Pemantik

Ode untuk dayang

Dayang

Saat ini aku berpikir tanpa memandang apapun di dunia. Hanya diriku dan dirimu. Lekuk wajahmu yang teduh, mata yang pijar, senyum yang merekah. Kau tau adinda, ketika tergelak matamu akan tertutup setengah, alis kananmu pun kan turun lebih merendah dan geligi tersembul rapi dengan semburat kemerahan di pipimu. Aih, surga di depan mata.

Dan saat kau berceloteh, pupilmu akan bulat membesar sempurna, duniapun berhenti berotasi ditindih rasa cemburu. Sungguh, kaupun akan menampilkan mimik-mimik wajah yang lucu menirukan tokoh kartun bawah laut kesayangan. Ah, menggemaskan.

Tak ada yang ingin mengganggu, tak ada. Semua hanya seperti kanak penurut pada ibundanya yang sedang mendongeng negeri para peri. Apalagi aku. Mendungu tak bersuara.

Sampai pada puncaknya, kau menyudahi, ku kan berdiri lalu bertepuk tangan “Bravo!” seperti penikmat pertunjukkan musik-musik klasik. Sungguh, kau candu berlumur madu.

Adinda oh adinda, apakah ini hanya sedikit sendu? Seperti kerinduan musim hujan yang telah lalu.

Kau terlahir dengan nama Dayang sedang aku ditasbihkan dengan nama Bujang. Apakah ini kebetulan. Oh, kusangka tidak. Tuhan sedang bersiasat mendekat-dekatkan kita dari awal. Seperti Ia mencipta Adam dan Hawa, Laila dan Majnun, Dayang Sumbi dan Tumang  sampai yang teranyar KD dan Raul Lemos!

Untuk itu kukatakan dihadapamu sekarang dengan hati seluas samudera yang ditengah-tengahnyanya ada payung kecil untukmu,

Maukah kau kawin lari denganku saat ini juga?

Bujang

Sebagian lelaki yang dilahirkan dari rahim wanita-wanita yang suci hanya untuk menjalani hidup sebagai pecundang. Tersinggung? Hihihi. Atau kau ingin mendengar dulu sampai selesai saya jabarkan satu-satu sejauh yang saya tahu. Lalu tersingung setelahnya. Mau? Baik.

Lelaki jenis pertama adalah pengasap durjana. Jenis mamalia ini senang mengepulkan dan memonopoli karbonmonoksida dan sejawatnya di udara. Pecundangnya, seperti tak sudi menghirupnya sendiri, untuk itu dengan ikhlas membagi-bagikan asapnya ke orang-orang sekitar. Woo, ia akan puas saat mulutnya menghisap dalam-dalam benda beberapa sentimeter itu lalu mengehembuskan ke udara, udara yg masih perawan dalam kelegaan yang sangat. Sayangnya lelaki pecundang pemurah jenis ini tak sadar ia sedang dikutuk orang sekitarnya. Sayang sekali.

Lelaki kedua adalah keturanan adam yang mengganggap golongan hawa sebagai objek pemuas fantasi jalangnya. Menyenangi sendiri dengan wanita-wanita yang berseliweran di depan kelopak matanya. Selanjutnya ia akan menyusun kata-kata penuh madu untuk merayu. Kata-kata ini selalu saja berhasil menutupi betapa pecundang dirinya, betapa oh betapa rendah dirinya ia dihadapan hawa. Hihihi.

Jenis yang ketiga adalah anak kompleks sebelah yang tiap malam menjadi penunggu depan jalan gang sambil menenggak alkohol 5 %. Kau tau, jenis ini minum seteguk mabuknya selangit. Setelah itu ia akan memerah-merahkan mata, banyak cakap absurd agar terlihat angker dan berharap dianggap jagoan. Nah, nah, saat ada wanita mirip pria atau pria mirip wanita yang datang menyapa. Ia yang sedang mabuk, lari tunggang langgang seraya berteriak lantang, “Setannnnnn!” Turut berduka cita.

Selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya kau bisa meneruskan sendiri jenis yang lain sampai-sampai kau merasa lelah. Serius. Saya sedang tidak bercanda.

Dan dengan hormat saya harus menceritakan jenis yang terakhir.

Ia, bujang yang dengan sangat meyakinkah berkata,

“Maukah kau kawin lari denganku?”

Aduh, berkali-kali sudah kubilang padanya, “Jika ingin menikahiku. Ajak orang tuamu ke rumah, minta restu dengan orang tuaku. Ibuku tentunya akan sangat menghormati tamu agungnya tetapi kau harus siap melangkahi mayat ayahku. Tentu ia takkan sudi anak perempuannya direbut orang asing dari negeri antah berantah…”

Ia gentar? Jika iya. Aku hanya berujar sedih yang mendalam,

“Bujang oh bujang, berhentilah jadi pecundang.”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

5 thoughts on “Ode untuk dayang

  1. Aiiih romantisnya…
    suka sekali tulisan yang ini…

    Posted by ~Amela~ | 25 Juli 2011, 1:56 PM
  2. astaga lo bawa2 payung, nyuri ide banget!

    Posted by rosalina, anita | 30 Juli 2011, 8:39 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: