Pemantik

Solilokui

Ibu, bolehkan aku bercerita banyak padamu. Seperti waktu dahulu, ketika aku masih senang berlarian di halaman depan rumah ini.

Ibu, bolehkah aku menumpahkan segala padamu. Seperti waktu yang terasa makin jauh, saat dahulu tanganku masih kuat memeluk erat tubuhmu.

Ibu, bolehkan aku memintamu mendengarkanku. Seperti waktu itu, ketika kucingku melahirkan tiga anaknya yang belang, ayamku beranak delapan dan bunga-bungaku mulai bermekaran.

Ibu, bolehkan aku memulainya tanpa menggunakan kalimat yang berulang-ulang selalu.

Saat ini aku dilanda kekosongan yang sangat sepi, sepi sekali. Semua gerak berlahan tak berarti, tiba-tiba tak terdengar desirnya, sunyi. Ibu, percaya padaku ini bukan metafora tapi ini yang sejatinya kuresapi. Sungguh ibu, aku berhenti menggunakan metafora agar kakiku kembali menjejak ke bumi.

Aku masih ingat ketika selesai SMA dahulu, ayah memintaku memilih kuliah di studi eksakta di perguruan tinggi terkemuka. Ia lalu juga memintaku ikut les agar tahu medan persaingan untuk memperebutkan jatah satu kursi. Aku menggangguk dan mengikutinya karena tak tahu untuk apa aku kuliah dan tak terobsesi dengannya. Kau tentunya ingat ibu, ayah mengatakan kuliah penting untuk meningkatkan harkat martabat keluarga ini demi kehidupan yang lebih baik. Hingga akhirnya aku lulus dengan terlalu mudah.

Setelah kuliah kau menasehatiku, jangan terlalu asik belajar ini-itu. Sesekali ikut organisasi karana baik untuk menyapih kemampuan adaptasi, pembagian waktu, komunikasi, dan modal sosial di kehidupan mendatang. Aku menjalaninya dan indeks prestasiku menjadi lebih baik, aku tak mengerti mengapa. Kau tersenyum dan mengelus-elus kepalaku dengan hangat. Dan aku suka diperlakukan seperti itu.

Ibu, semester delapan akupun mengambil mata kuliah terakhir namanya skripsi. 2 bulan pertama tak kuusik, buku-buku yang tebal itu terlalu angkuh untuk disentuh. Maka kujinakkan ia sampai menyerah karena berdebu. 2 bulan kedua barulah kututup dengan kalimat terakhir bab ketiga. 1 bulan terakhir aku pontang-panting meraup data, menganalisis dan menyimpulkan. Selesai. Dengan entengnya aku berkata, ah selesai juga.

Di sidang skripsi, kau pasti ingat saat pengujiku dan pembimbingku berdebat hebat. Untung ketua sidang dapat menenangkan mereka. Aku hanya diam membatu, bukan karena tak mau menyela tapi karena aku senang dengan drama saat itu. Seperti menonton opera sabun sampai aku dinyatakan lulus. Diakhir sidang. Kau memelukku. Dari pancaran wajahmu terasa aroma bahagia serta bangga dan siap melepasku ke dunia. Sejak saat itulah aku dilanda rasa sepi.

Terutama ketika ditanya, “Mau kerja dimana?”

Lalu ditanya, “Mau menikah umur berapa, dengan siapa?”

Berentet, “Anaknya mau berapa, dua, tiga, empat, lima?”

Berlanjut, “Laki-laki dulu apa perempuan, mau diberi nama apa?”

Tak berhenti, “Mau dididik seperti apa, dengan cara bagaimana, mau dibentuk menjadi siapa?”

Terus, “Mau disekolahkan dimana?”

Masih, “Mau mati sebagai apa?”

Dan pertanyaan-pertanyaan itu terus berulang-ulang, tak berhingga hingga aku lelah sendiri untuk menjawabnya.

Ibu, sungguh aku sangat sepi ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa. Aku ingin kembali seperti bayi yang tak perlu ditanya macam-macam, hanya boleh menikmati hidup. Dan hidup dengan jalan yang pasti. Minum susu pagi hari, tidur di siang hari, mandi saat senja dan minum susu lagi ketika malam tiba hingga tidurku lelap sudah.

Aku tak tahu mau kerja apa, aku jua tak tahu mau menikah di umur berapa, juga tak tahu mau punya anak berapa, juga tak berencana mati muda.

Sepi sekali hidup ini rasanya menjalani hidup yang rasa-rasanya tak berujung pasti.

Sampai rasanya hidupku tak bermakna. Kosong melompong. Senyap menyayat.

Untuk itu ibu, aku meminta izin padamu mengundurkan diri, pergi dari rumah ini. Aku ingin merenung, berjalan-jalan, mencoba mengurai rasa sepi ini sendiri, menikmatinya sendiri sampai aku benar-benar lelah untuk sendiri dan lupa bagaimana rasanya dengan rasa sendiri itu sendiri.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

8 thoughts on “Solilokui

  1. Bravooo!😥 #TangisBahagia

    Posted by Asop | 7 September 2011, 11:31 AM
  2. udah pulkam ya pik?

    Posted by mudhzz | 10 September 2011, 12:20 AM
  3. belajarlah untuk bisa tangguh…🙂

    Posted by nuraeni | 21 September 2011, 12:03 PM
  4. indah banget tulisan ini..
    saya jadi terharu bacanya…

    Posted by isil | 26 Oktober 2011, 10:25 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: