Pemantik

#2 Hikayat sebelum lelap

Kau menanyakan hal yang membuatku merana, prihal apakah kau kucintai. Ingin rasanya menggugat orang asing itu, yang membujukmu untuk menuduh dan memaksaku menyetujui bahwa cinta harus senantiasa diucapkan tiap pagi ditasbihankan melalui sederet kalimat dramatis melankolik.

Ataukah aku harus selalu memelukmu dan membisikkan kalimat ganjil, “Aku mencintaimu, maka apakah aku harus mengungkapkannya tiap pagi, dengan kata-kata yang sama?”

Mungkin saja kau akan senang. Mungkin saja, tapi tidakkah nilai rasa kata ini akan senantiasa berderai pelan-pelan ke sumbu paling bawah,  setidaknya sebongkah lema sakral itu akan tergerus oleh helaian detik yang jatuh dari pucuknya.

Oh, tidakkah cukup tiap pagi kita minum secangkir besar susu sapi hangat yang kubuat sambil memamah roti selai rasa coklat yang sudah ditiriskan. Kita akan bercerita banyak tentang mimpimu saat malam membuncah di pelupuk mata. Setelah itu kita akan terbahak saat aku bercerita tentang kejutan-kejutan kecil di hidupku yang semakin muram.

Oh, tidakkah cukup tiap pagi kita menghirup udara yang bersih bersama, menikmati burung ajaib yang selalu tepat waktu untuk meriakkan kicauan kecilnya. Kau akan mencari-cari dimana ia berada, aku yang akan selalu setia mengangkat dan medudukkanmu di atas kedua bahuku. Lalu aku akan mengarahkan telujukku, menunjuk wujud burung kecil ajaib itu. Kau akan kegirangan, seolah-olah mendapat karib baru setiap pagi.

Dan hari ini kutambahkan, khusus hari ini. Sebelum petang menjelang, aku akan memenuhi permintaanmu membuatkan kue yang tak pernah kudengar berlapis pula dengan tampilannya menyerupain kue yang tidak sempurna, gagal mengembang. Namun entah mantra apa yang ada didalamnya sehingga membuatmu terlena dan memaksaku membuatkannya untukmu. Hanya untukmu.

Oh, tidakkah ini cukup.

Baiklah, kupastikan keseharian ini lebih membahagiakan daripada sekadar mengatakan kata-kata ajaib itu yang aku sendiripun tak khatam benar artinya. Jadi kita tak usah terlalu menghiraukan ajakan orang asing itu, yang memintamu menanyakan dan membujukku mengucapkan kalimat ganjil tiap pagi padamu sebagai wujud pembuktian.

Karena itu tak perlulah merajuk lagi. Berhentilah untuk terus membungkam. Tidakkah kita cukup membersamainya tiap pagi, setidaknya kita sama-sama mengerti aku mencintaimu, laiknya embun yang selalu mengisi pagi

**********

“Jadi, angin apa yang membawamu mengajakku ke tempat ini?”

Ia menatap lekat-lekat, mulai bersiap menginterogasi. Saya menoleh sebentar, menyusun kalimat.

“Ehmmm, tidakkah saya boleh berterima kasih atas pemberian bingkisan beberapa hari yang lalu ke rumah kecilku oleh seseorang yang baik hati?”

“Ah, hanya bingkisan kecil. Toh itu juga atas bantuanmu memberikan ide untuk mengkomodifikasikan rumah kue-ku.”

Ia mulai tertawa. Ah, tawanya sangat menyenangkan. Kau tau kawan, ada berbagai jenis tawa di dunia ini dan dari sekian banyak jenis tawa, sedikit sekali yang dikaruniai tawa yang menyenangkan. Tawa bak serenyah apel yang baru dipetik. Ia dari sedikit orang yang dikaruniai tawa jenis ini.

Wah, setidaknya satu hal lagi yang harus saya ceritakan padamu kawan, disamping tawanya yang renyah. Hal lain yang kau harus tahu adalah ia sangat terobsesi dengan keharmonisan warna pakaian yang digunakannya.

Bagi saya yang menyenangi kemeja kotak-kotak, celana bahan bewarna hitam dan sandal gunung, tentu ini akan sangat merepotkan. Oh, tidak baginya. Malah sebaliknya, ia akan puas jika menggunakan warna yang serasi. Seperti mendapatkan kebahagiaan bertingkat. Itu katanya.

Ia salah seorang yang memutuskan menambah populasi gadis berkerudung di Negeri ini – keputusan hidup yang sepatutnya dihargai- dan efek logisnya ia selalu memperhatikan keserasian warna kerudungnya, lapis pertama kerudung dengan atasan maupun bawahan yang sedang dipakainya.

Jika khilaf menggunkan warna antara atasan dan bawahan, walau kejanggalan warnaya tipis sekali, ia akan tak nyaman seharian. Obsesif kompulsif. Kau tahu pekerjaan yang sedang digelutinya saat ini: Tata busana dan Tata boga. Beberapa bulan yang lalu ia mendirikan toko yang menjual beraneka kue, ia menyebut nama tokonya dengan rumah kue. Menarik bukan? Ha ha ha

“Tapi bukan kebiasaanmu mengajak tiba-tiba kesini. Kau yang lebih menyenangi tempat sepi dibanding toko mie cepat saji kapitalistik dari Italia ini?”

Hei, hei jika  saya ajak kau ke tempat sepi akan timbul keinginan-keinginan purba nantinya. Tentunya akan ada pembentukkan realitas yang tidak menyenangkan di sekeliling kita melalui mata-mata yang jahil. Saya tak masalah, tapi kau?

“Oh, jikalau kita bercakap-cakap di tempat sepi misal kuburan.  Tentunya tak lazim, kita tidak sedang meminta petuah dari makhluk-makhluk halus bukan?”

Ia tertawa sambil memilih menu.  Menatap saya sambil mengangkat alis untuk meminta memilih jua. Saya menunjuk mie Italia dengan bumbu nusantara dan nimuman bersoda. Kombinasi yang buruk memang. Ia hanya menggeleng-geleng sambil berdecak prihatin. Sejurus kemudian ia mengedarkan pandangan, memberikan isyarat pada lelaki yang berseragam kompak dengan warna dasar kertas daftar pilihan menu serta logo toko makanan ini. Lelaki berseragam mendekati kami.

Hei, hei tentunya kau sudah tahu kawan modus tempat ini yang saya pilih. Ya, toko ini memiliki kejelian dalam membuat bentuk tempat makan, warna ubin lantai, warna dasar daftar menu serta pakaian pramusajinya terlihat harmonis dengan logo produk. Serasi! Nona berkerudung di depan saya ini pasti senang bukan kepalang di tempat ini. Pilihan yang bisa dipertanggungjawabkan bukan.

Lelaki berseragam memastikan semua pesanan, kami berdua mengangguk dan ia pun berlalu.

“Bolehkah aku berterus terang?”

Saya tersedak.

“Kupikir kau tentu punya tujuan mengajakku kesini. Tak tanggung-tanggung, lihat kau memilih tempat yang harmonis dari segala sisi, tentunya untuk menjamin perasaanku kondusif. Dan ini pastinya sikap kompromistismu yang kau korbankan demi sesuatu yang kau harapkan dariku bukan?”

Saya tertawa dan memuji analisis deduktifnya. Saatnya berterung terang. Saya pikir ini akan lebih mudah.

“Ehmmm, bolehkah saya juga berterus terang?”

“Tahukah kau, ia menjadi agresif semenjak menjamah bingkisan darimu. Ia membujuk, sedikit memaksaku membuat kue seperti yang kau kirim beberapa hari yang silam.”

“Terus terang saya menyerah, tak mengerti mengapa kue yang gagal mengembang itu begitu memikat hatinya. Awal-awalnya saya menolak untuk membuatnya tapi ia merajuk, tiba-tiba terus diam. Berhenti untuk bercakap-cakap. Aduhai, kau memakai mantera apa dalam racikan bumbunya?”

Meledaklah tawanya. Saya hanya terbengong-bengong. Mencoba berpikir bagian mana dari cerita barusan yang berkomposisi homor dalam jumlah yang signifikan untuk memancing tawa.

“Oh tuhan, kau hidup di zaman apa? Sekutu sudah dekat bung?”

Hei, tentunya saya tak hidup di zaman awal-awal kemerdekaan.

“Bingkisan yang ku kirim kemarin itu namanya brownies panggang dengan varian hasil pengembangan rumah kue-ku. Kupikir setiap orang tahu jika melihat wujudnya alih-alih mencicipinya.”

Maaf, saya tak mencicipi bingkisan itu nona, sungguh tak tertarik sama sekali. Hanya ia yang denga mata bebinar-binar menikmatinya sendirian. Ya, sendirian. Saya hanya menatapnya saja. Terkagum-kagum.

“Jika tak keberatan, bolehkah kau mengajarkan cara membuatnya? Setidaknya kau harus bertanggung jawab akan kesulitan saya belakangan ini, he he he”

Saya mulai mengambil pulpen dan buku kecil di saku celana. Saatnya mencatat. Ia mulai menatap takjub, mencoba mencari setitik dusta dimata saya. Agaknya ia tak mendapatkannya. Ia menghela nafas.

“Aku bertanggungjawab atas kesulitanmu karena bingkisan itu.  Sebagai bentuk pertanggungjawaban, aku akan memberitahu resepnya tapi kau maukah kau berjanji untuk tidak menyebarkannya, cukup antara kau dan aku. Sepakat?”

“Dengan senang hati.”

“Tapi jangan senang dulu, butuh  latihan dan keahlian untuk menghasilkan brownies yang sempurna.”

“Eh?”

Ia kembali tertawa renyah dan mulai memicingkan matanya yang basah karena geli dengan ekspresi wajah saya yang berubah-ubah. Sangat komikal katanya. Dan Sepertinya  ia menikmati ketidakmengertian saya atas kue gagal yang disebutnya brownies itu.

Kau tahu kawan, orang yang ingin saya gugat saat ini adalah menusia penemu kue celaka ini. Orang asing. Orang yang tak pernah saya kenal. Bagaimana bisa ia membuat kue tak mengembang dan membuat saya kerepotan. Pun membuat saya terlihat seperti pelaku dosa besar karena tak tahu menahu dengan nama kue celaka itu. Kau tahu, dimana sekarang kini ia berdiam?

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

14 thoughts on “#2 Hikayat sebelum lelap

  1. Wah, roti dan brownies…😳

    Posted by Asop | 6 April 2011, 7:34 AM
  2. ini kurang seru😳 cerita yang baru lagi dong❗ tentang saya yang tidak berkerudung *eh

    Posted by saya | 9 April 2011, 1:32 AM
    • kurang seru ya?😕
      Cerita selanjutnya tokoh protagonisnya saya bunuh ah.😈

      tapi, makasih loh udah sudi membacanya.😉

      Posted by upik | 9 April 2011, 2:38 PM
      • iya, kurang seru. titik. ha ha ha😈
        cerita tentang saya yg tidak berkerudung dong, pasti lebih seru😉

        ehmm, rasanya cerita ini tidak mengalir seperti biasanya. di bagian-bagian tertentu ada sesuatu yg tampak dipaksakan harus menjadi bagian cerita, entahlah. di cerita yg baru nanti cobalah lebih mengalir seperti biasanya🙂

        Posted by saya | 9 April 2011, 8:53 PM
        • asik ada kritik nih. Deskripsikan dong dibagian mananya yg tak mengalir. Kan sayanya bisa belajar banyak.:mrgreen:

          saya yang tak berkerudung? siapa dia?😯

          Posted by upik | 9 April 2011, 10:33 PM
          • “tidakkah cukup tiap pagi kita minum secangkir besar susu sapi hangat yang kubuat sambil memamah roti selai rasa coklat yang sudah ditiriskan” sepertinya ada yg mengganjal di bagian ini, entah apa😯
            bagian lainnya coba cari sendiri :p

            siapa? bukan siapa-siapa. hanya manusia biasa dan tak berkerudung😈

            Posted by saya | 9 April 2011, 11:47 PM
  3. ehmmm, terima kasih atas kritiknya.😉

    Posted by upik | 10 April 2011, 12:25 AM
  4. past igara2 abis nonton film tentang ‘brownis’ hahah

    Posted by ninis | 16 April 2011, 7:26 PM
  5. dari tulisan ini ketauan bgt nih bang upik cita2nya punya jodoh yang:
    1. bisa masak
    2. pake jilbab dan/atau jilbab dobel hahahahha
    3. pinter (analisis deduktif)
    4. cool
    5. kemungkinan besar nih bang kupik lagi naksir sama mbak2 yg gemar memakai baju yang padu-padan. kira2 saya tahu lah siapa ahhahahhaha

    semoga anaknya segera mendapat emak baru😀

    Posted by ninis | 16 April 2011, 7:51 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: