Cengengesan Banalisme

Ejawantah ayah

Saya pikir setiap lelaki di dunia yang masih berniat menjadi lelaki, sedurjana-durjananya punya keinginan menjadi seorang ayah. Ya, ayah. Termasuk saya, walaupun saya berencana untuk tetap membujang.

Sebab menurut saya, menjadi seorang ayah bukan tindakan kriminal.

Uh, dari situlah saya mulai menerka-nerka seperti apa nantinya hubungan saya dengan anak saya. Apakah anak saya nantinya menganggap saya adalah rival yang zolim karena berusaha merampas ibunya, seperti dugaan para Freudian. Bahkan mungkin saja nanti anak saya menjadikan saya sebagai contoh terpuji, karena sukses sebagi agen sosialisai primernya dalam memandang dunia. Atau jangan-jangan saya akan dikudeta oleh anak saya sendiri seperti kisah-kisah kerajaan Jawa kuno.

Baik, baik. Hubungan ayah dan anak cukup renyah jika diolah sedemikian rupa dalam wujud cerita di deretan kata ataupun diejawantahkan dalam gambar yang statis ataupun dinamis. Dalam studi komunikasi bentuk-bentuk ejawantah ini disebut dengan istilah media.

Untuk itu saya belakangan ini agaknya punya kecendrungan bergumul dengan hal yang berbau ayah dan anak. Ini mungkin gejala-gejala frustrasi hidup membujang dengan skripsi. Mungkin. Ya, mungkin ini terlalu mendramatisasi.

Ijinkan saya sedikit bersilat kata mengenai beberapa media yang menampilkan hubungan ayah dan anak. Saya akan mengambil contoh media dalam wujud komik, film dan buku. Tolong ditangkis jika ada yang keliru, bismillah.

Koiwai dan Yotsuba dalam Yotsuba&![1]

Apa jadinya jika seorang anak yang atraktif serta obesesif terhadap hal-hal baru diasuh oleh lelaki yang selalu terlihat lelah bin mengantuk. Yang pasti akan penuh pertunjukkan yang ajaib dan mengandung gelak tawa.

Di komik Yotsuba&! Diceritakan seorang penerjemah yang bekerja di rumah, senantiasa memakai kolor serta bertampang lelah. Koiwai namanya. Koiwai mempunyai seorang anak adopsi yang bernama Yotsuba.

Yotsuba, gadis lucu berkepang empat ini, punya kebiasaan yang mencengangkan, ia menampar ataupun menindih Koiwai yang sedang tidur pulas guna membangunkannya saat mentari telah meremang di ujung timur. Tak pelak saya yang membaca dan menyaksikan tampang Koiwai yang menderita dihadap-hadapkan dengan Yotsuba yang tertawa-tawa polos, sangat kontras. Ini sungguh jenaka.

Jika ditilik-tilik, hubungan Koiwai dan Yotsuba sangat dekat. Seperti jari manis dan kelingking. Mudah sekali membuktikannya:

  • Koiwai selalu memasak sarapan, makan siang ataupun makan malam sedang Yotsuba dengan cermat mengamati sambil sesekali bertanya ini itu.
  • Koiwai dengan setia mendengar cerita yotsuba di meja makan ataupun berbincang-bincang sebelum lelap sambil mengipasi Yotsuba yang kepanasan.
  • Yotsuba selalu melaporkan apapun yang telah ia ketahui kepada ayahnya termasuk tetangga sebelah yang putus cinta.

Yang mengharukan bagaimana cara Koiwai meminta jangan berdusta pada Yotsuba, seperti dialog di gambar bawah ini,

Silakan diklik.

Diatas situasi normal, dalam situasi-situasi yang hiperrealistis, Koiwai seringkali menampilkan tingkah yang membuat geleng-geleng kepala seperti memakai kolor di kepala untuk menghibur sekaligus menunjukkan stres kerjanya kepada Yotsuba. Berteriak-teriak diiringi tertawa-tawa ganjil sampai berlari bak kesetanan bersama Yotsuba menuju ombak saat plesir ke pantai.

Ayah budiman layak disematkan untuk Koiwai sedang orang tua di zaman modern sekarang memaksa anaknya bermanuver ke dunia orang tua, ia berani bersiasat masuk ke dunia Yotsuba dengan cara yang elegan.

 

Johar dan Jaya dalam Jermal.[2]

Alkisah hiduplah seorang pria paruh baya bernama Johar, seorang pemabuk, pembunuh yang mengasingkan diri selama 12 tahun di sebuah jermal. Jermal adalah tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan.

Satu ketika ia  mengumpat tak terima saat Bandi, rekan kerjanya di jermal yang tunawicara, datang kepadanya dengan tatapan dingin. Dengan bahasa isyarat terbata ia menguraikan bahwa anak lelaki yang sedang termangu di sampingnya adalah anak kandung Johar.

Anak kandung Johar, Jaya namanya, dibawa oleh Bandi dari darat karena Ibunya telah tiada. Ya, tak lain dan tak bukan Istri Johar yang ia tinggalkan selama 12 tahun.

Tingkah Johar semakin kurang ajar ketika ia membentak dan memukul Jaya sampai pingsan ketika Jaya meringkuk malam-malam guna menumpang tidur di kamar ayahnya, mencoba mengenal lebih dekat. Apa hendak dikata hubungan mereka sangat dingin, Johar yang terlihat membenci anaknya dan Jaya yang semakin dendam dengan ayahnya. Sempurna.

Dilain waktu Johar hanya diam dan bersungut saja ketika Jaya dipencundangi bocah-bocah  pekerja di Jermal. Konsekuensi logisnya semakin berkaratlah dendam Jaya terhadap Johar.

Hubungan Johar dan Jaya boleh dibilang cukup buruk karena perbedaan pemahaman tentang masing-masing. Johar terlihat membenci Jaya karena terkungkung trauma masa lalunya. Jaya dendam pada ayahnya karena ia mengganggap Johar pecundang kelas berat yang menelantarkan ia dan ibunya selama karena pernah membunuh.

Terus terang saya sangat tidak menyenangi tokoh Johar di Film ini berbanding terbalik dengan kekaguman saya atas kemandirian Jaya yang berjuang keras beradaptasi di kehidupan Jermal yang tidak manusiawi.

Namun saya harus menarik kata-kata saya sebelumnya. Seiring berkembangnya cerita,  saya terenyuh dan mau tak mau harus bersimpati kepada Johar. Ingin rasanya menepuk-nepuk pundaknya dan berkata, “Menjadi seorang ayah memang pekerjaan yang berat ya.”

Saman Said Harun dan Ikal dalam Novel Andrea Hirata[3]

Kira-kira jenis ayah semacam apa yang menafkahi keluarganya dengan bekerja sebagi kuli wasrai di pertambangan timah Belitong selama puluhan tahun turun temurun. Buta huruf latin akut hanya bisa baca tulis huruf arap gundul. Terobsesi dengan orang yang berbaju seragam. Lalu punya kadar pendiam yang sangat ekstrem, hingga perlu seorang Profesor human communication sekaliber Little Jhon untuk menterjemahkan gerak geriknya. Super sekali.

Melalui sudut pandang orang pertama aku, Ikal secara memesona menjunjung tinggi harkat martabat ayahandanya. Sehingga segala kekurangan yang dimiliki ayahandanya tidak relevan untuk dibicarakan malah berkebalikan menjadi sebuah kelebihan yang brilian. Betul sekali, Pria ini bernama Saman Said Harun.

Lantas siapa ikal? Ikal tak lain dan tak bukan adalah anaknya Saman Said Harun (penjelasan yang jenius ya). Ikal ini jenis pria melayu langka yang sukses menyelesaikan masternya di Sorbonne, Prancis. Namun nasibnya tiarap tak setinggi pendidikannya:

  • Seorang bujang lapuk yang memendam cintanya yang telah karam.
  • Rendah diri dengan ukuran tubuh dan rambut keritingnya.
  • Pendek pikiran, seringkali melakukan tindakan diluar akal sehat.
  • Pengangguran berkepanjangan hingga akhirnya dengan berat hati ia terpaksa lapang dada menjadi pelayan di kedai kopi pamannya.

Bah, agaknya benar bahwa pendidikan tidak ada kaitannya dengan pekerjaan seseorang.

Saya tak bisa menjelaskan hubungan Ikal dan Ayahandanya. Rumit sekali rasa-rasanya. Kira-kira jika dipaksakan jua hubungan Ayah beranak ini, jika saya baca berulang-ulang di novel, saya gambarkan laiknya:

menangis dalam tawa lalu tertawa dalam tangis.

**********

Sekarang mari kita berandai-andai, jikalau yang membaca tulisan saya ini sekarang berperan sebagai ayah. Jawaban apa yang pantas untuk memuaskan dahaga keingintahuan seorang anak belia yang sedang lucu-lucunya,

“Ayah, datang bulan itu apa ya?”

Ehmm, jikalu saya dipaksa untuk menjawab. Saya dengan tenang akan berujar,

“Adek, gini ya. Perempuan adalah keturunan dari peri yang dulu tinggal di bulan. Untuk mengobati rindu kampung halaman nenek moyangnya. Maka setiap seminggu dalam kurun waktu 30 hari ia diberikan berkah dari Tuhan untuk selalu datang bulan…”


[1] Yotsuba&! Adalah komik karya Kiyohiko Azuma yang juga menelurkan komik strip terkenal  Azumanga Dioh. Kekuatan komik Yotsuba&! ini terletak pada relasi antar karakter , gambar latar yang  rapi dan detail serta cara pandang seorang anak umur 6 tahun dalam melihat dunia.

Sekadar  Info di Indonesia komik ini telah terbit sampi jilid 10. Ingin lebih jelas bisa menuju TKP1 dan TKP2.

[2] Jermal merupakan film hasil besutan Ravi Bharwani, Rayya Makarim, Utawa Tresno yang dibintangi Didi Petet (Johar)  dengan cemerlang. Berlatar kehidupan para pekerja anak di Jermal. Film ini yang sangat gelap menampilkan realitas kehidupan di Jermal yang terasing di tengah laut. Apa boleh buat, sangat sinis dalam memandang ketimpangan pendidikian. Salah satu hal yang membuat bulu kuduk meremang dan hati menjadi nyeri selama saya mencerna tiap gambar yang bergerak.

[3] Apa ya,  ehmm baca saja sendiri tetralogi Laskar Pelangi serta dwilogi Padang Bulan. Oia, tersiar kabar Pakcik Andrea Hirata akan menerbitkan novel terbarunya: Ayah. Bercerita khusus tentang ayahandanya setelah ia mengikuti kuliah Sastra selama setahun belakangan di  Amerika.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

11 thoughts on “Ejawantah ayah

  1. ah pik tak santai aku baca blogmu di waktu diburu death-line seperti ini. nanti saja lah kalau sudah sidang aku akan abis2an baca blogmu ini dengan fokus seratus persen xD
    komiknya lucu btw, minta dong scannya, internet rumah lemottttttttttttt

    Posted by nanien | 7 Mei 2011, 7:56 PM
  2. hahhaha…lo baca deh pik blog mba titut yang judulnya buah simalakama untuk menjawab pertanyaan anak lo itu..

    sepertinya bapak gw juga kewalahan sama anak-anaknya

    b: yah de, hujan, kita gak jadi pergi nih…
    s: Allah nakal banget ya pak…
    b: hujan itu rizki harus bersyukur dong…
    s: tapi kenapa kasih rizkinya pake ujan pa? kalo cerah kan kita bisa jalan-jalan
    hening

    Posted by rosalina, anita | 8 Mei 2011, 1:48 AM
  3. gw salah meriwayatkan deng, bapak gw bilangnya begini

    b: hujan de, tunggu hujannya reda ya baru jalan-jalan..

    klo yang di atas itu yg ada di otak gw, *iya lah klo hujan gw pasti ngeluh…yah hujaan…*

    Posted by rosalina, anita | 8 Mei 2011, 1:52 AM
    • Allah nakal?😆
      Iya, saya udah baca blognya mbak titut yang pertanyaan frontal anaknya,
      “Senggama itu apa?”😯
      Sampai sekarang itu pertanyaan paling sulit menurut saya.🙄

      Sebetulnya ada jawaban yang lebih jenaka untuk datang bulan ini.

      A: Ayah, datang bulan itu apa?
      B: Kondisi dimana seorang perempuan ditabrak bulan sampai berdarah-darah.
      A:Wah. Sakit dong.
      B.Sepertinya begitu.:mrgreen:

      Posted by upik | 8 Mei 2011, 4:53 AM
  4. mantap bang. udh siap sepertinya😀

    Posted by ninis | 9 Mei 2011, 12:55 PM
  5. Gambar yang paling atas kenapa tulisan “Alay” ?

    Posted by Januardi Imam Nugroho | 24 Mei 2011, 4:57 PM

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Ejawantah Ayah « Katajiwa - 21 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: