) yang selalu tertarik dan ingin ikut campur untuk perkara orang lain ataupun negara lain. *bohong👿

[3] Cukilan dari lagu seroja, lagu klasik yang diaransemen ulang di Film Laskar Pelangi.

[4] Ini adalah lagu yang cukup berkesan , dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca.

[5] Sedikit gubahan lirik Jatuh Bangun . Sebuah lagu dangdut yang masih terdengar gaungnya sampai sekarang, Pertama kali dipopulerkan oleh Meggy Z.

[6] Mungkin sebagian orang menganggap terlalau mengada-ada. Sungguh sampai sekarang saya masih percaya bahwa 2 hal ini adalah bentuk ketegasan dalam menjalin hubungan. Sebetulnya ada satu pilihan lagi yaitu: MAKAN TAHU!:mrgreen:

[7] Lagi-lagi petuah yang saya dapatkan dari Pakcik Andera Hirata dengan nomer penyakit gila sesuka-suka saya.😆

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Limbung

  1. wahahaha…
    Jatuh cinta itu biasa saja, bang.
    Biasa saja menular dengan biasa.
    Seperti cerita cinta kebiasaan.
    😀

    Posted by Syarif | 5 Maret 2011, 1:07 PM
  2. mungkin jodoh bang upik akan dipaket sama Allah seperti paket bom yang marak belkangan ini😀

    Posted by ninis | 27 Maret 2011, 7:49 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: