Kontemplasi

Lara

“Apabila wafatnya anak Adam, putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara:  Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

 

Saya masih menunduk, menyesap sepenuhnya semua rasa kelabu dua hari beruntun saat ini. Ia yang sedang lara tetap tersenyum tenang menatap kami rembuk dihadapnya. Ia masih ingat untuk menanyakan kabar, cerita perjalanan hingga di sini, berterima kasih untuk membersamai harinya hari ini. Masih dengan senyumnya tenang.

Walau masih ada duka, walau masih ada lara,  ia  mengemasnya dengan tenang dan tabah. Ini yang membuat saya harus bercermin diri. Cermin itu membayang di depan dengan sangat jelas.

**********

Rona di cermin itu mulai menampilkan seorang wanita. Wanita yang senantiasa setiap subuh, dengan tangan lembabnya menyentuh ari kaki pelan-pelan hingga saya terjaga lalu mengerjap pura-pura. Ia akan berujar, “Subuh dek.” Selanjutnya ia  beranjak dari alas sujudnya untuk menyapih beras dan menanaknya. Saat itu saya tahu begitu menyenangkan menanak nasi kala subuh. Pelan-pelan melebar hingga begitu merindui subuh.

Paginya ia akan bergegas dengan gayung merah mudanya dan seember air, mengguyur berbagai jenis bunga yang ia rawat, mengajaknya bercakap, mengembus-hembuskan daun yang masih muda sambil berbisik, “Cepatlah tumbuh mekarnya bunga…”

Puas dengan monolog sentimentilnya, ia pertama-tama akan memanggil kucing kesayanganya lalu mengelus-elus bulunya yang tiap bulan ia basuh.  Si kucing akan menggoyang-goyangkan ekornya sambil membolak-balik tubuhnya yang gembul. Ia takkan kuasa untuk menggelitik yang dibalas dengan gigitian pura-pura dari si kucing sambil sesekali dibarengi dengan senyumnya yang merekah.

Pagi hari tanpa sepengetahuannya saya mengucapkan,

“Apapun, aku mencintai wanita ini…”


Rona sang wanita mulai memudar berganti dengan sosok lelaki yang tak asing bagi saya. Lelaki yang tiap pukul 21.30 WIB selalu menggendong dan dengan hati-hati memapah ke tempat tidur. Saya tahu ia akan melakukan ini karena saya sedikit sadar, hanya enggan, mata menutup untuk beranjak.

Petang tiba ia akan mengajak untuk berbelanja di pasar ikan dengan sepeda sepenanggungannya. Agar kaki-kaki kami tidak tergerus jeruji sepeda yang berputar. Ia mengikat kaki saya dan sulung di depan atas besi tempat duduk di belakang.

Di perjalanan ia akan berhenti sejenak ketika kami sudah mulai rewel sambil menepuk masing-masing kepala, saling berbalas tidak setimpal. Ia berhenti lalu menatap kami, kami akan reda. Ia hanya akan menggeleng, memeriksa ikatan kaki kami lalu ia akan mengayuh lagi. Kami hanya cengengesan sambil menepuk kepala lagi, kali ini dengan proporsi yang setimpal. Ia tetap mengayuh sambil menggeleng sesekali.

Sesampainya di pasar ikan ia selalu menularkan ilmunya pada kami, “Ikan yang segar itu. Coba kalian lihat ke sini, seperti ini: Matanya masih jernih, dagingnya kenyal, insangnya merah dan sisiknya masih bersinar.”

Saya takkan kuasa menahan gembira sambil ingin berteriak girang,

“Dia, lelaki Melayu nomer satu!”

**********

Semua memudar, saya masih mematut-matut cermin yang kini telah sumir. Penuh derau. Bertanya-tanya bagaimana saya akan menghadapi dan menjalani ketika mereka pulang, sudah siapkah saya dan seteguh apa.  Sudah cukupkah saya bisa membuat mereka lapang dan memberikan ketenangan ketika semua telah menjadi keping kenangan. Sudah cukupkah saya?

Saat seperti ini ingin saya bersimpuh, meraung sejadi-jadinya hingga akhirnya menyerah dan semua terasa lengang…

“ Allah, Ya Tuhanku. Ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil. ”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

10 thoughts on “Lara

  1. ….makanya, punya anak itu bagaikan investasi (ada yang bilang obligasi😀 ).:mrgreen:

    Posted by Asop | 27 Maret 2011, 9:17 AM
  2. Ayahku, lelaki melayu nomor satu. Yang pertama kali mengajariku naik sepeda, memanjat pohon -sedikitpun tak peduli meski ibu mencerewetinya dan menyuruhnya berhenti mengajari saya memanjat-, menonton bola, berjalan-jalan atau berlari kecil di taman kota kecil itu. Menjemput saya sepulang sekolah hanya untuk mengajak saya melihat jambu nenek yang tengah berbuah.

    Ah Upik, tanggung awab kau anak muda, membuat saya menangis siang-siang dan ingat kenangan sama ayah ibu tercinta.

    Posted by iif | 27 Maret 2011, 5:13 PM
  3. selalu bikin pengen kalo nulis T.T

    Posted by ninis | 27 Maret 2011, 7:48 PM
  4. hihihih.. ternyata kmrin salah etik :D:D:D:D

    yg bener,

    selalu bikin pengen nangis kalo bang upik nulis T.T

    Posted by ninis | 29 Maret 2011, 12:50 AM
  5. 😯

    Posted by upik | 29 Maret 2011, 1:08 AM
  6. salam buat ayah ibu upik.. ;D

    Posted by bujangkatapel | 2 April 2011, 10:13 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: