Uncategorized

Rumah

Suara-suara di kepala saya saat ini tak tertahankan. Mereka menjalang, saling mendebat tak mau kalah. Uh, bagaimana bisa memejamkan mata jika mereka terus saja mengoceh dan tak ingin diganggu. Kejamnya, saya hanya menjadi pendengar yang budiman.

Pertama-tama saya hanya bisa membayangkan dua orang sedang duduk berhadap-hadapan, di sebuah meja bundar. Di depan mereka terhampar taplak meja bersulam bunga mawar hitam. Di atasnya berdiri kokoh dua gelas besar. Yang satu berisi es teh manis dingin, gelas yang lain berisi susu coklat hangat. Disebelah mereka terpampang jendela besar-besar. Jendela yang mematulkan cahaya mentari, menari-nari riuh melalui tepian dedauan pohon rimbun yang ditiup angin, persis di depannya.

Selanjutnya mereka mulai berdebat tentang yang sayapun tak mengerti apa.

Tiba-tiba semua diam. Hening. Tenang. Berhenti? Tidak.

Lalu terdengar suara yang asing, cempreng, impulsif, acak, dengan cengkok melayu kental:

Pasir di sela jari masih terasa hangat menempel, saat menapak beberapa tahun lalu. Tanah basah bersepakat menyejukkan ari telapak kaki, membenam, berteman dengan warna yang coklat pekat. Dulu, dulu sekali. Saat itu aku berlari di sekitaran halaman mengejar kelereng yang berjatuhan dari kantong yang keropos.

Tak kuasa dengan semua, aku akan membasuhnya di depan teras dengan curahan air sumur dalam timba yang telah disiapkan subuh-subuh. Timba itu berwarna merah marun, dibeli di kedai tempat orang-orang tua berdebat tentang warna sendal jepit yang beda sebelah.

Kaki-kaki yang telah bersih dibasuh, menggesek-gesek diatas keset serat kelapa yang telah cukup tua. Sret-sret, berkali-kali sampai terasa nyaman untuk melangkah masuk.

Di ruang ini, ruang yang dikuasai kotak dilabeli durjana oleh seorang datuk, pelawak tua, Postman namanya. Setiap hari minggu tiba, akan membius mata-mata kecilku seharian, bersinar-sinar penuh takjub oleh pasukan robot dengan gerakan aerobik ke kucing masa depan yang kehilangan daun telinganya sampai beralih ke pendekar bola-bola naga. Minggu adalah surga, orang-orang dewasa tak perlu banyak cerita. Cukup temani, tak perlu menginterupsi. Titik.

Sayap kiri, tergeletak sebuah radio ringkih yang senang memutar lagu-lagu pelipur lara, di waktu senggang memainkan darah muda. Lain hari, merintih senandung-senandung qasidah.

Sayap kanan, kasur empuk selalu setiap malam menjadi persemayaman yang nyaman. Badan Ibunda akan selalu jadi tempat pelukan menghangatkan. Kini, secara telak harus digantikan guling, benda mengerikan peninggalan penjajah celaka.

Ujung belakang, bersemayam meja yang tiap saat ketika waktunya tiba menjadi tempat berkumpul, memamah bersama. Saat kesedihan mengambang, kucing kesayangan mati menenggak racun serangga, kolongnya tempat meringkuk yang pas tuk meraung seharian hingga isak mereda. Setelah sedih mengikis, kupungut bebungaan tuk ditabur di pusaran kucing kesayangan yang malang.

Itu saja saat kaki-kaki ini mengingat hangat hingga ke ubun-ubun kepala. Dulu, dulu sekali.

Akan tiba masanya, aku berjalan pelan-pelan, membasuh kaki di kucuran air timba merah marun, menggesek-gesekan di keset sabut kelapa tua, melangkah masuk sambil berkata, “Assalamualaikum!”.

Sebentar lagi, sebentar lagi, sebentar lagi. lagi. lagi. la gi. la gi. la. gi. la. gi. la. gi. gi. la. gi la. gila….

Suasana akhirnya tenang, suara-suara jalang itu telah hilang. Inilah momen yang indah untuk mengucapkan Bismika Allaahumma… Aih, sudah adzan subuh?!

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

6 thoughts on “Rumah

  1. aih..sudah berapa tahun ga pulang pik??hahah.. sip sebentar lagi pulang, dan tinggal nunggu wisuda deh..selamat pik..

    Posted by syilfi | 14 Juni 2011, 11:29 AM
  2. kangen banget ya bang sama rumah… hmm.. makanya cepet lulus.. :))

    Posted by ChoirunnisakFauziati | 15 Juni 2011, 3:01 PM
  3. 😈

    Posted by upik | 15 Juni 2011, 6:56 PM
  4. Tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah sendiri, di mana orang-orang terkasih selalu menyiapkan seuntai senyum menyambut kepulangan kita

    Posted by ~Amela~ | 25 Juli 2011, 1:32 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: