Cengengesan Banalisme

Celana dalam dan sejawat

Sebelum indekost di lingkungan Margonda Raya Depok, saya sebelumnya menumpang tinggal di Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia Depok[1]. Bagi mahasiswa perantau dari luar pulau jawa bertampang malayu juga dangdut seperti saya, asrama adalah tempat yang pas untuk dijadikan modal awal mengenal dunia lebih luas. Pernyataan ini tak main-main saya kira. Sebabnya jelas, asrama itu laiknya miniatur dunia (khususnya Indonesia) yang sangat menakutkan juga mengagumkan. Mengerikan sekaligus mengharukan. Indah sekaligus suram.

Malam hari sampai subuh menjelang, pasti ada sekumpulan mahasiswa yang masih asik berdialog sesekali terbahak-bahak di kantin asrama. Suara orang-orang ini mampu menembus dinding kamar asrama yang dingin hingga penghuninya harus mengumpat. Sang satpam tak kan tinggal diam, langsung ambil ancang-ancang mengingatkan hingga pada tahap membubarkan.

Jika kita lihat lebih dalam dan cermat tentulah ini simbol pertarungan, tarik menarik kepentingan. Mahasiswa yang berdiskusi sampai malam buta ini adalah representasi pendukung kebebasan berekspresi menantang norma-norma yang mengikat. Sedang mahasiswa yang mengumpat karena terganggu adalah representasi orang yang berada di pihak status quo: malam adalah waktu untuk istirahat, tak usah banyak cakap. Dan tentunya satpam adalah representasi pemilik otoritas yang punya kuasa untuk mengatur, menata, mengakomodasi setiap kepentingan yang ada dalam kebijakan-kebijakan yang ditelurkan. Itu satu.

*****

Di samping itu, di asrama UI ini ada sebuah (satu-satunya) mini market yang jadi langganan mahasiswa untuk membeli kebutuhan hidup. Sayang penjaga sekaligus yang punya, memiliki wajah yang selalu ditekuk, cemberut, bete, kesal. Saya juga tak tahu wanita mana yang menelikung cintanya hingga ia seperti itu.

Wajah mungkin sudah begitu bisa dimaklumi, namun hal paling membuat ingin membanting candi Borobudur ke laut arktik adalah:

Saya: *menyodorkan belanjaan sambil sesekali mengintip-intip mbak-mbak lucu dari asrama  putri yang sedang berbelanja*

Penjaga: *dengan tampang kesal menempelkan alat mirip penyedot debu mini ke barcode belanjaan saya*

Layar harga: *berbunyi tit titit titit*

Penjaga: *masih dengan tampang kesal memasukkan belanjaa saya ke kresek yang tersedia*

Saya: *keenakan meratiin mbak-mbak lucu yg sedang bebelanja*

Layar harga: *masih berbunyi tit titit titit*

Penjaga: tiga belas ribu lima ratus rupiah mas.

Saya: *menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah*

Penjaga: *dengan tampang kesalnya* gak ada kembaliannya.

Saya: *dalam hati berteriak: salah gue, salah temen-temen gue, salah prisiden EsBeYe? Heh!*

Layar harga: *masih berbunyi tit titit titit*

Penjaga: *tetap dengan tampang kesalnya* Kalau mas mau, tukarin di kantin. *dengan nada datar*

Saya: *tersinggung disuruh-suruh lalu mengambil uang puluh ribu, mengumpat dalam hati, pergi dengan tampang bete*

Setelah pergi dari mini market tercela itu, saya masih tak habis pikir kok bisa penjual tak menyediakan uang kembalian. Malah menyuruh pelanggan untuk menukarkan uang kembalian. Sungguh pelayanan yang buruk.

Tapi hati kecil saya mengingatkan bahwa belanjaan saya tadi itu perlu untuk tugas kuliah yang akan dikumpulkan besok. Jika mau keluar asrama ke mini market, kedai dan sejenisnya butuh berjalan beberapa km atau naik ojek karena bis kuning telah berhenti beroperasi karena sudah di atas pukul 20.00 WIB.

Maka saya menyerah dan dengan dada yang dilapang-lapangkan menukar uang di kantin lalu kembali ke mini market itu dan dunia gonjang-ganjing.

Layar harga: *ternyata masih berbunyi tit, titit, titit*

Saya: Loh, belanjanya saya mana mas?

Penjaga: Sudah saya kembalikan ke tempatnya lagi. saya pikir gak jadi beli. *dengan nada datar berseliweran dengan tampang kesalnya*

Layar harga: *berbunyi tit, titit, titit*

Saya: *bete*

Layar harga: *berbunyi tit, titit, titit*

Saya: *tetap bete*

Layar harga: *tetap berbunyi tit, titit, titit*

Saya : *di kepala berseliweran wajah bete penjaga mini market*

Saya: *bete memuncak menjadi marah*

Layar harga: *masih tetap berbunyi tit, titit, titit*

Saya: DIAM KAU!!! *sambil menunjuk-nunjuk layar harga*

dan tanpa saya sadari mbak-mbak lucu yg saya curi-curi pandang tadi menatap saya iba ditutup dengan senyum geli. Akhirnya saya harus bergumam monopolistik di sektor privat bukan sesuatu yang baik kecuali ada intervensi negara.

*****

Nah yang ini lain lagi, tiap pagi di asrama putri (kompleks Asrama mahasiswa UI dibagi menjadi dua, wanita, pria dan perlu kode-kode tertentu untuk masuk ke dalamnya bagi berlainan jenis kelamin, kali lain saya akan bercerita tentang ini) pasti dengan anggun akan teronggok tahi kucing di depan pintu kamar. Hingga selorong gedung akan gaduh siapa yang buang tahi sembarangan. Eh, maksud saya kucing mana yang buang tahi sembarangan. Tak ada seorang pun yang tahu. Hanya kucing yang buang tahi itu yang tahu apa latar belakang hingga ia dengan segala hormat menaruh tahinya dengan cantik di depan pintu kamar.

Mau tak mau, suka tak suka ini adalah cermin sejarah, persekongkolan, konspirasi, kasus-kasus korupsi, kejahatan, pembunuhan yang tak pernah terungkap dengan jelas di Indonesia. Goib.

*****

Sebetulnya banyak hal lain tapi agaknya saya mulai lelah mengetik, memikirkan dan mencari-cari hal yang seru. Semoga yang terakhir ini memberikan inspirasi bagi kita semua:

Apa yang anda pikirkan ketika melihat seorang pria menggunakan celana dalam berenda? Dan kira-kira mengapa pria itu memakai celana dalam berenda? Mari kita telisik lebih dalam. Mari.

Celana dalam adalah wacana abadi sepanjang masa. Bayangkan saat fir’aun berkuasa di mesir sana, ia harus repot-repot memerintahkan rakyatnya mencari sutra terbaik tuk dibuat kain berlapis emas dan dijadikan celana dalam. Celana dalam bagi Fir’aun adalah penting karena baginya salah satu-satunya organ tubuh yang dianggap suci pada masa itu adalah alat kelamin. Pelindung alat kelamin tak pelak jadi suci juga. Maka sejak itu celana dalam ditempatkan di tempat yang terhormat.

Mengapa alat kelamin dianggap suci adalah pertanyaan penting yang perlu kita kaji. Pertama, alat kelamin adalah perwujudan diri dan identitas pria maupun wanita. Alat kelamin menunjukkan jenis kelamin. Ini alasan paling rasional mengapa jenis kelamin menjadi penting ditulis di KTP, ijazah, SIM, kartu pinjaman rental DVD sampai surat kematian. Saya curiga malaikat Rakib dan Atib yang mencatat amal baik dan buruk di buku catatannya itu tertulis jenis kelamin kita.

Kedua, alat kelamin pria adalah simbol keperkasaan dan kekuasaan. Sedang kelamin wanita adalah lambang keanggunan, kelembutan dan kesuburan. Ini biasa disebut oleh ilmuwan pengkaji simbol dengan istilah lingga dan yoni.

Ketiga, ketika lingga dan yoni bersatu padu maka terciptalah sebuah mahakarya agung: keseimbangan dunia, peradaban manusia. Karena sebuah peradaban manusia akan berlanjut lebih baik jika ada generasi penerus.

Kembali ke konteks celana dalam. Tak perlu jauh-jauh ke masa fir’aun, bagi saya celana dalam itu penting digunakan saat berangkat ke kampus. Celana dalam mempunyai fungsi yang strategis dalam menstabilkan, menjaga di posis kurva normal, agar ia tak leluasa bergerak kemana-mana. Anti-slip kalau kata iklan di tipi. Sip.

Nah di sini naasnya. Saya yang tinggal di asrama, setiap dua minggu sekali mencuci di hari sabtu termasuk celana dalam yang dipakai dua minggu belakangan. Jadi sudah lumrah di asrama pria setiap sabtu ahad berderet panjang-panjang di jemuran, celana dalam yang beragam warnanya, bentuknya, gayanya, serta mereknya. Itulah persatuan dan kesatuan dalam keberagaman. Indah kawan.

Ahad sore entah bagaimana ceritanya saya alpa mengangkut jemuran (baca: celana dalam). Hingga senin pagi ketika selesai mandi dan bersiap mengamankannya. Mata saya terbelalak, mulut menganga, handuk yang saya kenakan hampir lepas dari peraduannya. Ya tuhan, semua celana dalam yang saya cuci raib. Hilang tak berbekas. Keterlalaun!

Ini momen yang genting bagi saya, beberapa puluh menit lagi akan diadakan ujian semester di dalam kelas. Tak memakai celana dalam mengikuti ujian tentunya ada rasa tak nyaman dan sungguh ini mengganggu konsentrasi. Hal lain takkan sempat membeli celana dalam baru karena jam segitu mini market tercela itu belum buka. Tak mengikuti ujian dan terancam tak lulus mata kuliah karena celana dalam adalah ciri-ciri manusia durjana. Bagaimana ini jadinya?!

Detik berganti detik, menit berganti menit saya masih menatap jemuran yang kosong melompong. Tiba-tiba saja saya ingat sesuatu yang seharusnya tak saya ingat. Saya buru-buru masuk ke kamar membongkar tas yang saya bawa dari rumah. Dan saya menemukan celana dalam terakhir. Celana dalam berenda. celana dalam yang tak lain dan tak bukan adalah celana dalam emak saya yang salah taruh di tas ini dulu sebelum saya berangkat ke pulau Jawa. Astaga!

Maka saya mohon ampun pada Ibunda, Tuhan yang maha esa. Dengan membaca Bismillah saya kenakan jua celana dalam beranda. Alhamdulillah setelah pengumunaan nilai semester, nilai ujian saya diganjar A. Subhanallah ya.

Di setiap ada kemanuan di situ ada jalan. Di setiap celana dalam yang raib ada sebuah kenangan dan perjuangan untuk mengiklaskannya karena Inyaallah akan diganti dengan celana dalam yang lebih baik. Dan terakhir semoga pencuri celana dalam saya itu kembali ke jalan yang benar serta menjadi pencuri yang lebih profesional. Sekian dan terima kasih. Wassalam.


[1] gugel aja sih.😆

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

6 thoughts on “Celana dalam dan sejawat

  1. mantap bung topik, like this lah…
    terus menulis kawan

    Posted by Yudhi Yanto | 20 Oktober 2011, 9:46 PM
  2. itu yang celana dalam beneran lu pake Pik? Haha. Selalu menarik tulisan lu buat disimak pik. Bikin ketawa tapi mikir juga. Keep ur hand moving😉

    Posted by bengkelbudaya | 21 Oktober 2011, 8:03 AM
  3. Kirain karena gak ade, gak make…Eh#

    Posted by Januardi Imam Nugroho | 22 Oktober 2011, 10:15 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: