Pemantik

Parasosial

/I

Aku membaca setiap gurat kisahmu di laman yang kau bingkai sedemikian indahnya. Tema yang kau gunakan selalu becorak ceria, sebahagia ketika aku menatapnya lama-lama. Tiap hari, tiap pekan, tiap luna yang berganti, kisah-kisahmu jualah yang selalu kutunggu dengan tergesa.

Hingga tetikus selalu hapal kemana jari ini akan mengeser-geser tubuhnya. Tentunya komputer jinjing serta modem adalah aliansiku yang setia. Dan klik, sampailah aku di tempat peraduanmu seketika.

Bagi sebagian perambah maya kau disebut banal. Tapi tenanglah hidup ini sudah cukup dangkal. Mengapa tak sekalian mengejeknya dengan banalisme yang tersebar di hidupmu yang komunal. Tak perlu berduka dengan ceracau mereka yang nakal. Bagi hidupku yang sedan, celotehanmu sudah sangat menghibur dengan cara yang fenomenal.

Kau senang dengan musik mendayu yang selalu dan selalu mencari alamat palsu. Aku pun tak kuasa, lalu mendengarnya dengan syahdu. Namun satu hal yang membuatku terganggu. Mengapa pencari alamat palsu begitu dungu. Alamat rumah, kantor, surat elektronik, jenis apa yang membuat ia tergugu.

/II

Hari ini kau bilang senang dengan musim hujan yang membuatmu merasa nyaman dengan siang. Siang yang selalu menaburkan aroma gersang. Dan kubilang selalu, berbagialah kau yang karena hujan selalu riang bukan kepalang. Walau sejatinya hujan selalu membuatku meriang.

Di hari yang lain kau dilanda nestapa. Karibmu dijemput kematian entah apa sebabnya. Dan hari itu kau bercerita dengan duka yang mendalam. Sampai-sampai mataku menjadi kelam lagi suram.

Aku mungkin mengagumimu secara pecundang tanpa mau memberi kesan dan pesan di setiap laman yang kau isi. Inilah aku yang selalu ketakutan diketahui olehmu. Inilah aku yang sejak kanak selalu merasa rendah diri. Sebab inilah aku, jika kau tahu lumpuhlah jiwaku lalu membiru. Semu.

Mengagumimu membutku mengada. Seperti gelembung sabun yang ditiup dengan cara yang biasa. Ia akan terus membesar lalu terbang. Hingga sampai waktunya, tiba-tiba saja akan menghilang.

Akhirnya entah sejak kapan aku dilanda lara, mungkin saat kau bilang akan berhenti bercerita jika masanya tiba. Kau bilang saat duniamu tak perlu diceritakan lagi cukup dirasa sendiri. Ah, mengapa pula kau begitu kejamnya. Kalau sampai itu terjadi, hidupku putarannya akan terhenti. Lalu mati.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

6 thoughts on “Parasosial

  1. Bang, lagi2 rumit untuk saya telaah…. >.<"

    Posted by Asop | 13 Oktober 2011, 10:05 PM
  2. patah hati yei? :’)

    Posted by jefri | 14 Oktober 2011, 10:03 PM
  3. walaupun saya tidak tahu untuk siapakah tulisan ini ditujukan..
    lagi – lagi saya tetap suka membaca bait demi baitnya
    kalimat – kalimat itu, dengan sendirinya mengajari saya..
    membuat saya belajar cara menulis yang indah, begitu menikmati tulisan ini…

    Posted by isil | 27 November 2011, 12:24 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: