Kontemplasi

Ironi sarkastik

Dan dia bilang hari ini mau ke luar kota sendiri, tak mau ditemani. Mencari pencerahan, merenung, melamun, mencatat apa yang tak terlihat, membuang apa yang bisa dilihat. Ia  berkata demikian dengan mimik wajahnya yang selalu datar.

Ia adalah penulis amatiran, sangat amatiran malah, sudah banyak tulisannya yang ditolak oleh penerbit, surat kabar, tabloid sampai majalah anak-anak namun ia terus-terusan saja mengirim dan mengirim. Usaha yang terpuji sebenarnya jika saja ia tak merepotkan saya untuk membaca tulisan-tulisannya.

Mengapa harus saya yang membacanya? Pernah saya tanya demikian. Masih dengan tampang datarnya, ia memuji mulut saya terlatih menyemburkan sarkasme saat mengomentari tulisannya. Dalam setiap sarkasme terkandung sebuah kejujuran yang murni. Penulis amatiran butuh kejujuran untuk membuatnya tahu diri. Begitu kira-kira katanya.

Hah! Manis sekali bukan kata-katanya. Lalu apakah ketika saya berkomentar ia menganggap itu adalah kejujuran yang murni? Ha ha ha, jangan melucu. Sudah saya bilang tadi ia adalah penulis sangat amatiran. Penulis sangat amatiran selalu punya jurus seribu bayangan untuk menangkis semua komentar saya. Maka berdebatlah kami, maka mengamuklah saya, maka merajuklah ia, maka ke luar kota-lah ia, maka merasa bersalahlah saya. Kurang ajar!

Sebagai bentuk rasa bersalah, kembali saya harus membaca dan mengomentari tulisannya ketika ia pergi ke luar kota. Astaga mengapa pula saya harus mengalah begini.

Shtttt.., tak perlu kau tanyakan bagaimana hubungan kami, itu urusan privat. Cukup empat kata saja: serumah tanpa ikatan pernikahan.

Baiklah, saya tak mau banyak cakap lagi. Saya mau membaca dan memberi komentar untuk tulisan si tukang merajuk lagi bertampang datar itu. Sampai jumpa. Sudah ah jangan protes.

**********

Bilik merenung:

Gemericik pagi menjadi sesuatu yang wangi. Dinginnya merona tak dinyana menjadikan tepian kulit meremang berseri. Kulit yang seharian dipaksa menampung segala panasnya mentari di atas kepala. Kulit yang terbatuk menyublin semua pembakaran tak sempurna dari setiap besi di jalanan maupun mulut-mulut pengasap durjana.

Pengasap durjana?apa ini maksudnya?pembukaan yang tak cukup manarik, antara pagi dan romantikanya, itu terdengar klise.

Mulut-mulut pengasap durjana adalah yang paling kucela selama ini. Karena aku bukan pengasap durjana, itu pasti. Golongan ini harus bertanggung jawab atas separuh paru adikku yang melemah. Dan dengan segala hormat pengasap durjana ini adalah salah seorang keluarga, ayah.

Ha ha ha. Kupikir ayah selalu menjadi corong untuk menyalahkan dunia ya, apalagi urusan rumah tangga. Cobalah sedikit bersimpati dengan ayah. Menjadi ayah itu tak selalu mudah.

Ayah, ia jarang mengeluh, pribadi yang menarik kecuali satu ia adalah pengasap durjana. Ia mulai memikul rasa benciku atas paru adikku sudah 5 tahun lamanya. Menjadi pengasap durjana ketika mengalihkan rasa kecewanya terhadap dunianya yang menjadi suram. Semenjak itulah aku membencinya dan semenjak itulah ibuku selalu terlihat muram.

Jeng-jeng-jeng. Mengapa si ibu harus muram, dan mengapa pula 5 tahun harus benci, sekali lagi, pengasap durjana itu apa?Absurd.

Ibuku selalu terlihat muram ketika ayah berhenti mengajaknya berkata-kata. Seketika malam telah tiba, ia selalu duduk di depan teras rumah sambil menatap hampa. Aku hanya diam saja, menatapnya dengan penuh rindu. “Lantas kalau begitu saja tingkahmu, semua akan baik-baik saja ibu?”  Ada rasa abai di situ.

Ini bagian paling lucu. Muram lalu hampa. Si anak diam saja. Sinetron sekali. Kenapa tak ditambahi kalimat, “lalu hening dan burung gagak pun lewat, tiba-tiba saja ia berak di atas kelapa mereka berdua.” Ha ha ha

Rasa abai itu mulai memenuhi hasratku, tiap pagi melihat adikku yang selalu sesak. Tiap pagi saat ibu berhenti memasak. Tiap pagi sewaktu ayah mengepul-ngepulkan asap dari mulutnya dengan acuh. “Keluarga gila, keluarga sakit, keluarga asuh?!” Hatiku berkata rusuh.

\(-_-“)/

Hatiku selalu rusuh tiap memikirkan ini. Di ruang yang selalu kumasuki tiap pagi. Ruang yang mudah ditemukan untuk membasuh muka ataupun mandi. Ruang ini kusebut bilik merenung, tempatku untuk menyendiri.

Sudahlah, tak banyak yang dijelaskan di akhir ini kecuali kamar mandi tempat untuk merenung: bilik merenung. Oia, jika mau memuji: gaya tulisanmu yang berlarik AA-BB itu terpuji karena tak semua orang bisa mencari diksi yang konteks dan suku kata akhirannya sama, kalau yang lain sih ya klise.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Ironi sarkastik

  1. saya menikmati tulisanmu ini
    mengalir, dan sangat indah…
    yah walaupun ada beberapa kata yang ketika saya membacanya membuat saya sedit mengernyitkan kening

    mantaap…

    Posted by isil | 19 Oktober 2011, 2:19 PM
    • “lalu hening dan burung gagak pun lewat, tiba-tiba saja ia berak di atas kelapa mereka berdua.” –> pasti yang inikan? ini salah komentar sarkastik sesuai judulnya: ironi sarkastik.😎

      salam kenal isil. terima kasih telah berkunjung.😀

      Posted by upik | 19 Oktober 2011, 10:50 PM
  2. salam indonesia! semangat tinggi tingkatkan nasionalisme! jiwamerahputih membara!

    Posted by Jiwamerahputih | 19 Oktober 2011, 5:02 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: