Pemantik

#3 Hikayat sebelum lelap

“Jadikanlah makanan sebagai obat bagi tubuh kita…” (Hippocrates)

 

Syahdan, seorang ibu-ibu pembuat kue terkejut bukan kepala mendapati kue coklat yang dipanggangnya bantat. Ia merenung-renung apa salahnya, apa dosanya hingga kue yang dipanggangnya gagal mengembang.

Ia mengumpat, mulai menyalahkan umurnya yang ditelikung waktu hingga ia menjadi pelupa. Lupa bahwa dalam buku resep membuat kue yang baik dan benar terpatri besar-besar sebuah petuah: Jangan lupa menambahkan baking powder!

Dalam literatur cara membuat kue yang baik dan benar kala itu wajib hukumnya menambahkan baking powder, sejenis tepung yang bisa membuat kue mengembang dengan indah. Jika tidak akan dicemooh, dikucilkan dalam lingkungan sosial pembuat kue.

Hah! Ia mulai ragu untuk meniriskan kue bantat itu. Lagi-lagi ia mengumpat, bagaimana pula ia akan meneruskan karir sebagai pembuat kue jika ia lupa pada hal maha penting ini. Kue bantatnya ditatap iba. Iba pada dirinya sendiri. Menghela nafas panjang, menyerah pada takdir, ia bertakzim sudah saatnya pensiun dari dunia peracikan kue.

Di saat yang sama Tuhan agaknya tersenyum dan menjawab kegundahannya, seorang temannya yang juga pembuat kue bertandang ke dapur miliknya. Ia kelagapan ketika temannya muncul tiba-tiba dan menanyakan kue apa yang dibuatnya. Temannya tak percaya kala itu dan menertawakan kue coklat bantatnya. Namun sesama pembuat kue punya rasa empati agaknya.

Pelan tapi pasti ia menanyakan perkara bantatnya kue tersebut dan karena diselimuti rasa penasaran yang hebat. Ia mencicipi kue coklat bantat yang tergeletak menyedihkan.

Oh, selesai? Tentunya tidak. Setelah mencicipi kue coklat bantat itu temannya terbelalak tak percaya di lidahnya tertancap mengakar kuat sensasi legit, penuh, padat dan manis di lidah. Bak gosip murahan, cerita nikmatnya kue coklat bantat menyebar melalui jejaring tetangga, lingkungan sosial pembuat kue sampai ke kelas borjuis. Pada momen itu terjadilah revolusi sosial dalam membuat kue yang baik dan benar. Kue bantat akhirnya diterima dengan pelukan hangat secara sosial kemasyarakatan.

Voila! Pada tahun 1897, di dalam buku masak Sears Robert Catalouge, tercatat dengan manis kue bantat itu dengan nama Brownies. Sebuah kue coklat bantat, tanpa baking powder.

**********

“AIH!”

Saya terpana, tak kuasa untuk tak berteriak mendengar ceritanya yang penuh drama.

“Jadi kau tentunya tahu nama menunjukkan bahan dasar brownies, brown berarti coklat. Jadi bahan dasar brownies adalah coklat.” Ia kembali berfatwa.

Baik nona, akan saya dengar dan catat baik-baik.

Ia berceloteh bahwa brownies umumnya dibagi dalam 4 kategori; brownies panggang, brownies kukus, brownies bakar, brownies goreng. Ia lalu menuturkan cara membuatnya dan hal-hal yang harus dihindari. Mantap jaya.  Ah, tapi mengesalkan ketika ia mulai menyentil dingin,

“Aku ragu kau bisa membuatnya. Karena sepertinya kau membenci brownies…”

Saya tak bisa membantah, hanya berakrobat dengan memainkan pena yang warnanya telah mengusam jenuh.

“Seorang yang mencintai dunia olah rasa, akan mengerti benar kualitas masakan ditentukan akan kecintaan pada makanan yang diolah tangannya sendiri.”

“Dan mahfum sangat bahwa memasak bukan perkara diri sendiri tapi perkara orang yang menikmati hasilnya juga. Ada interaksi sosial serta tanggung jawab moral, saling menerima dan saling memberi.”

Ia, ia saya mengerti. Tapi Brownies menjungkirbalikkan pegangan hidup saya dan leluhur saya tentang kue. Saya tak menerima hal itu!

“Ah, tapi..”

Sedari tadi ia membenahi letak kerudungnya yang sedikit bergeser beberapa sentimeter. Ia langsung memotong, melanjutkan menetak pendirian saya dengan pendekatan yang brilian,

“Saya percaya kok, kau bisa jika mau sedikit memberi ruang untuk mencintai brownies ini. Mencoba mencintai hal baru bukan dosa besar bukan?”

“Jika gagal juga nanti membuatnya, datanglah ke toko kueku. Bawa serta ia yang sedang merajuk. Ada potongan harga khusus untuk pengunjung kecilku…”

Ia mengerling penuh kemenangan.

Lalu tak disangka, tak dinanya ia menggoyang-goyangkan telunjuk, melebur membulat diatas jempol dengan mimik yang dibuat-buat,

“Tiada kata menyerah dalam perjuangan. CEMUNGUDH!!!”

“…”

“..”

“.”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “#3 Hikayat sebelum lelap

  1. “CEMANGAATH!”😀

    Posted by Asop | 19 April 2011, 9:20 AM
  2. romantis…. #tumben bang upik :p

    Posted by ninis | 22 April 2011, 10:28 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: