Pemantik

Hikayat sebelum lelap

“Karena gelap melindungi diri kita dari kelelahan…”

(Eross Chandra: Jangan Takut Gelap)

Kudampingi tidurmu malam ini, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, ketika kau terlelap, menguapkan kelelahan sepenuh waktu menghadapi dunia yang baru dan semakin mengherankan. Setelah itu aku mengusap-usap, mengembus-hembuskan keningmu yang menghangat lalu berjingkat pelan-pelan memadamkan lampu. Hingga tiada cahaya lagi.

Kau selalu merengek, merayu dengan cara yang biasa kau ucapkan. Setengah dibuat-buat memang, “Jangan matikan lampu, aku takut gelap…” Ujarmu memandangku manis. Tapi kau akhirnya akan menyerah jua dan lupa karena rasa kantuk telah menyergap.

Kau takut gelap bukan karena hehantuankan? Iya, sejenis badut yang sering tampil di kotak penerang malam ataupun di panggung tirai-tirai raksasa.

Hantu oh hantu. Mengapa kau harus takut padanya. Percaya padaku, ia tak pernah ada dalam wujud nyata.

Hantu merupakan wujud ketakutan yang tertanam dalam alam bawah sadar insan yang bernyawa karena sejarah peradaban bangsanya.

Bangsa Eropa sering menggambarkan hantunya dengan simbol-simbol kekuasaan karena sejarah Eropa, sejarah yang dipenuhi dengan drama kekuasaan dan penderitaan rakyat.

Layaknya vampir dengan jubah dan kebiasaan menghisap darah. Ah, jubah dan menghisap darah merupakan ejawantah ketakutan akan penguasa yang senang memeras rakyatnya.

Di tanah kita ini, hehantuan lebih mengenaskan, kuntilanak. Kau tahukan, sejenis wanita yang berjubah putih berkeliaran malam-malam senang tertawa tak jelas arah.

Bah, ini tentunya ejawantah ketakutan kaum pria yang tak senang dengan kaum hawa yang bebas mengekspresikan dirinya di dunia ini tanpa kekangan yang melanggar rambu rasionalitas.

Lain lagi dengan pocong, badan terikat dan hanya melompat-lombat menggunakan pembungkus tubuh yang itu-itu saja. Ini cerita tentang gambaran ketakutan akan kemiskinan yang menjerat tubuh, tak bisa bergerak utuh, menggunakan pakaian yang tak berganti setiap hari.

Seru bukan? Nah, jadi kenapa kau harus takut. Kalaupun nanti ada orang yang ingin menakut-nakutimu dengan cerita bualan. Katakan saja kuntilanak dan pocong perlu dikasihani. Mengapa kuntilanak harus tertawa sendirian dan pocong mengapa harus terus melompat? Mereka pasti kelelahan tentunya.

Seharusnya ini bisa jadi bahan lelucuan kita berdua. Sttt, tapi ini untuk kita berdua saja ya. Janji?

Bayangkan, mengapa kuntilanak terus tertawa dan pocong senantiasa melompat-lompat? Oh begini, kutilanak terus tertawa karena geli melihat pocong terus melompat-lompat saja kerjanya. Pocong terus melompat-lompat bukan karena tak bisa membuka ikatan tubuhnya namun ia akan telanjang jika membuka ikatan tubuhnya.

Jika ia telanjang tentulah akan makin meledak tawa kuntilanak. “Sudah hantu telanjang pula..” mungkin itu olok-olokan yang akan kuntilanak katakan. Ha ha ha

Sudah tak ada yang perlu ditakutkan bukan? Ehm, kau sudah kelelahan tampaknya. Kini, sudah saatnya kau untuk mengalun mimpi. Besok malam kita lanjutkan lagi hikayat sebelum lelap ini.

**********

Kudampingi tidurmu malam ini, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya. Ketika kau terlelap, menguapkan kelelahan sepenuh waktu menghadapi dunia yang baru dan semakin mengherankan. Setelah itu aku mengusap-usap, mengembus-hembuskan keningmu yang menghangat lalu berjingkat pelan-pelan memadamkan lampu. Hingga tiada cahaya lagi.

Kudampingi tidurmu malam ini, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya.  Hingga subuh menjelang, Kau akan diam-diam masuk ke kamarku, berjingkrakan di atas tubuhku. Akupun akan terkaget-kaget lalu menatapmu heran. Sayangnya kau hanya akan berceloteh seringan kapas dan sebening embun pagi,

“Ayah, setelah sholat subuh kita akan main kemana hari ini?”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

18 thoughts on “Hikayat sebelum lelap

  1. upik, ini seru !!!

    Posted by yani | 10 Maret 2011, 10:49 PM
  2. yani suka anak kecil yak?:mrgreen:

    Posted by upik | 11 Maret 2011, 11:32 PM
  3. betapa beruntungnya anak manis yang memiliki ayah seperti upik🙂

    Posted by saya | 25 Maret 2011, 2:00 AM
  4. iya, semoga upik benar-benar menjadi ayah yang seperti ini ya. janji? *eh
    siapa? siapa aja boleeee :3
    ha ha ha

    Posted by saya | 27 Maret 2011, 4:30 PM
  5. sepakat sama yang punya nama “saya”…
    untung saya anak manis yang memiliki ayah seperti bang upik hahahah meskipun cuma setahun saja kontrak jadi anak dia :D:D:D

    dan betapa beruntungnya yang jadi anak bang upik selamanya…😀
    bang upik ayah yang baik :D:D:D:D

    “dan anak2 yang baik akan mendapatkan ayahayah2 yang baik akan mendapatkan anak2 yang baik pula” (ninis, dalam kengawuran 2011)😀

    Posted by ninis | 27 Maret 2011, 7:58 PM
  6. sepakat sama yang punya nama “saya”…
    untung saya anak manis yang memiliki ayah seperti bang upik hahahah meskipun cuma setahun saja kontrak jadi anak dia :D:D:D

    dan betapa beruntungnya yang jadi anak bang upik selamanya…😀
    bang upik ayah yang baik :D:D:D:D

    “dan ayah2 yang baik akan mendapatkan anak2 yang baik pula” (ninis, dalam kengawuran 2011)😀

    Posted by ninis | 27 Maret 2011, 7:59 PM
  7. @upik : makan tahu sahaja :p
    @ninis : “semoga nanti saya juga memiliki anak yang manis seperti anak upik yang manis” (saya, dalam keabsurdan 2011)😈

    Posted by saya | 27 Maret 2011, 10:36 PM
  8. mungkin yang pake nama “saya” itu adalah jodoh yang dikirmkan kepada bang upik lewat paket blog😀
    ahahhaha

    habisnya dia pengen punya anak manis kayak anaknya bang upik… hahaha

    saya au kok punya ibu yang lucu kayak diav yg bernama “saya” (agak aneh)

    tapi ya sudahlah, makan tahu sahaja :D:D:D

    Posted by ninis | 29 Maret 2011, 12:55 AM
  9. @ninis : saya lucu? eh, masak?😯
    betapa beruntungnya orang tua yang memiliki anak manis seperti
    kamu🙂
    @upik : yakin kenal?😈

    Posted by saya | 29 Maret 2011, 10:53 PM
  10. pas gue baca komen anak tak dikenal itu, gue udah nebak2 kalau itu Ninis -_-. Bener aja, dia mengakuinya.

    Posted by bengkelbudaya | 22 November 2011, 8:25 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: