Pemantik

Dua ribu tujuh

Setiap hal selalu mengada dengan kontradiksi. Masing-masing bertentangan walau sejatinya terikat, menyimpul saling menjelaskan. Begitupula dengan saat ini. Ada yang merasa meninggalkan, ada yang terasa ditinggalkan. Meninggalkan terjadi ketika ada yang ditinggalkan, ditinggalkan tercecap saat ada yang meninggalkan.

Kita tentunya punya jalan yang ingin ditempuh, jalan itu beragam dengan rambunya masing-masing. Dan setiap jalan memiliki cabangnya sendiri-sendiri. Dan setiap cabangnya entah bagimana ceritanya mungkin saja terhubung dengan jalan yang lain. Dan mungkin, ya mungkin itu yang disebut perencanaan agung.

Kita selalu memilih jalan, berusaha menapaki sepenuh hati dan disapih dengan konsistensi do’a. Selanjutnya menempatkan Dia di tempat yang terhormat untuk menentukan seperti apa ujung jalan ini nantinya. Selesai.

Lalu, mengapa sekarang masih ada yang merasa meninggalkan, dan merasa ditinggalkan. Kita tidak sedang menginggalkan, tak ada yang ditinggalkan. Kita hanya sedang memilih diantara pilihan jalan mana yang ingin ditempuh. Saling bergerak menjauh. Itu saja.

Mungkin kita berbeda pandangan tentang jalan ini yang kadang dianggap sedang menaiki bus, kereta api, ataupun pesawat udara. Berhenti di pemberhentian, menaiki bus, kereta api, ataupun pesawat udara yang lain. Setelah itu melangkah duluan menginggalkan yang lain karena belum sampai tujuan. Seolah-seolah jalan menuju tujuan hidup anak adam satu dan tujuan hidup hanya satu arah. Kita berbeda disini.

Oh iya,  jalan ini sungguh luas, tak dibatasi tujuan, ruang ataupun jarak. Sayangnya jalan ini tidak untuk bergerombolan karena setiap individu bertanggung jawab terhadap dirinya. Nanti, suatu saat akan bertanggung jawab untuk orang lain. Nanti, tak sekarang. Suatu saat.

Karena setiap kita sedang menapaki jalan sendiri-sendiri. Dan boleh jadi kita terpisah di cabang jalan yang kita tapaki bersama. Dan boleh jadi pula kita akan menapaki jalan yang sama lagi, nanti di kehiduan yang lain. Dan mungkin pula, Saling berangkulan atau saling berhadap-hadapan. Mungkin kita harus bersiap saat itu tiba nanti, suatu hari kelak.

Salam takzim selama empat tahun belakangan, teman, kawan, sejawat, karib.

Sampai jumpa di peraduan ujung cabang jalan ini . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Depok, 2007-2011

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Dua ribu tujuh

  1. jadi ngantuk, eh.. terharu Gw bacanya, Pik…

    Posted by Edwin | 4 Juli 2011, 5:47 AM
  2. manis….

    Posted by mentaridicelahsabit | 4 Juli 2011, 11:39 AM
  3. Ini sekaligus ada jab kecil buat tulisan Mr. Lucky Budianto Ardhi pas doi lulus kemaren yah? Buahahahahahahaha

    Posted by Mr. Rana | 10 Juli 2011, 3:28 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: