Pemantik

Tuhan pun tergelak

Lagu sedih itu terus merintih tak berkesudahan. Nada minornya menyelinap di tumbukan buku-buku yang mulai jenuh dijamah terus menerus. Cengkoknya tak berhenti mengikuti irama degub jantung yang merana sedari tadi. Desauan violin yang melankolik meningkahi titik sentuh garis tenggat waktu.

Semua terus berulang-ulang hingga waktu menjadi sesuatu yang tak bisa dikendalikan.

Namun ia masih dalam pelarian yang kesekian kali, rayuan eskapisme pagi buta. Bertemu dengan banyak orang dari negeri antah berantah. Mengingau tentang masa lalu yang membuatnya selalu tertawa, ditertawai, dan menertawakan diri sendiri. Ah, jika ditulis beginilah igauannya:

**********

Tak ada yang pernah tahu, hanya pura-pura tahu bahwa setiap anak yang dilahirkan di dunia akan menjadi seseorang yang diimpikannya. Lihat ini saya, dari buaian tak pernah ada niatan menjadi pengulik setiap selebaran majalah, koran, film sampai sekadar acara tivi yang remeh temeh. Siapa bisa menyangka saya bisa berguru dengan orang-orang hebat yang dengan dungunya dulu saya tanyakan, “Siapa mereka?” lalu dengan ceroboh saya bertanya, “Siapa saya?”

Saya adalah pengagum tangan yang dengan penuh kelembutan mengolah rasa. Ini dimulai dari sejak kecil dulu. Adalah sosok-sosok tangan itu yang selalu berirama ketika mengadu batu untuk melumerkan bumbuan apapun hingga semua merona, tersipu padu. Maka, berfantasilah suatu saat saya bisa memiliki tangan-tangan seperti itu yang dengan setia selalu lembut dan ceria dalam mengolah rasa.

Di waktu yang lain mata saya berbinar menikmati sebuah bola yang melayang-layang dari film-film animasi. Saat itu seperti tak pernah bosannya menendang. berkejaran dan mengingat falsafah jagoan utamanya, “Bola adalah teman.” Dengan ingusannya menekatkan dalam-dalam untuk memperkuat tim nasional Indonesia menuju piala dunia.

Lain lagi, permintaan leluhur yang ingin generasi lanjutannya melanjutkan rekam jejak keluarga dengan titel yang sangat terpuji: Pendidik. Ehmm, saat itu saya menolak dengan cara yang agak berkesan, “Awak tak mau jadi guru SD tapi jikalau jadi pendidik jadi guru SMP atau SMA adalah satu-satunya pilihan. Biar ada peningkatan.”

Menjejaki masa SMA yang merindu-dendam tak usai-usai itu. Saya masih ingat dulu begitu terpesona dengan sihir matematis rumusan bangun ruang tiga dimensi. Aih, lalu entah bagaimana prosesnya menjadi pengikut mazhab arsitek adalah pilihan hidup yang cemerlang. Rajin membuka-buka buku perguruan tinggi negeri yang memiliki studi teknik arsitektur terbaik adalah do’a penutup malam yang istimewa.

Sebetulnya menjadi arsitek tinggal selangkah lagi jika ujian seleksi tidak diinterupsi oleh diare yang berkepanjangan di hari H. Bagaimana bisa berfikir, menemukan jawaban yang pas, membulathitamkan sekaligus menahan perihnya perut yang sudah siap bersekongkol dengan anus untuk mengeluarkan yang tidak-tidak. Terus memaksa hingga bulir keringat dingin tiap menit harus disapu dengan hati-hati. Ini adalah lawakan buruk yang pernah saya hadapi.

Hingga dibagian ini harus diakhiri dengan pulang kampung sebagai seorang prajurit kalah perang. Dan dimulailah fase setahun dengan kehidupan hampa setelah menyaksikan sepanduk besar-besar di gerbang pintu masuk kampung, “Selamat datang pecundang.”

Nah, saya sampaikan sekarang bahwa bukan berarti saya tidak mempunyai rencana hidup jangka pendek ataupun panjang. Namun, sebelum menjalankan rencana hidup itu sebaiknya ditertawakan saja dahulu sebelum Tuhan datang mengkoreksi, lalu menertawakannya.

Bukankah akan lebih indah saat Tuhan menertawakannya, kita pun bisa bersama-Nya, sama-sama tertawa.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

8 thoughts on “Tuhan pun tergelak

  1. Menertawakan hidup yg sukses, sambil berkata, “Kok bisa ya aku sukses begini? Padahal aku merasa gak terlalu ngotot.”😆

    Tidak lupa, “terima kasih, ya Tuhan”.🙂

    Posted by Asop | 1 Juni 2011, 10:54 AM
  2. Wah,,, puitis kali abang satu ini

    Posted by ~Amela~ | 7 Juni 2011, 10:49 AM
  3. wah.
    bahasanya tinggi banget o.0″

    Posted by veera | 8 Juni 2011, 10:48 PM
  4. acung jempol untuk tulisan-tulisannya..
    saya jadi pengen belajar banyak dari tulisan -tulisan ini..

    Posted by isil | 26 Oktober 2011, 10:33 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: