Pemantik

Lol

Saya pikir kau adalah pribadi yang menyenangkan, tak selalu memang. Tapi setidaknya pribadi yang sulit untuk dibenci dan selalu mudah untuk disukai. Adakah yang salah dengan itu,  tidak. Semut yang berjejer juga tau yang salah hanyalah rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Rasa ingin tahu itu jika tidak memiliki pijikan yang baik, ia berubah menjadi delusi yang tersenyum manis pada pengagumnya. Delusi oh delusi, mudah dibuat selalu sulit untuk menguap.

Seorang teman wanita (dalam makna literal) pernah berwasiat bahwa perasaan tak harus dipendam, kadang kala semakin dipendam ia akan menumpuk menjadi penghalang makna diri. Pada suatu saat nanti ia meledak dan makna diri menjadi sumir. Hilang tak berbekas. Dalam kondisi paling buruk, semua ingatan akan kehidupan semuanya terhapus dengan sempurna. Menakutkan ya. Iya, menakutkan.

Karena itu, semenjak saat ini saya mulai meluapkan perasaan dalam bahasa yang laik didengar anak-anak dibawah umur: Mengomel pada dinding kamar mandi yang mulai mengelupas, mengumpat nyamuk yang menggigit tanpa sopan santun, mendengus pada kucing yang membuang urin di sembarang tempat, sampai bernyanyi bersama komputer jinjing kesayangan.

Lalu sampailah pada rasa ingin tau serta meluapkan perasaan hingga ujungnya terjadi percakapan interogasi yang mungkin cukup ditulis begini:

X: Jadi kau suka dengan dia?

Y:  Saya pikir hanya penjahat yang tak suka dengan jenis manusia seperti itu.

X: Cinta?

Y: Birahi? Tidak, tiada biarahi disini. Eros butuh birahi bukan untuk menjaga eksistensinya? Dan saya mengenal baik keinginan purba seperti itu.

X: Bagaimana bisa sedekat itu?

Y: Dekat? Sepertinya kata itu cukup provokatif dan agaknya saya harus menunjukkan riwayat pendidikan dan riwayat organisasi. Dan jika kau percaya Tuhan dengan konsep takdirnya, saya, dia, kau adalah takdir yang dipertemukan dalam cabang pilihan-pilihannya. Selesai.

X: Kupikir kau adalah jenis manusia yang menekan dan mengikis perasaan. Kau sukses melakukannya. Selamat.

Y: Terpuji, analisis yang menakutkan.

Dan pembicaraan melipir ke masa lalu saya dan dia, kenangan pahit pun berlompatan.

Nah, kau tau seperti itulah rasa ingin tahu yang mengebu-gebu, dalam konteks karib bisa dimaafkan namun jika kadarnya sampai titik jenuh pasti akan ada yang meledak-ledak. Drama baru akan memulai. Satu teori menjadi jelas lagi, sesungguhnya kita semua memang mencintai drama. Dan drama harus ditutup dengan manis. Ugh, untung saja kita tak mengidap diabetes.

Dan saya mulai bosan untuk melanjutkan tulisan (sekaligus mengakomodasi wasiat seorang teman wanita) ini.

Karena jenis tulisan ini hanya ingin memberi kabar bahwa siapapun yang membacanya, hubungan interpersonal tak sesempit pilihan antara dominasi eros ataupun tidak. Tidak, tidak, hubungan interpersonal banyak sekali pilihannya. Seperti kulit bawang yang berlapis-lapis, seperti benang yang berpilin-pilin, seperti liang semut yang bercabang-cabang. Dan setiap insan punya hak untuk memilih hubungan seperti apa yang mereka inginkan. Dan saya tak memilih didominasi eros ataupun birahi.

Lalu mengapa kita harus terikat dengan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu tanpa pijakan yang berarti?

Kalaupun saya berdusta, dunia harus tahu apa yang saya dustakan. Jiakalau eros itu memang ada, dunia juga harus tahu bahwa ia nyata. Dan paling penting dunia harus tau bahwa untuk saat ini saya senang hidup membujang. Sekian.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Lol

  1. Membujang… jadi inget lagunya Koes Plus… “Bujangan”…

    Posted by Asop | 25 Agustus 2011, 6:25 AM
  2. yup dari pada bikin junk dikepala, mending luapkan aj semua perasaan kita..

    Posted by gogo | 27 Agustus 2011, 11:40 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: