Cengengesan Banalisme

Potret diri

Gelap. Tengah malam telah tiba. Seperti yang sudah-sudah. Dingin. Suara gemeretak langit-langit kamar memecah kejenuhan malam ini. Setidaknya getaran-geratan langit-langit yang diinjaki tikus-tikus yang sedang bermanuver cukup menghangatkan.

Tiba-tiba semua terang benderang, seseorang mengerjap-ngerjap, mengucek-ngucek matanya. Mengumpulkan kesadaran. Tetunduk-tunduk ia masuk ke kamar mandi menunaikan kandung kemih yang penuh, bebersih lalu membasuh muka.

Ia melirik telepon genggamnya, kaget, terpana pada angka 12.12 a.m yang tertera mengejek di layar lalu meracau bak pemabuk kelas berat. Buru-buru ia tekan tombol on/off di komputer jinjingnya.

Nama Panggilan

Baik. Mari sejenak kita berkenalan dengan tokoh utama di catatan ini. Nama tokoh utama kita ini Taufik Akbar. Bujang melayu yang sedang menyesap ilmu di Negeri Jawa. Hampir separuh dasawarsa tak pulang kampung. Di kehidupannya sekarang, ia dipanggil Upik. Sejarah penasbihan nama ini telah ia tulis di sini dan di sini secara manipulatif dramatis.

Namun hanya sedikit yang tahu bahwa panggilan Upik itu sebelum ia mengiinjakkan kaki ke Jawa, sangat sakral. Hanya satu orang yang berhak dan pantas mengucapkannya, lain tidak: Maknya.

Namun semenjak menginjakkan kaki di Jawa, panggilan Upik turun kasta secara semena-mena. Ini disebebkan senior-senior di jurusannya yang senang melakukan kekerasan simbolik di masa awal pengenalan jurusan: menekan secara halus sampai menengah, mengubah nama adik juniornya secara membabi tidak buta. Tidak lucu sama sekali.

Bayangkan nama karibnya Muhammad Erlangga Ratnawan bermutasi menjadi Gaga, Lady Gaga? Atau Arya Sandayanto Pamungkas bermutasi menjadi Sandai, Sandai kek di pantai? Eldorido Zona Indra bermutasi menjadi Dori, Doriemon? Dan mungkin yang paling dramatis jika ada nama Sapiarno boleh jadi akan menjadi s-a-p-i. SAPI.

Oh Tuhan, dunia memang kejam dan senior memang durjana!

Tokoh utama kita ini pun tak luput disasar oleh senior-senior durjana dari Taufik Akbar disingkat dengan jenius menjadi Barbar. Namun ia memegang teguh petuah nabi terakhir dan menistakan nasehat William Shakespeare soal nama. Karena nama bukan sekedar rangkaian huruf, nama adalah do’a dan harapan serta hikayat yang melekat didalamnya.

Singkat cerita karena ia tak ada ide mengganti nama selain nama Upik, ia lalu meminta nama barbar diganti menjadi Upik saja yang notabene panggilan khusus dari Maknya, dan singkat cerita lagi seniornya setuju.

Sejak saat itulah dan sampai kini karibnya, teman-temannya, persekongkolannya, senior-seniornya, adik-adik angkatannya, dosen-dosennya, tukang bakso, tukang mie goreng, tukang sapu kampus, tukang fotokopi dan siapapun yang pernah mengenalnya di tanah Jawa ini memanggilnya u-pe-i-ka. Upik.

Jadi mari kita sebut jua tokoh utama kita ini UPIK.

**********

Upik mulai mengetik beberapa paragraf di microsoft office word 2007 sambil membolak-balik buku. Ia tiba-tiba tercenung, diam beberapa detik. Bengong. Menggaruk-garuk rambutnya yang keriting.

Ia buka buka file musik koleksinya dan memilih beberapa lagu sendu. Menurutnya lagu sendu mampu membantunya mendapatkan iluminasi, pencerahan. File Wulan merindu.mp3 jadi lagu pembukanya kali ini. Ia masih tercenung dan menggaruk-garuk rambutnya yang keriting.

Ia tak percaya mengapa gatal padahal baru tadi sore ia keramasi rambutnya yang keriting. Ia jua tak percaya rambut keritingnya disarangi kutu, lebih-lebih ia tak percaya jika dijangkiti ketombe. Kembali ia tercenung dan mendongak,

“Hoi! Kupikir mungkin aku sudah mulai gila, tapi jika pendengaranku sedang tidak bermasalah, kau, seseorang yang entah dimana, sedang membicarakanku, kegiatanku dan rambutku, heh!?”

“Pertama, rambutku tidak keriting tapi IKAL. Camkan itu baik-bai! Kedua, kalaupun kau ingin membicarakanku, pelankan suaramu. Suara kau mendengung, itu sangat mengganggu. Ketiga, aku akan memotong jika ada penuturan yang tidak beres.”

“Lanjutkan racauanmu, ehmmm setidaknya racauanmu cukup menarik, masih ada yang berniat membicarakanku ini.”

**********

Rambut

Baik. Upik kembali menggaruk rambut keritingnya yang masih tetap gatal. Ia mengaduh karena kulit kepalanya mulai lecet. Tiba-tiba ia teringat beberapa pertanyaan jenius orang-orang, mengapa di keluarganya hanya ia yang berambut keriting.

Ini pertanyaannya jua sewaktu kecil dan dengan santainya Maknya pernah mengatakan bahwa ia adalah anak Bidul Solam, orang kurang akal berambut keriting di kampungnya. Maknya dengan tertawa-tawa mengatakan ia adalah anak yang dipungut dari Bidul Solam.

Sejak saat itu ia mulai memperhatikan Bidul Solam dari kejauhan, mencatut-catut kemiripan ia dengan Bidul Solam. Sayang tak ditemukan kemirapan selain rambut yang keriting. Sejak saat itu pula ia sering membongkar surat kelahiran, akte kelahiran dan menemukan bahwa ia anak kandung.  Ia sadar-sesadarnya Maknya sedang berdusta.

Pada Saat mempelajari biologi di SMA, ia akhirnya mengerti rambut keritingnya adalah gen resesif yang dihasilkan dari gen kedua orang tuanya yang intermediet. Dari pelajaran biologi jua ia mahfum bahwa rambut lurus dan keriting sama. Hanya unsur belerang dalam rambutnya saja yang tidak merata. Bertumpuk pada salah satu bagian yang menyebabkan melengkung sedemikian rupa.

Tapi saat itu ia tak mengerti mengapa standar kaum hawa yang cantik diidentikkan dengan rambut lurus bukan keriting?

**********

“Heh! Kau, kurang ajar! Sudah kubilang rambutku IKAL! Ah, suka-suka kau sajalah…”

“Tapi sayang sekali sekarang aku mengerti mengapa wanita dengan rambut lurus dianggap cantik: Semua karena persekongkolan produk kecantikan dan media. Produk kecantikan jualan dan media tempat yang pas untuk mempromosikan jualan. Media dapat imbalan iklan, produk kecantikan dapat menjajakan dagangannya.”

“Produk kecantikan menanamkan ide, imajinasi, mimpi, khayalan melalui media bahwa standar cantik adalah berambut lurus melalui iklannya. Maka pesan yang diinginkan adalah belilah peroduk kecantikan maka kau akan cantik. Dan lama kelamaan jadilah kebenaran umum bahwa cantik adalah berambut lurus. Alangkah malangnya yang berambut keriting. Dan sedihnya, mereka yang berambut keriting jua ikut membeli produk itu demi dibilang cantik. Sekian.”

“Dan beruntunglah aku yang kau bilang keriting ini tidak dianggap cantik. Maka jika rumusnya seperti itu lelaki yang berambut lurus layak disebut cantik. Ha ha ha”

**********

S

Upik masih tercenung, dan mengkedut-kedutkan keningnya mencoba memahami setiap kalimat yang dibacanya. Memang sudah beberapa hari ini ia kesulitan memahami buku berbahasa Prancis tentang Deridda yang dibelinya dengan pertimbangan yang tidak matang. Untuk apa?

Oia, sekarang ia sudah menempuh semester kedelapan maka sudah seharusnya ia menyusun S. Menurutnya S adalah istri sedang pembimbingnya adalah mertua. Mertua menempati peran yang strategis dalam hubungannya dengan istrinya: punya posisi tawar yang signifikan dalam menentukkan keberlangsungan hidupanya dengan istrinya.

Tema yang ia sedang kaji adalah stereotip yang berkembang dalam masyarakat Indonesia bahwa bangsa Melayu adalah bangsa yang malas, lamban, cepat puas, tidak punya ekspektasi akan masa depan, dll.

Ia melihat, terlebih berasumsi bahwa novel-novel Andera Hirata jadi juru kunci pelurus terhadap streotif negatif yang melekat di jidat masing-masing orang melayu bagi jutaan pembaca novelnya. Maka dari itu, ia bertekad membuktikan asumsi ini melalui pisau bedah analisis wacana dan semiotika dekonstruksi Derrida.

Hal lain ia setidaknya sebagai seseorang yang mengalir darah melayu di tubuhnya punya impian ingin mendekonstruksi, memilah, memilih lalu merekonstruksi stereotip Bangsa Melayu menjadi lebih baik serta punya alasan untuk bersetatap dan berbincang empat mata dengan salah satu penulis terpujinya: Andrea Hirata

*********

Cerita Ilusif

Upik kini berselancar di dunia maya, menutup buku yang membuat keningnya berkedut beberapa menit. Karena jenuh, akhirnya ia menilik kitab tampang serta ruang pekicau yang dipenuhi galauan lewat tengah malam.

Terkejut ia tiba-tiba melihat salah satu dinding kitab tampangnya. Di situ terbaca teman seangkatan fakultasnya yang telah memilih nikah muda sebentar lagi menjadi ayah. Wah, berita yang menyenangkan.

Ia cukup kagum dengan teman-temannya yang menikah muda, namun sayangnya ia belum berniat mengikuti jejak temannya ini. Diam-diam ia mulai memupuk niat untuk tak menikah, membujang saja seumur hidup sepertinya menarik, pikirnya. Sebabnya ia tak akan menikah tanpa tahu apa tujuannya menikah, sudahkan ia siap menjadi tauladan bagi keluarganya, dan mau diasuh seperti anaknya nanti dan bla bla bla. Sampai sekarang wacana menikah adalah misteri yang ia sendiri tak tertarik untuk memecahkannya.

Namun ini akan berbeda di dunia maya. Ia beberapa kali membuat cerita ilusi di sini, di sini dan di sini. Cerita ilusif bagimana ia menjadi seorang ayah yang mempunyai seorang anak. Sangat ilusif. Cerita ini tentunya karena pengaruh orang-orang sekitarnya, filem, komik dan catatan-catatan setengah nyata karibnya yang sangat disenanginya.

Namun sampai sekarang ia belum mau melanjutkan cerita ilusif itu karena di khayalannya ia ingin membunuh tokoh utama di cerita itu. Akan tetapi sebagian dirinya tak mengijinkan. Maka terjadilah gaungan-gaungan yang mengusik ketenangannya malam hari. Sampai saat ini belum ada kesepakatan, maka cerita ilusif itu sementara waktu tidak akan ia lanjuti.

**********

Ah, sampai jua di penghujung tulisan. Untuk itu biarkan tokoh utama kita ini yang menutupnya:

“Apa ya kira-kira penutup yang bagus, kalau wassalamualaikum sahaja boleh gak?

“Ehmmm. Oia, penutup tulisan ini yang layak diganjar dengan kalimat, dengar baik-baik ya.”

“Narator yang menggunakan sudut pandang orang ketiga pasti selalu sok tahu!”

 

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

13 thoughts on “Potret diri

  1. Cukup, kalau nyambungnya ke skripsi, cukup!😡

    Posted by Asop | 4 Mei 2011, 1:20 PM
  2. tag banalisme itu memang sudah semestinya termasuk roman obsesif, dualisme ilusif, dan narsisme akut. kisah nyata.:mrgreen:

    Posted by aryapamungkas | 5 Mei 2011, 12:47 AM
  3. gw tunggu lo jadi seniman ah pik.
    eh jaman skarang cw rambut ikal yang cantik tauk, makanye kalo lagi kondangan pada nyalon semua ikal ikal kaya maria bellen

    Posted by nanien | 6 Mei 2011, 9:07 AM
  4. seru, tapi mengerikan, seperti berkepribadian ganda -,-“

    Posted by ninis | 6 Mei 2011, 11:10 PM
    • Wah ninis harus tahu kalau saya punya banyak kepribadian loh.
      tapi bohong.:mrgreen:

      Mungkin ninis bisa coba mendengar lagu S07 yang mempunyai lirik,
      “Aku mulai nyaman berbicara dengan dinding kamar…” (Ketidakwarasan Padaku: Pejantan Tangguh)

      Posted by upik | 7 Mei 2011, 1:39 AM
  5. Upik, emang rambut dengan tingkat ketidaklurusan seperti punyamu itu masih masuk kategori ikal ya? ah..keriting itu..😄

    Posted by Ega | 2 Oktober 2011, 4:38 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: